
Sania yang hari itu baru pulang bekerja memasuki apartemen dan semuanya dalam keadaan gelap lalu terdengar suara conffeti yang mengejutkannya. Ezra ternyata sejak tadi sudah menunggunya untuk memberi kejutan di hari ulang tahun Sania.
" Selamat ulang tahun, kak."
" Ya Tuhan, kau masih ingat? Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku merayakannya."
" Tentu saja. Ayo ikut aku sebentar."
Ezra menuntun Sania menuju meja makan dan ternyata ia juga sudah menyiapkan sebuah cake kesukaan Sania dengan beberapa lilin.
" Apa karena aku sudah tua kau memasang lilin begitu banyak."
" Ah, aku tidak bermaksud..."
Ezra terlihat kikuk saat Sania mengatakannya. Ia bahkan berniat mengambil beberapa lilin dari cake nya.
" Hahaha.. kau masih saja menggemaskan saat digoda."
Ezra lalu mencubit pipi Sania karena ia berhasil menggodanya.
" Cepat kak, buat permohonan."
Sania menurut kali ini ia lalu menutup matanya sejenak dan meniup satu persatu lilin yang mengelilingi cake itu.
Keduanya bertepuk tangan dengan penuh kebahagiaan dan tawa seperti anak kecil.
" Malam ini ayo kita makan diluar untuk merayakan ulang tahunmu, kak."
" Tapi apa tidak masalah untukmu?."
" Memangnya aku kenapa?."
" Ah, tidak. Tapi aku yang menentukan tempatnya."
" Oke."
30 menit berselang sejak mereka meninggalkan kawasan apartemen keduanya dengan mobil Ezra.
" Kak, apa masih jauh?."
" Sebentar aku cek dulu di map. Masih sekitar 20 menitan."
" Oh, baiklah."
Mobil Ezra akhirnya menepi disebuah restoran setelah hampir 1 jam menyetir.
" Kak, kau yakin mau makan disini?."
" Iya, aku penasaran karena banyak orang yang bilang disini makanannya enak."
" Aku tidak yakin kalau melihat tempatnya. Bukannya banyak restoran bagus yang lebih dekat dengan apartemen kita."
" Jangan menilai sesuatu hanya dari luar, kau tidak akan tahu sebelum mencobanya. Ayo.."
Sania berjalan terlebih dahulu lalu Ezra menyusul sambil melihat-lihat sekelilingnya. Itu adalah restoran seafood yang cukup ramai menurutnya.
__ADS_1
Sania dengan antusias memesan beberapa menu tak lupa juga ia memesankan untuk Ezra yang juga menyukai makanan laut terutama udang.
Saat hidangan datang Sania tak lagi membuang waktu, ia segera menyantapnya dengan lahap. Satu per satu menu yang dipesannya pun hampir ia coba semua.
Ezra hanya tersenyum melihat hal itu sebelum ia pun bergabung untuk menyantapnya bersama Sania.
" Hhhmm... Makanan disini semuanya segar jadi terasa lebih enak. Iya kan Ezra?."
" Iya ternyata makanan disini cukup enak. Ya ampun kak, kau itu bukan anak kecil kenapa makanmu berantakan."
Ezra refleks mengelap bibir Sania yang terkena saus dengan ibu jarinya saat ia akan membersihkan tangannya ternyata mereka kehabisan tisu dimeja jadi ia menjilat bekas saus dari bibir Sania. Mendapatkan perlakuan manis seperti itu Sania menjadi tersipu namun Ezra terlihat biasa saja.
" Kau pasti sudah sering melakukannya."
" Apa?."
" Bersikap manis pada pacar-pacarmu dulu."
" Tidak, aku tidak pernah pacaran."
Sania memicingkan matanya menatap seolah tak mempercayai perkataan Ezra.
" Sungguh, kakak yang pertama bagiku."
Ezra mengatakannya dengan santai dan tanpa beban tak seperti Sania yang semakin salah tingkah saat mendengarnya.
" Kak, sepertinya kita perlu mengganti nama panggilan kita mulai sekarang. Aku selalu memanggil kakak, kak Sani, dan kau sering memanggilku Ezra, hei, anak ini, rasanya tidak romantis."
Sania tertawa mendengar hal itu. Tidak disangka Ezra yang terkesan cuek ternyata mempedulikan hal-hal seperti itu.
Ezra memberi isyarat lewat matanya Sania lalu mengedarkan pandangannya dan ternyata memang beberapa orang terutama laki-laki banyak yang mencuri-curi pandang padanya.
" Sepertinya yang bilang menyukaiku cuma kau. Jadi tenang saja."
" Lalu dokter pria yang waktu itu bertabrakan denganmu dekat ruang UGD sepertinya dia juga menyukaimu."
Deg. Sania rasanya seperti tertangkap basah padahal ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Bima meskipun dulu ia pernah mendengar pernyataan cintanya.
" Ah, kau melihat itu? Di-Dia seniorku. Dulu saat aku masih intern di Amerika dia adalah dokter residen dirumah sakit yang sama dan kami lulusan dari universitas yang sama juga."
" Oh, jadi karena itu kalian dekat, ya."
Uhuk.. Sania tiba-tiba tersedak, Ezra dengan sigap memberinya minum.
