Shining Sunny

Shining Sunny
Surat Dari Alina


__ADS_3

Semenjak kematian Alina, Sania menjadi sangat pemurung. Dokter Marta sebagai teman dekatnya bahkan tidak berani mengganggu waktunya meskipun Sania tidak sedang bekerja, ia memilih untuk memberinya waktu untuk menenangkan dirinya.


" Ssst.. Dokter Sania kasihan sekali, ya. Dia sudah dipercaya untuk menangani keponakan profesor Ryan tapi ternyata dia tidak berhasil."


" Kupikir karena dia anak emas profesor Ryan dia sehebat seperti yang orang-orang bilang."


" Bagaimanapun dia kan belum mendapatkan gelarnya secara resmi, kenapa profesor Ryan terlalu berharap darinya."


Braak..


Dokter Marta menggebrak meja saat beberapa dokter yang sedang makan siang itu berkumpul sambil bergosip tentang Sania.


" Heh.. Kalian bisa tidak bicaranya sedikit lebih pelan. Aku bahkan yang berada jauh disana bisa mencium aroma tidak sedap dari sini dan membuat selera makanku hilang." dokter Marta menegur dengan wajah garangnya.


" Dokter Marta, apa sih masalahmu dengan kami?."


" Kalian yang punya masalah apa dengan Sania? Harusnya kalian bersimpati padanya tapi malah membicarakannya dibelakang. Kalian memang lebih senior darinya tapi jangan merendahkannya seperti itu hanya karena profesor Ryan lebih menyukai caranya bekerja daripada kalian."


Dokter Marta berbalik dan meninggalkan para dokter tersebut setelah membuat keributan di cafetaria pusat kejiwaan. Sania yang baru masuk untuk makan siang ternyata mendengar apa yang ia katakan dan hal itu membuatnya sangat terharu karena diantara banyaknya orang yang sering bergosip tentangnya, dokter Marta selalu menjadi satu-satunya orang yang berani membelanya.


" Senior.. tunggu."


Sania mengejar Marta yang sedang berjalan di lorong.


" Oh, Sania."


" Aku.. aku minta maaf karena mengabaikanmu beberapa hari ini. Hanya saja perasaanku sedang kacau dan aku tidak ingin kau menjadi pelampiasanku."


Brug.


Dokter Marta spontan memeluk Sania.


" Dasar gadis jahat. Kau pikir apa gunanya seorang teman kalau kau bahkan tidak bisa membagi kesedihanmu. Aku khawatir sekali tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saat kau kesulitan."

__ADS_1


Pandangan mata Sania mulai memburam. Padahal ia sudah berjanji tidak akan menangisi kejadian itu lagi namun karena dokter Marta yang menunjukkan ketulusan nya sebagai seorang sahabat ia akhirnya tak bisa lagi menahan air matanya saking terharunya karena ternyata ia tak sendiri selalu ada orang-orang yang tetap berada di pihaknya seberapapun ia melakukan kesalahan menurutnya.


" Dokter Marta... Huhuhu.."


Sania menangis sesenggukan dalam pelukan Marta sembari ia terus mengusap-usap punggung Sania.


" Jangan berpura-pura tegar. Saat kau ingin menangis, carilah aku."


Sania tak mampu berkata apapun ia hanya bisa mengangguk. Karena jam makan siang masih lama keduanya memutuskan untuk pergi ke atap bersama dan menikmati kopi sebelum kembali bekerja. Mata Sania masih sembab karena ia menangis lama sekali namun ia akhirnya lega karena bisa melepaskan rasa sesak didadanya untuk yang kesekian kalinya.


" Profesor Ryan mengambil keputusan yang tepat. Diantara kami memang tidak ada yang sebaik dirimu menangani Alina. Meskipun pada akhirnya dia memilih mengambil keputusan yang tidak kita harapkan tapi selama menjalani perawatan denganmu, Alina menunjukkan kemajuan dan semua orang tau itu."


" Iya aku tahu. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak pada profesor Ryan yang sudah mempercayakannya padaku."


Alina mengusap wajahnya dengan masih merasakan perasaan mengganjal.


" Sa-Sania.. profesor Ryan dan ibu Alina sedang menuju kemari."


Sania menoleh ke arah yang dimaksud oleh Marta, ia refleks berdiri dengan gugup saat kedua orang itu mendekat pada mereka.


" I-Iya. Salam kenal saya Sania."


Sania menjabat tangan Ryna dengan senyum canggung.


" Maafkan saya dokter Sania karena baru bisa menyapa anda sekarang dan saya malah menemui anda secara mendadak seperti ini."


