
BINA INSANI INTERNASIONAL SCHOOL. Adalah sebuah sekolah swasta jenjang menengah pertama dan menengah atas yang berada di satu atap bersama.
Sania yang berasal dari keluarga sederhana mungkin terdengar mustahil bisa memasuki sekolah dengan biaya pendidikan yang tinggi. Namun ia pernah mengikuti kompetisi sains yang diadakan sekolah bergengsi ini dan keluar menjadi juara sehingga ia berkesempatan untuk bersekolah disana tanpa harus membayar biaya apapun sampai nanti ia lulus.
Sebuah prestasi yang membanggakan bagi Sandra dan juga Sania bahkan sekarang ia yang sudah duduk dikelas 3 menjabat sebagai ketua osis untuk dua periode dan itu adalah hal pertama kali dalam sejarah organisasi sekolah tersebut.
Hari itu adalah hari penyambutan siswa dan siswi tahun ajaran baru untuk tingkat SMP dan SMA. Diadakan di aula Sania yang sejak pagi sibuk mempersiapkan segalanya dengan teman-teman sesama anggota OSIS akhirnya bisa beristirahat sejenak sebelum ia memberikan sambutan dari perwakilan organisasi sekolah.
Selama menunggu Sania yang duduk didepan berjejer bersama kepala sekolah dan beberapa guru melihat satu per satu siswa dari tingkat pertama untuk mencari Ezra. Ia yang bertubuh tinggi bisa dengan cepat Sania temukan saat mata mereka bertemu Ezra yang ternyata terus melihat kearahnya melambaikan tangan dengan senyum lebar. Sania hanya membalas senyum tipis karena ia harus menjaga wibawanya didepan semua orang.
Sania cukup terkejut saat Ezra bilang ia akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Setahunya Ezra memang hidup berkecukupan meskipun ia tidak pernah tahu pekerjaan orang tuanya karena selama bertahun-tahun tidak ada yang pernah bertemu dengan orang tua Ezra dan ia hanya mengenal bibi pembantunya saja.
Beberapa bulan kemudian.
Sania yang terkenal sebagai ketua osis yang tegas banyak dikagumi oleh temannya bahkan guru-gurunya. Semenjak ia yang memimpin OSIS hampir semua tata tertib siswa ia benahi sehingga tidak lagi banyak siswa yang berani melanggarnya.
__ADS_1
Namun tidak semua dari mereka menyukai cara kerjanya ada sebagian siswa yang sering kedapatan melanggar peraturan maka dari itu Sania sering berkeliling ke setiap gedung saat jam pelajaran kosong.
Dibelakang gedung olahraga beberapa siswa senior sedang merokok dan membicarakan Sania si ketua osis ambisius yang tidak mereka sukai.
" Si ketos itu semakin menyebalkan, ya. Dia terlihat sekali ingin dipuji oleh guru."
" Itu sudah pasti. Dia itu hanya anak beasiswa kalau dia tidak kelihatan kerja mungkin saja dia akan disuruh membayar biaya selama sekolah disini."
" Hahaha.. kau benar. Aku sedikit kasihan juga anak miskin sepertinya kalau bukan mengandalkan otak memangnya bisa apa makanya dia bersedia menjadi pesuruh para guru dengan menjadi ketua osis dua periode. Kalian bayangkan itu."
Suara tertawa tiga orang itu terdengar renyah namun siapa yang menyangka bahwa orang yang sedang mereka bicarakan berada dibalik tembok mendengarkan sejak awal.
" Heh anak-anak orang kaya. Kalian itu apa tidak memikirkan perasaan orang tua kalian."
" Sialan..kau mengagetkan saja."
Sania lalu berjalan sambil melipat kedua tangannya mendekat pada para siswa itu.
__ADS_1
" Orang tua kalian membayar mahal sekolah ini tapi anaknya bahkan tidak bisa membaca peraturan dengan baik. DILARANG MEROKOK DILINGKUNGAN SEKOLAH. Apa itu tidak jelas untuk kalian atau mungkin aku harus membuat banner yang lebih besar agar terlihat."
" Ciih.. banyak juga bicaramu. Lalu kau mau apa? melaporkan kami? Merokok bukan kejahatan besar semuanya akan selesai hanya dengan meminta maaf, kan?."
Sania tertawa meledek pada ketiga orang itu.
" Kalian sepertinya masih belum mengenalku, ya. Yang ketahuan melanggar olehku akan dijemur di lapangan, berlari 10 putaran mengelilingi semua gedung dan orang tua kalian akan dipanggil untuk persetujuan skors selama 1 minggu."
Ketiga siswa itu termenung mendengar hal mengerikan dari Sania. Bahkan salah satu dari mereka buru-buru melemparkan rokok ditangannya dan merapikan baju seragamnya yang berantakan.
" Sialan... memangnya kau itu siapa? anak miskin saja banyak bertingkah. Kau itu tidak lebih dari penjilat Sania. Kau lihat saja apa yang bisa aku lakukan dengan uang orang tuaku. Aku pastikan kau akan dapat pelajaran berharga karena meremehkan kami."
Sania tersenyum miring, ia lalu menaikan kacamatanya dengan jari tengahnya.
" Silahkan. Aku tunggu."
Ketiga siswa itu pergi meninggalkannya yang masih berdiri. Sepeninggal mereka Sania mengusap dadanya karena dalam hatinya ia pun tak tenang menghadapi para siswa itu yang sudah terkenal sering melanggar peraturan sekolah.
__ADS_1
Ia berkali-kali berhadapan dengannya, Bagas sang ketua genk itu yang terkenal berkuasa karena orang tuanya adalah komite sekolah. Namun setiap kali melanggar Bagas sering lolos karena para guru segan terhadapnya dan kini Sania secara terang-terangan malah menantangnya.