" A-Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan jadi sedikit 'kurang tepat' kalau kau bilang kami dekat."
Sania tersenyum canggung. Entah kenapa ia hanya belum bisa mengatakan hal yang pernah terjadi diantara ia dan Bima dulu, hampir setahun yang lalu. Lagipula ia hampir melupakannya kalau saja mereka tidak berpapasan saat itu karena ia pun tidak pernah tahu kabarnya setelah mereka putus kontak.
" Apa kakak juga tahu kalau dia.."
Ezra menghentikan ucapannya karena ponselnya berdering. Ia menatapnya lama sekali sebelum meminta ijin pada Sania untuk keluar dan menjawab panggilan yang masuk.
" Kenapa dia harus sampai keluar kalau hanya untuk menjawab teleponnya. Sepertinya memang banyak hal yang dia sembunyikan dariku." gumamnya.
" Permisi, maaf mengganggu."
__ADS_1
Seorang pria berusia sekitar pertengahan 30 tahunan tiba-tiba mendekat pada meja Sania.
" Iya. Ada apa?."
" Sebenarnya saya dari tadi memperhatikan anda. Apa saya boleh meminta nomor ponsel anda?."
Pria itu terlihat malu-malu Sania yang sedikit bingung tak tahu harus menjawab apa jadi ia pun tergagap.
" Maaf paman, tapi dia sudah punya pacar."
Suara berat itu membuat pria itu menoleh bahkan menarik perhatian beberapa pengunjung disana.
" Oh, maaf saya tidak tahu. Saya pikir kakak anda masih lajang karena bepergian dengan adiknya."
" Siapa yang anda bilang adiknya, saya pacarnya. Jadi tolong jangan ganggu pacar orang lain apalagi anda seenaknya berasumsi sendiri."
" Maaf, maafkan saya."
Pria itu mundur dan kembali ke tempatnya. Sania yang menjadi pusat perhatian merasa tak enak hati terutama pada Ezra. Tapi ia juga cukup terharu karena Ezra berani mengatakan bahwa Sania pacarnya dihadapan banyak orang.
Karena suasana menjadi sedikit canggung jadi Sania menyudahi acara makan mereka. Setelah membayar semuanya, tanpa diduga Ezra menggenggam tangan Sania saat keluar restoran seolah meyakinkan semua orang bahwa mereka benar-benar pasangan. Hal itu membuat Sania mendapatkan kepercayaan diri jadi ia pun dengan senang hati menerima perlakuan manis Ezra untuk yang kesekian kalinya.
Saat akan masuk mobil pun Ezra tak lupa membukakan pintu untuk Sania bahkan mengingatkannya untuk memakai sabuk pengaman seperti biasanya.
Sania terus memperhatikan Ezra bahkan sampai Ezra memasuki mobilnya dan duduk di kursi pengemudi Sania tak melepaskan tatapannya.
Ezra mulai menyalakan mesin mobilnya namun Sania menghentikannya.
" Tunggu sebentar, Ezra."
Ezra kembali mematikan mobilnya.
" Kenapa, kak?."
" Aku minta maaf, sebenarnya ada beberapa hal yang menggangu pikiranku selama ini. Bahkan hari ini pun aku mengajakmu pergi ke tempat jauh hanya untuk makan malam itu karena aku belum siap mendengar tanggapan orang lain terhadap hubungan kita. Aku takut kau malu kalau sampai ada kenalan mu yang tahu kau berpacaran dengan wanita yang lebih tua."
Sania menunduk saat mengatakannya bahkan Ezra pun terdengar menghela nafas.
Ezra pasti sangat kecewa padaku. Ucap Sania dalam hatinya ia bahkan tidak berani menatap kearahnya.
" Kak, lihat aku."
Sania pun menoleh dan Ezra meraih tangannya untuk ia genggam.
" Kau tahu aku tidak pernah mempedulikan hal-hal seperti itu, kan. Jadi kenapa kau harus memikirkannya? Bahkan kalau aku bisa aku ingin mengatakannya pada semua orang bahwa kau pacarku, supaya tidak ada lagi lalat-lalat yang mengganggumu."
" Lalat? Apa kau menyamakan ku dengan kotoran?."
" Tidak, maksudku... lebah. Karena kau itu seperti bunga yang mekar dan menarik perhatian semua orang. Jadi bagaimana mungkin aku tidak bangga kalau bunga yang cantik ini adalah milikku."
Cup. Ezra mencium tangan Sania yang ia pegang.
" Maafkan aku Ezra, aku kekanakan seperti ini. Aku seharusnya bersyukur dan merasa cukup karena kau hanya melihatku seorang dengan apa adanya diriku."
" Kau harus percaya diri lagi seperti biasanya, kak. Aku pun berterima kasih karena kau selalu memikirkan ku, tapi aku baik-baik saja sungguh. Tapi kalau kakak tidak nyaman memberitahu hubungan kita pada teman-temanmu aku akan mengerti. Jadi jangan mempermasalahkan hal ini lagi, oke."
__ADS_1
Sania mengangguk dengan cepat. Rasanya sedikit malu juga karena ternyata pemikiran Ezra lebih luas darinya. Lagi-lagi Sania merasa bahwa dalam hubungan mereka selalu saja Ezra yang lebih dewasa menyikapi segala sesuatunya.