Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
02.pernikahan


__ADS_3

setelah sampai di rumah sakit, hari sudah berganti malam. sehabis sholat magrib, Shalwa bersiap diruangan sebelah kamar kakek, karna kebetulan ruangan itu kosong, di bantu tante Arumi.


"uh,,, putriku begitu pangling, .." tante Arumi begitu takjub, melihat keponakan kecilnya memakai kebaya sangat manis dan imut, walau dengan riasan tipis dan sederhana Shalwa terlihat begitu cantik, tante Arumi terus memuji keponakan kecilnya.


"suamimu pasti takjub melihatmu sayang" ucap tante Arumi lagi.


Shalwa tersipu mendengar pujian tante nya. "tante jangan terus memujiku begitu, tante juga sangat cantik, tante selalu terlihat cantik setiap hari." Shalwa memeluk tantenya. " terimakasih tante, tante selalu merawat dan memberiku kasih sayang seorang ibu, Shalwa menyayangi tante, kak Ardi juga kakek, Shalwa tak mau berpisah dari kalian, Shalwa berharap kasih sayang kalian tak pernah berubah walau Shalwa sudah menikah nanti." ucapnya lirih sambil menahan tangis.


"shuttt,,, sayang kenapa kau bilang begitu, kami keluargamu sudah sepantasnya kami merawat dan menyayangimu, kamu adalah permata bagi kami sayang,,dan kami akan selalu menyayangimu, kau akan selalu jadi putri kecilku..." tante mengusap punggung Shalwa dengan sayang dan mengecupi puncak kepalanya.


tante Arumi melerai pelukannya dan menangkup pipi Shalwa lembut "kami ingin kamu selalu bahagia, kakek melakukan ini karna dia sayang padamu, kakek hanya ingin yang terbaik untukmu."


"iya tante, Shalwa ngerti, Shalwa akan bahagia bila kalian bahagia dan meridhoi setiap langkah Shalwa." Shalwa menunduk.


"tentu sayang kami meridhoi mu dan akan selalu mendukungmu." kata tante Arumi


Kakek, tante Arumi, dan Ardi adalah orang yang sangat disayangi Shalwa, dan mereka juga sangat menyayangi Shalwa, Kakek Ahmad adalah sosok ayah bagi Shalwa, tante Arumi adalah sosok ibu bagi Shalwa, dan Ardiansyah adalah sosok kakak bagi Shalwa.


maka dari itu Shalwa selalu mengharapkan kebahagiaan mereka, karna hanya mereka keluarga Shalwa, keluarga dari ayah nya, keluarga dari ibunya Shalwa tak tahu, karna ibunya tinggal di panti dari bayi.


...****************...


di ruangan kakek di rawat, Fahmi sudah rapi dengan memakai kemeja putih,dan jas abu yang senada dengan kebaya Shalwa, juga kedua orang tuanya.

__ADS_1


pak penghulu juga sudah datang, beserta saksi dari dua belah pihak sudah ada, dan juga dokter yang memantau kakek.


"Ardi,,, tolong panggil Shalwa dan mamahmu nak..!!" ucap kakek.


"baik kek." jawab Ardi sambil beranjak menuju ruangan yang di pakai Shalwa dan mamanya bersiap.


tok,,,tok,,,tok...


"mah,,, dek,,, apa sudah selesai." tanyanya dari luar dengan suara agak pelan karna takut mengganggu orang.


mama membuka pintu dan Shalwa mengikuti dari belakang "sudah," jawab mama. "apakah akan segera di mulai..?" tanyanya lagi.


"iya ma, kakek nyuruh Ardi jemput kalian,," jawabnya sambil tersenyum.


"sudah jangan goda adikmu lagi, dia sudah sangat gugup." kata tante Arumi mencubit anaknya gemas.


"justru karna itu biar gugupnya berkurang.." jawab Ardi sambil cengengesan.


Shalwa tersenyum "makasih kak." ucap nya.


"iya,,,yaudah ayo, mereka sudah nunggu lama nanti lumutan loh kasian." kata Ardi.


"iiih,,,kakak emang nya batu lumutan.."rajuk Shalwa.

__ADS_1


Ardi hanya cengengesan sambil menggamit tangan adiknya itu.


"udah_udah jangan bercanda terus, bukanya mereka sudah nunggu, ayo..!" lerai tante Arumi.


mereka berjalan keruangan kakek, Shalwa semakin gugup dan berkeringat dingin, Ardi yang merasakan itu semakin mengeratkan genggamannya, memberi semangat pada sang adik.


sebelum masuk kamar rawat kakek, Ardi berbisik pada shalwa, dan mengusap kepala adiknya sayang.


" tenanglah dek, rileks, tarik nafas dan hembuskan, agar gugupmu berkurang..!"


Shalwa menuruti intruksi kakaknya, tante Arumi juga menggenggam tangan shalwa lembut, memberi semangat.


setelah Shalwa agak tenang Ardi membuka pintu dan mereka masuk beriringan.


semua yang ada di dalam begitu takjub dan terpesona, apalagi Fahmi ia sampai tertegun, melihat Shalwa dalam balutan kebaya dan riasan tipis, karna Shalwa biasa tampil seadanya, tak pernah pakai riasan, jadi saat ini dia terlihat berbeda begitu manis, dan imut, dengan hidung bangir, bulu mata lentik, jadi saat tak pakai riasan pun Shalwa sudah cantik dan manis apalagi saat pakai riasan.


ibunya sampai menepuk bahu Fahmi yang terbengong melihat calon istrinya, sampai tak sadar Shalwa sudah berdiri di depannya, dan pak penghulu sudah mempersilahkan duduk.


Fahmi sampai gelagapan salah tingkah, dan mereka yang ada di sana mengulum senyum saja, kecuali Shalwa karna ia terus menunduk sedari masuk jadi tak sadar kelakuan calon suaminya itu.


lalu mereka duduk di sebelah kanan ranjang kakek, dan kakek juga duduk diranjangnya dengan selang infus ditangan kiri dan alat bantu pernafasan masih menempel di hidungnya, kakek ingin duduk di kursi tapi di cegah oleh Fahmi jadi ia duduk di ranjang saja.


dengan perasaan haru kakek mengulurkan tangannya pada Fahmi dan Fahmi dengan mantap menyambut tangan kakek. dengan di bimbing pak penghulu mereka mengucap iajab qabul dengan lantang.

__ADS_1


__ADS_2