
Sesampainya Sania di Indonesia ia tidak ada waktu untuk beristirahat. Karena tidak memiliki kerabat atau teman yang bisa ditumpangi di Jakarta ia harus kesana kemari mencari tempat tinggal sementara pada hari itu juga.
Sania mulai kelelahan karena ia belum juga mendapatkannya sejak sore. Koper besar miliknya pun sampai kehilangan satu rodanya karena ia terus menyeretnya selama berjam-jam dijalanan yang terkadang rusak.
" Ah, benar-benar deh."
Sania menghela nafas berat dengan keringat yang bercucuran saat ia harus mengangkat kopernya yang berat.
" Sebenarnya ini daerah apa?. Kata orang disekitar sini ada penginapan."
Sania celingak-celinguk melihat sekitarnya karena ia juga tak menemukan satu orang pun dijalanan sepi itu. Entah bagaimana ia bisa sampai disana namun jalan yang ditemuinya malah jalan buntu.
" Ya Tuhan.. apa aku salah jalan?."
Sania mulai putus asa saat ia sadar harus berputar kembali ke jalan utama.
" Tenang, kau kuat Sania. Hanya untuk malam ini saja kumohon."
Dengan nafas tersengal Sania melanjutkan langkahnya yang terhuyung dengan kopernya yang ia jinjing. Namun belum ia sampai ke jalan utama ada seseorang dari belakang yang merampas koper yang dibawanya.
" Hei..pencuri.."
Pria yang membawa koper Sania terus berlari namun Sania tak menyerah begitu saja iapun mengejarnya.
__ADS_1
Pencuri itu masuk ke gang kecil, Sania yang mengejar dari belakang tak melepaskan targetnya.
" Sial.. aku kelelahan.."
Sania harus berhenti ditengah pengejarannya namun ia masih juga tak menyerah ia menambah kecepatannya hingga pencuri itu bisa ia lihat kembali yang kini memasuki sebuah pasar.
Kondisi pasar yang sepi karena pertokoan disana hampir semuanya tutup semakin menyulitkan Sania untuk meminta bantuan.
" Hei.. berhenti.."
Hanya tinggal sedikit lagi jarak yang tertinggal diantara Sania dan pencuri tiba-tiba seseorang muncul entah darimana menendang kaki si pencuri hingga ia terjatuh dan isi koper Sania pun berhamburan.
Sania berhenti mendadak karena terkejut. Si pencuri itupun melarikan diri karena takut tertangkap oleh orang yang menghentikan aksinya.
Karena hampir tengah malam Sania tidak melihat wajah penyelamatnya dengan jelas terlebih ia menutup kepalanya dengan hoodie hitamnya.
Laki-laki itu berjongkok dan membantu Sania mengambilkan beberapa barang lain miliknya.
" Terimakasih sebelumnya untuk bantuanmu."
Laki-laki itu tidak menjawab namun ia hanya termenung saat melihat sebuah gantungan boneka milik Sania yang ia pungut.
Sania hampir selesai mengemas semua barangnya dan saat sadar pria itu sudah berdiri didepannya dengan masih memegangi gantungan bonekanya.
__ADS_1
" Kak Sani.."
Deg. Sania terkejut karena suara berat laki-laki itu menyebutkan namanya.
" Si-siapa anda?."
Laki-laki itu membuka hoodie nya menampilkan rambut yang sedikit gondrong dan ia biarkan berantakan. Terdapat beberapa tindik di telinganya dan beberapa luka diwajahnya seperti lebam dan goresan kecil. Laki-laki yang terlihat baru memasuki usia 20an itu tersenyum tipis pada Sania namun ia benar-benar tidak mengenalinya.
" Ini aku. Ezra."
Kaki Sania tiba-tiba kehilangan kekuatannya. Ia yang sedang berjongkok jatuh terduduk setelah mendengar nama itu.
Perasaannya menjadi tak karuan karena ia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan anak laki-laki dari masa kecilnya.
" Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa ada disini?."
Sania yang tak mempercayainya menutup mulutnya.
" Ceritanya panjang. Kau mau ke rumahku dulu? sepertinya kakak juga sedang kesulitan."
pungkas Ezra.
Hallo readers.. author hanya ingin mengingatkan kembali bahwa semua tokoh, latar belakang, dan tempat hanya buah pemikiran author dan tidak ada hubungannya dengan yang terjadi sebenarnya baik saat ini ataupun waktu lain yang menjadi latar waktu cerita ini.
__ADS_1
Meskipun beberapa kota di Indonesia akan author sebutkan sebagai latar belakang tempat namun itu tidak merubah kearifan lokal dan budaya setempat yang ada. Mohon kebijakan dan pengertian dari semuanya..
Happy Reading ❤️❤️