Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
34.


__ADS_3

ini hari ke dua Shalwa dan Fahmi tinggal berdua di rumah, Shalwa sudah siap membiasakan diri bersama suaminya jadi Shalwa berusaha untuk menerima berdekatan dengan sang suami. Shalwa bertekad tak akan memberi jarak lagi, Shalwa ingin pernikahannya dengan pria pilihan kakek menjadi ladang pahala untuknya serta membahagiakan orang-orang terdekatnya dan tak membebani untuk orang-orang yang dia sayangi yang telah pergi di panggil sang maha kuasa, yang telah berada di alam yang berbeda.


jadi hari ini Shalwa berusaha melayani sang suami dengan sebaik mungkin dan sebisanya, dari bangun Shalwa sudah menyiapkan baju untuk sang suami beribadah dan paginya sebelum kedapur Shalwa menyiapkan baju untuk di kenakan suaminya saat bekerja nanti, setelah itu Shalwa pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuknya bersama sang suami, dan untuk bersih-bersih rumah Shalwa berniat akan mengerjakannya nanti sepulang sekolah tapi tak di duga malah sang suami sudah mengerjakannya membantu bersih-bersih rumah dari menyapu hingga mengepel lantai.


walau Shalwa sudah melarangnya tapi Fahmi berkata "ini memang tugas suami sayang, justru istrilah yang membantu pekerjaan suami membersihkan rumah, jadi adek jangan melarang abang mengerjakan pekerjaan abang, abang akan mengerjakannya semampu abang, dan sisanya yang abang tak bisa adek tolong bantu abang ya." katanya sambil tersenyum manis pada sang istri. lantas Shalwa sangat senang mendengarnya dan membiarkan Fahmi dengan aktivitasnya dan dia sendiri sibuk dengan masakannya.


*


*


siang ini Shalwa masih berada di sekolah bersama dengan Alma yang terlihat murung, sepertinya dari kemaren sahabatnya itu tak bergairah seperti biasanya dan hanya menanggapi obrolan dengannya seadanya saja. sekarang mereka lagi istirahat.


"kamu itu kenapa sih Al, aku lihat dari kemaren kamu murung terus, ada masalah?" kata Shalwa selembut mungkin pada Alma, Shalwa tak tega melihat sahabatnya murung terus.


Alma hanya menanggapi dengan gelengan kepala saja sambil memaksakan senyum pada Shalwa, Alma tak ingin sahabatnya itu khawatir dengannya.


"terus kalau kamu gak kenapa-napa kenapa murung terus, gak biasanya kamu begini loh." kata Shalwa masih tak tenang karna Alma tak bercerita padanya. "kamu masih anggap aku sahabatkan? kalau ada masalah kamu bisa berbagi cerita sama aku, mudah-mudahan dengan bercerita beban kamu jadi sedikit berkurang." kata Shalwa lagi.


"aku gak papa kok Shal, cuma ke inget kak Ardi aja. aku gak sengaja denger obrolan kalian waktu sebelum ka Ardi berangkat kemaren. di sanakan memang ada perempuan yang di taksir ka Ardi, kamu ingetkan dulu ka Ardi pernah bilang setelah kamu nikah dia akan ngelamar perempuan itu. aku jadi lesu bila ingat itu, pupus sudah harapanku ingin jadi istrinya, rasanya juga sesak dadaku Shal bila membayangkan ka Ardi bersanding dengan yang lain." jawab Alma masih lesu.


"iya sih tapi belum tentukan perempuan itu mau, apalagi kak Ardi udah tua dan perempuan itukan sebaya kak Ilham, nah mungkin aja perempuan itu udah nikah sama yang lainkan?" hibur Shalwa.


"kamu itu Shal, jangan hibur aku kaya gitu nanti aku malah semakin berharap, lebih sakit nanti kalau gak kesampaian." jawab Alma sambil menghela nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"ya terus aku harus hibur kamu gimana?, aku ini gak pandai ngehibur orang. tapi walaupun kamu gak berjodoh sama ka Ardi, kamu akan tetap jadi saudara aku. jangan sedih ya, masih banyak pria yang ngantri ingin menjadikan sahabat aku ini bidadarinya. ingat jodoh itu sudah di gariskan oleh sang maha pembuat skenario." kata Shalwa sambil merangkul pundak sahabatny.


"iya kalau emang ka Ardi bukan jodoh aku, aku ikhlas kok, aku pasti akan ikut bahagia kalau kak Ardi bahagia." kata Alma dengan tulus sambil tersenyum.


