
Sania sampai disebuah rumah kecil yang ia sewa dipinggiran kota. Beruntung tempat tinggal itu ia dapatkan setelah dibantu oleh salah satu rekan kerjanya yang kebetulan adalah kerabat pemilik rumah. Rumah itu tampak cukup nyaman untuk yang hidup sendirian dan yang paling penting jarak dari sana menuju rumah sakit pun tidak terlalu memakan waktu lama, hanya sekitar 20 menit perjalanan dengan bis umum.
Sebelum memasuki rumah, Sania memutuskan untuk duduk sejenak di teras rumahnya sambil memikirkan percakapannya dengan Ezra tadi sore.
Dalam hati kecilnya Sania tak bersungguh-sungguh mengatakan semua itu padanya. Namun lagi-lagi keadaannya memaksanya untuk kembali menyakiti Ezra dan mendorongnya menjauh sekali lagi darinya.
Ia menyembunyikan wajahnya di lututnya karena air mata Sania mulai berjatuhan tetes demi tetes tanpa bisa ia kendalikan.
" Kenapa semua hal tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku. Ibu.. aku merindukanmu."
Ucapnya pelan disela-sela tangisnya.
Sementara itu. Ezra yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sudah seperti orang kesetanan. Wajahnya masih penuh amarah ia menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalan didepannya seolah tak peduli dengan keselamatannya. Beberapa orang bahkan berteriak untuk memakinya dan menyalakan klaksonnya untuk memperingatinya namun ia seperti tuli saat itu.
Braak.. Pintu rumah Mariana terbuka dengan kasar hingga sang pemilik yang sedang berada diruang tamu sedikit tersentak.
" Anda menginginkanku untuk menjadi apa? Apapun itu saya akan setuju tapi berikan saya kesempatan untuk belajar manajemen rumah sakit terlebih dahulu."
Mariana tersenyum puas mendengar penuturan Ezra.
" Aku suka kau yang bersemangat seperti ini. Akhirnya kau sadar sepenuhnya posisimu sekarang."
" Terserah anda.. karena anda bilang direktur rumah sakit sudah ditentukan, maka tolong tempatkan saya di pusat kejiwaan."
" Baiklah kalau itu maumu profesor Ryan Lewis akan membantumu. Kuharap kau banyak belajar darinya dan juga direktur baru kita nanti. Dia memang masih muda tapi kemampuannya tidak bisa diragukan."
" Silahkan anda atur sesuka hati anda, saya akan menuruti apapun itu."
" Bagus."
__ADS_1
Ezra tersenyum miring mendengar hal itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu hanya ia yang tahu.
Beberapa hari kemudian. Sania merasa malas untuk bekerja hari itu, ia bahkan berlama-lama berada diruang ganti hanya untuk menunggu jam kerjanya dimulai. Tinggal 5 menit sebelum briefing pagi dilaksanakan jadi ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan dengan lesu sementara rekan-rekannya yang lain sudah berkumpul menunggu pimpinan mereka datang.
Dari kejauhan Sania bisa mendengar riuh percakapan mereka terutama sang paparazi rumah sakit, Marta yang tak hentinya menyebutkan nama direktur baru mereka.
" Sania, kenapa kau baru datang. Cepat kesini ada informasi penting yang harus kau tahu."
Sania akhirnya memasuki barisan disamping Marta.
" Kau tahu kita akan segera memiliki dua direktur sekarang. Pertama kalinya dalam sejarah ada dua orang yang memimpin."
" Biarkan saja. Mungkin manajemen pusat kejiwaan memang berencana memisahkan diri karena kau tahu itu sangat merepotkan kita." ucap Sania dengan wajah lesunya.
" Kau benar, kita menyumbang keuntungan besar-besaran untuk rumah sakit jadi mereka mungkin ingin berterimakasih pada kita."
Sania kali ini tak memiliki komentar apapun jadi ia hanya mengangkat kedua bahunya.
Marta memberi kode agar Sania memperbaiki cara berdirinya.
Pagi itu seperti biasa mereka memulai briefing pagi dengan mendengar berbagai arahan dari ketua departemen mereka. Semua orang mendengar dengan seksama terkecuali Sania yang saat itu pikirannya terus saja berkelana. Hingga namanya disebutkan oleh profesor Ryan pun ia tak sadar dan terus saja tenggelam dalam lamunannya.
Marta menyenggol lengan Sania barulah ia fokus namun hampir semua mata tertuju padanya membuat Sania bingung.
" Dokter Sania, apa anda mendengarkan saya bicara?." Tegur profesor Ryan.
" Ah, maafkan saya prof. Saya tidak bisa berkonsentrasi pagi ini."
Sania menunduk karena merasa tidak enak pada semua orang terutama pada profesor Ryan.
__ADS_1
" Aku ulangi sekali lagi, direktur baru kita akan membutuhkan seorang assisten untuk membantunya sementara jadi aku menunjuk mu."
" Saya?."
" Baiklah cukup sekian briefing pagi ini. Silahkan kalian kembali ketempat kerja masing-masing."
Woo.. Rekan-rekan Sania mulai menggodanya terlebih Marta sang sahabat, Sania sejak tadi bingung dengan maksud profesor Ryan ditambah reaksi teman-temannya yang tidak ia ketahui maksudnya yang ada dipikirannya hanya pekerjaannya pasti akan semakin melelahkan kedepannya.
" Kenapa harus aku lagi.." Keluh Sania sambil mengacak-acak rambutnya.
" Hei.. Harusnya kau bersyukur, kau jadi ada kesempatan untuk dekat dengan direktur muda kita. Kupikir dokter Bima adalah cucu presdir ternyata cucunya lebih muda dan tak kalah tampan, ya."
Deg. Sania diam membatu.
" Senior bilang apa? Kenapa dengan cucu presdir kita?."
" Ya Tuhan Sania kau sejak tadi benar-benar tak mendengarkan sedikitpun perkataan profesor Ryan, ya. Dia bilang mulai hari ini direktur akan bekerja dan dia adalah cucu kandung presdir Mariana. Dia akan belajar manajemen pusat kejiwaan sebelum nanti dia naik posisi menggantikan neneknya."
Sania menutup mulutnya tak percaya. Susah payah ia menghindar dari Ezra tapi hari ini mereka akan bekerja ditempat yang sama setiap hari.
" Bagaimana ini.. Aku harus menolaknya. Ya aku akan bicara pada profesor Ryan sekarang."
" Hei..hei.. Kalau kau menolak tentu saja banyak yang berharap menggantikan mu tapi kau harus pikirkan profesor Ryan memberikan kesempatan lagi padamu itu untuk menunjukkan bahwa masalah kemarin tidak perlu kau khawatirkan. Kau itu tidak peka sekali, apa kau tega mengecewakannya?."
" Ah, senior benar. Lalu aku harus bagaimana?."
" Bagaimana apanya.. Lakukan yang diminta profesor Ryan dan nikmati saja kapan lagi kau bisa dekat dengan anak konglomerat yang muda dan tampan. Hahaha.."
Marta tertawa puas sedangkan wajah Sania penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Situasi macam apa ini.