" Tidak apa-apa. Tapi kalau anda sampai menemui saya seperti ini pasti ada sesuatu yang penting."


" Iya, apa kita bisa bicara empat mata?."


Ryna memberi isyarat pada profesor Ryan dan Marta pun mengerti akan hal itu jadi ia pun mengekor pada profesor Ryan untuk berpindah tempat dan memberikan ruang pada kedua orang itu.


" Dokter Sania, saya dengar selama menjalani perawatan denganmu Alina banyak kemajuan. Saya belum mengucapkan terimakasih untuk hal itu."

__ADS_1


" Anda jangan berterima kasih pada saya, karena saya bahkan tidak bisa menolongnya."


Ryna lalu meraih tangan Sania dan ia genggam di pangkuannya.


" Saya sangat tahu anda juga pasti sangat terpukul sama halnya dengan kami keluarganya. Tapi saya harap anda tidak menyalahkan diri anda sendiri karena semua yang terjadi adalah pilihan Alina."


" Iya, nyonya. Terimakasih karena anda sudah mau berbesar hati menerima kekurangan saya sebagai dokter Alina."


Ryna menghela nafas panjang. Matanya menerawang dan dapat Sania lihat gurat kesedihan masih sangat jelas terpancar diwajahnya.


" Saya pun baru menyadarinya setelah Alina pergi bahwa cara kami menyayanginya sudah salah sejak awal. Jika ada yang harus disalahkan tentu saja itu adalah saya karena saya penyebab dia mengalami gangguan mentalnya. Saya pikir selama ini saya sudah melakukan yang terbaik untuknya tapi ternyata yang saya lakukan hanya menyakitinya. Saya terlalu bodoh karena mau diperlakukan semena-mena oleh papa Alina, saya pikir selama saya bertahan saya akan dapat melindunginya namun pada akhirnya rasa bersalahnya lah yang merenggut nyawanya. Kalau saja saya melawan saat itu mungkin saja sekarang dia masih ada bersamaku."


Sania menitikkan air matanya mendengar penuturan mama Alina.


" Tapi sekarang mata saya sudah terbuka lebar, saya sudah kehilangan satu-satunya hal yang ingin saya lindungi. Keberanian Alina memberi saya kekuatan jadi saya akan bercerai dari suami saya dan hidup menjadi yang saya inginkan seperti yang selalu Alina inginkan selama ini."


Ryna tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca. Sania sungguh tak menyangka bahwa mama Alina begitu tegar dan kuat selama ini menahan segala rasa sakitnya hanya demi Alina. Dan begitupun Alina ia bahkan mengorbankan nyawanya hanya agar membuat orang tuanya sadar akan kesalahannya, sungguh anak yang sangat berani.


" Saya sangat prihatin dengan yang anda alami selama ini. Saya pun baru mengetahuinya belum lama dari gambar-gambar dalam buku Alina."


" Terimakasih dan juga, Alina meninggalkan sebuah surat untukmu."


Ryna mengeluarkan sebuah kertas dari dalam mantelnya. Ia pun akhirnya berpamitan setelah mengatakan semua hal yang ingin ia katakan pada Sania.


Dear dokter Sania,


Saat kau membaca surat ini aku mungkin sudah berada ditempat indah dan menyenangkan. Dokter, terimakasih karena sudah membuatku sadar bahwa aku tidak bersalah. Terimakasih juga karena selalu mengatakan aku cukup baik dan selalu menjadi pendengar yang baik. Sekarang aku bisa pergi dengan tanpa beban dan semua ini berkatmu. Maafkan aku karena harus pergi dengan cara seperti ini tapi dokter jangan membenciku, ya..


Dokter mungkin akan bersedih dan menyalahkan dirimu sendiri tapi kuharap kau memahami keputusan yang ku buat ini...


Kalau saja aku bisa mengenalmu lebih awal mungkin aku akan sangat senang karena memiliki teman, kakak dan dokter yang hebat sepertimu.


Alina.

__ADS_1


Sania tersenyum namun tetap air matanya yang lebih dulu keluar. Ia lalu membalik kertas tersebut dan dihalaman belakangnya terdapat wajah Sania yang digambar oleh Alina. Sania terharu karena di detik-detik terakhir hidupnya ternyata Alina masih memikirkannya. Entah mengapa hatinya kini terasa hangat dan bebannya seperti hilang begitu saja setelah membaca surat dari Alina.


Alina.. Semoga kau berbahagia disana.


__ADS_2