"nah gitu dong itu baru sahabat aku, jangan sampai kamu di butakan oleh cinta yang belum tentu dia akan memihakmu." ucap Shalwa.


Alma lantas memeluk Shalwa "makasih kamu selalu jadi pengingat untukku. aku pasti akan selalu butuh kamu untuk aku bersandar, aku selalu tak leluasa bercerita bila pada keluargaku tapi aku akan selalu nyaman bila bercerita sama kamu Shal." kata Alma.


"kamu juga sering mengingatkan aku, kita itu manusia yang tak pernah luput dari salah jadi kita saling mengingatkan saja. bila kamu nyaman bercerita sama aku berceritalah jangan sungkan." kata Shalwa sambil mengusap punggung Alma.


tak lama belpun berbunyi pertanda waktu istirahat telah usai, jadi siswa-siswi di sekolah itu pada kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran yang di sampaikan para guru, begitu juga Shalwa dan Alma mereka beranjak dari kursi taman dan pergi ke kelas mereka.


*


*


Hanifah masuk ke kamar kakak sepupunya itu ingin melihat Ardi. "kakak kenapa gak keluar-keluar padahal lagi rame loh" kata Hanifah sambil duduk di kasur sebelah kakak sepupunya yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"lagi ingin di kamar aja." jawab Ardi tanpa menoleh ke arah orang yang menanya.


"ih kak Ardi ayo keluar antar Hani jalan-jalan.!" Hanifah menarik lengan baju Ardi pelan. "ayo dong kak..!"


"ajak kak ILham aja sama kakak kamu dek, kakak lagi malas keluar." kata Ardi masih tak mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.

__ADS_1


"emang kakak lagi sibuk apa sih?" Hanifah melongokan wajahnya melihat ponsel Ardi dan ternyata kakak sepupunya itu sedang sibuk main game.


"malah sibuk main aja, katanya mau nyamperin calon makmum, ayo Hani antar biar gak terlalu grogi." kata Hanifah, dia gak tau kalou Ardi tadi habis keluar karna baru ketemu sama kakak sepupunya yang satu ini sekarang. dari pagi Hanifah sibuk di dapur lihatin yang bikin kue-kue.


"udah tadi" jawab Ardi singkat.


"kalau udah kenapa jadi gak semangat gitu, bukannya dari berangkat ke sini kakak semangat banget karna mau ketemu,,, siapa sih namanya kakak belum kasih tau Hani deh kayanya?"


"Ratih." kata Ardi.


"namanya kak Ratih?" tanya Hanifah lagi. Ardi mengangguk membenarkan.


"nah kenapa kak Ardi jadi gak semangat gitu kalau udah ketemu sama Ratih." kata Hanifah.


"kakak gak ketemu sama Ratih cuma orang tuanya aja." kata Ardi.


"loh emang kak Ratihnya kemana?" tanya Hanifah.


"lagi di rumah suaminya." jawab Ardi pelan lalu merebahkan dirinya di kasur.


Hanifah mematung mendengar jawaban kakak sepupunya, dia masih mencerna kata-kata 'lagi di rumah suaminya' yang meluncur dari mulut kakak sepupuny itu.


"bisa Hani tinggalkan kakak sendiri, kakak ingin tidur." kata Ardi lagi.

__ADS_1


bagai orang di hipnotis Hanifah menganggukan kepalanya lalu berdiri dari duduknya dan pergi ke luar dari kamar itu dengan linglung. Hanifah menutup pintu kamar dan berjalan ke arah kamar yang di tempatinya bersama orang tuanya, sambil menggumamkan kata ' 'suaminya' sampai masuk ke kamar. sesampainya di kamar Hanifah mematung "ja..jadi perempuan yang di taksir oleh kak Ardi itu sudah punya suami." pekiknya terkejut setelah ucapan Ardi baru bisa di mengerti olehnya. untung saja sedang tidak ada orang di kamar itu.


Hanifah membalikan badannya ingin kembali ke kamar yang di tempati kakak sepupunya tapi teringat tadi Ardi menyuruhnya meninggalkannya sendiri karna ingin tidur jadi Hanifah membalikan badannya lagi dan merebahkan diri di kasur sambil mendesahkan nafasnya pelan. "semoga kak Ardi cepat di pertemukan dengan jodohnya." do'a Hanifah dengan tulus.


__ADS_2