
Sania berjalan santai menuju rumah sakit yang akan menjadi tempat ia bekerja. Seperti perkataan Ezra sepanjang yang dilewatinya ternyata adalah kawasan elit ditengah kota yang sibuk.
Pantas saja rumah sakit itu cukup populer karena kebanyakan pasiennya pun adalah orang-orang kalangan atas.
Sania membelalakkan matanya saat sampai didepan gedung tersebut. Luasnya yang beberapa hektare menyatu dengan universitas yang juga dikenal sebagai kampus kedokteran terbaik selama beberapa tahun terakhir. Tingkat kesulitan tinggi untuk bisa memasuki kampus ini bisa menjamin bahwa mahasiswa yang lolos bukanlah orang-orang sembarangan.
Sania mengeratkan genggamannya pada tas yang dibawanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pun pasti akan mampu bergabung disana.
Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini pasti berkah dari semua kerja kerasku.
.......
Sania berendam di bathtub untuk melepas lelahnya setelah seharian ia menjalani beberapa tes dan wawancara agar bisa bergabung dengan tim dokter di pusat kejiwaan rumah sakit Darma.
Terkadang Sania terkekeh dan tertawa sendiri saat mengingat semuanya berjalan baik dan ia pun diterima sebagai salah satu dokter disana.
" Ya ampun senangnya..."
Sania tak hentinya mengucap syukur atas pencapaiannya itu namun ada banyak hal yang harus ia pikirkan juga kedepannya.
" Baiklah.. aku akan fokus menjalani pelatihan dan bimbingan terlebih dahulu baru setelah itu kita pikirkan masalah tempat tinggal. Ayo Sania tebalkan mukamu dulu untuk sementara lagipula ini permintaan Ezra."
Sania berbicara sendiri dengan masih duduk meringkuk didalam bathtub itu. Namun suara oven dari dapur mengejutkannya hingga ia pun buru-buru mengambil handuk dan keluar dari kamarnya begitu saja.
" Huuh.. untung saja tidak gosong."
Sania lupa bahwa sebelum mandi ia memanggang lasagna untuk makan malam namun karena keasikan mandi ia sampai lupa dengan hal itu.
Brak. Suara benda jatuh membuat Sania menoleh dan ternyata itu adalah Ezra yang berada di tangga dengan botol minum yang tidak sengaja ia jatuhkan.
Mereka saling beradu pandang untuk beberapa saat. Sania yang sadar bahwa ia hanya memakai sehelai handuk yang membalut tubuhnya menjadi panik dan segera berlari menuju kamarnya.
Kenapa Ezra ada dirumah.
Karena tidak hati-hati dan ada tetesan air dari kakinya yang basah Sania malah terpeleset dan jatuh telentang.
" Aakh.."
Sekuat tenaga Sania memegangi handuknya agar tidak terlepas dari tubuhnya ia ingin sekali kabur dan menangis karena malu berkali-kali dihadapan Ezra namun untuk sejenak ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
" Kak, kau baik-baik saja?."
" Ya. Tidak apa-apa. Kau pergilah supaya aku bisa bangun."
Ezra menghela nafas lega namun sebelum itu ia mengambil sebuah selimut dari sofa dan membungkus tubuh Sania hingga hanya menyisakan kepalanya.
Ezra lalu menggendongnya tanpa aba-aba membuat Sania memekik karena kaget.
" Aku bisa sendiri. Turunkan aku.."
" Diam kalau kakak tidak mau jatuh."
Ezra dengan wajah datar tetap membawa Sania menuju kamarnya. Sania yang memperhatikan wajah Ezra dari dekat baru menyadari ia sudah semakin dewasa karena memiliki garis rahang yang tegas.
Untuk kesekian kalinya ia merasa bahwa Ezra memang sudah menjelma menjadi orang lain yang asing baginya.
" Kau yakin tidak ada yang sakit, kak?."
" Tidak, aku hanya kaget saja."
" Baiklah, aku keluar sekarang."
" Kenapa aku ceroboh sekali. Apa yang akan dipikirkan anak itu."
Sania yang menyadari kecerobohannya hanya bisa memaki dirinya sendiri dalam hati namun itu tidak ada gunanya karena setelah selesai berpakaian pun Sania harus tetap menemui Ezra.
Saat Sania keluar dari kamarnya Ezra ternyata sedang menyiapkan peralatan makan.
Lasagna yang tadi dibuatkan Sania ia tata ke dalam piring mereka. Melihat Ezra yang bersikap biasa saja Sania pun menjadi lebih tenang ia menghampirinya dan duduk bersebrangan dengannya.
" Ini pertama kalinya sejak 8 tahun kita makan bersama lagi."
" Ah, iya kau benar." jawab Sania canggung.
" Bagaimana kabar kakak selama disana? aku bahkan tidak bisa menghubungimu selama 8 tahun ini."
Lanjut Ezra namun matanya tertuju pada makanan didepannya.
" B-Baik. Aku baik."
__ADS_1
Sania menunduk karena tak menyangka Ezra akan membuat suasana diantara mereka berubah canggung.
" Syukurlah kalau begitu."
" Lalu kau?."
Ezra terdiam saat mendengar pertanyaan Sania. Ia menatapnya yang juga sedang menatap dirinya untuk mendapatkan jawaban.
" Banyak hal yang terjadi padaku sejak kau pergi. Aku bahkan ingin melupakannya jika bisa karena hal-hal yang terjadi padaku terlalu menyesakkan jika diingat."
Sania mengerutkan dahinya mendengar ucapan ambigu Ezra. Setiap katanya selalu tersirat kesedihan dan ekspresinya terlihat marah.
Rasa bersalahnya kembali muncul mengingat kenangan terakhirnya bersama Ezra yang buruk.
" Ezra, aku minta maaf saat itu..aku.."
" Kakak tidak perlu merasa bersalah padaku karena itu juga bukan sepenuhnya kesalahanmu. Tapi karena janji yang ku buat untukmu aku akhirnya bisa bertahan sampai hari ini."
" Janji?."
" Janji untuk kembali pada keluargaku dan sekarang disinilah aku berada sampai saat ini."
Sania hampir tak bisa berkata-kata karena ucapan Ezra. Apa mungkin kehidupan yang dijalaninya selama ini tidak seperti yang ia harapkan setelah meninggalkannya.
Apa boleh ia masih menerima kebaikannya setelah menghindarinya selama bertahun-tahun tanpa mengetahui kabarnya. Perubahan dalam diri Ezra yang tidak pernah ia sangka apa mungkin karena rasa kecewanya pada Sania.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepalanya hingga Sania tidak mampu lagi menahan rasa bersalahnya karena sudah memperlakukan Ezra tanpa mempedulikan perasaannya.
" Hiks.."
" Kak, kau menangis?."
Ezra menatap Sania yang terisak dengan kebingungan.
" Ezra, bagaimana caranya agar aku bisa menebus kesalahanku padamu?."
Ezra masih terdiam dengan wajah datarnya. Sania bahkan tidak mampu menatap matanya.
" Jangan mengatakan hal itu atau kakak akan menyesal saat tahu apa yang kuinginkan agar kita impas."
__ADS_1
Ezra menyunggingkan senyum miring dan kembali menyuap makanannya seolah itu bukan apa-apa. Berbeda dengan Sania ia terus memikirkan perkataan Ezra saat itu.