Shining Sunny

Shining Sunny
Masa SMA (3)


__ADS_3

Keesokan harinya.


" Berita panggilan kepada siswa kelas 1 SMP Ezra Praditya dan ketua osis Sania Pratista ditunggu segera diruang komite sekolah."


Sebuah pengumuman dari speaker untuk pertama kalinya terdengar mengerikan bagi Sania. Ia yang sedang belajar dikelasnya meminta ijin pada gurunya untuk memenuhi panggilan tersebut.


Sania yang berjalan menuju gedung komite terus berdoa berharap bukan hal buruk yang menantinya.


Saat sampai ternyata Ezra sudah lebih dulu disana. Saat melihat ke arah yang berlawanan Bagas, dan kedua temannya pun sudah menunggunya.


Sania sudah merasakan ada yang tidak beres didalam ruangan itu bahkan sudah hadir ketua komite sekolah yang merupakan ibu dari Bagas.


" Ini Sania Pratista ketua osis, Bu."


Seorang guru BK memperkenalkan Sania pada ketua komite yang bernama Amira.


Amira lalu dengan angkuh bangun dari duduknya dan memberi tatapan yang mengintimidasi pada Sania.


" Bisakah saya bicara pada anak-anak ini saja? Bapak silahkan tunggu diluar saya hanya akan memberi sedikit nasihat untuk mereka."


Guru BK itu mundur dengan ragu namun karena jabatan Amira ia tidak bisa melakukan apa-apa apalagi membantahnya.


" Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi.


Kau lihat mereka, ketiga siswa yang mana satunya adalah anak kandung saya mendapatkan luka-luka dari perbuatannya."

__ADS_1


Amira menunjuk pada Ezra.


" Itu bukan salahnya mereka yang memulai duluan." Sania berbicara dengan mata bergetar.


" Oh, jadi kalau begitu saya yang salah menyimpulkan, ya."


Amira memasang wajah pura-pura bersalah. Namun Sania yang melihat hal itu hanya bisa mengepalkan tangannya.


" Sebenarnya ini termasuk pelanggaran berat, kau sendiri pasti sudah tahu hal itu sebagai ketua osis. Jadi sebelum masalah ini berlanjut keluar apakah kita bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan saat ini juga."


" Apa anda tahu apa yang sudah anak ibu lakukan pada saya?. Jelas-jelas itu tindakan kriminal tapi anda berusaha menutupinya dengan mengintimidasi kami berdua."


Amira terkejut dengan kepekaan Sania terhadap niat tersembunyi nya.


" Pantas saja kau bisa menjabat ketua osis selama dua kali berturut-turut ternyata kau pintar menyimpulkan situasi, ya. Baiklah begini saja. Bagaimana kalau kita melupakan semua yang terjadi pada kalian, aku tidak akan mempermasalahkan anak-anak yang terluka karena bocah itu dan kau jaga rahasia ini atau kau sendiri yang akan malu."


" Yang benar itu seharusnya anda meminta maaf pada saya karena putra anda sudah melecehkan saya. Bukan seperti ini."


" Melecehkan?? nak, hati-hati saat mengatakan hal itu karena kalau ada yang mendengar urusannya akan rumit. Coba kau pikir, kalau berita itu tersebar apa komite sekolah akan diam saja? lalu apa imbasnya untuk kalian."


Amira lalu mendekat pada telinga Sania.


" Seorang gadis mendatangi asrama laki-laki pada malam hari. Menurutmu cerita mana yang lebih masuk akal dan mereka percayai saat kau bilang anakku melecehkan mu?."


Sania semakin tak bisa menahan tangisnya ia seperti dipermalukan berkali-kali oleh mereka.

__ADS_1


" Kelulusanmu tinggal didepan mata apa jadinya kalau kau harus dikeluarkan dari sini. Sayang sekali kan. Dan apa yang akan terjadi pada anak kelas 1 itu kau sendiri sudah tahu."


Sania kini sudah pasrah dengan yang terjadi padanya. Kehilangan harga dirinya ia sudah tak peduli tapi jika harus menyeret Ezra ia pastinya akan sangat merasa bersalah padanya.


" Baiklah.. sesuai perkataan anda saya akan melakukannya."


" Kak.."


Ezra menyela namun Sania menahan lengannya.


" Dan kau Bagas, kau ingin aku berlutut di hadapanmu, kan? Asalkan kau tidak lagi melibatkan Ezra dan membuat masalah aku akan berlutut sekarang juga."


Sania lalu bersimpuh dihadapan Bagas dan teman-temannya dengan tangisan pilu namun anehnya Bagas hanya terdiam. Berbeda dengan Amira ia tersenyum puas dengan penuh kemenangan, ternyata tidak sulit meyakinkan Sania yang terkenal tegas dan berpendirian teguh begitu pikirnya.


Sania dan Ezra keluar terlebih dulu setelah selesai dengan pembicaraan mereka. Ezra yang terus mengekor pada Sania bahkan membuat Sania sedikit tidak nyaman.


Sania berhenti di tangga darurat dan Ezra mencoba menghiburnya dengan memberinya sebuah sapu tangan.


" Kak Sani.. maafkan aku kalau saja aku lebih besar dari mereka aku pasti akan melindungi kakak."


Sania tersenyum ditengah-tengah tangisnya lalu mengusap kepala Ezra.


" Kau sudah besar, ya. Tapi untuk sekarang biar kakak saja yang melindungi mu tapi kakak minta tolong agar kau merahasiakan ini dari semua orang termasuk ibuku."


" Iya aku mengerti."

__ADS_1


" Kalau begitu apa aku boleh sendiri dulu disini?. Kau kembalilah ke kelasmu."


Ezra mengangguk dengan sedih. Sebenarnya ia ingin terus menemani Sania saat itu namun ia berusaha untuk mengerti.


__ADS_2