
Beberapa dokter termasuk Sania keluar dari ruang rapat diikuti oleh profesor Ryan. Sebelum mereka membubarkan diri terlihat seorang pria berjas rapi berjalan dengan gagah menuju kearah mereka.
Sania yang melihat hal itu bahkan terkesima ternyata Ezra yang biasa ia lihat merubah penampilannya dari atas hingga bawah sehingga menampilkan sosoknya yang terlihat lebih dewasa.
Rambut panjang yang biasa ia biarkan berantakan ia pangkas dan tata rapi begitu pun dengan beberapa ear piercing yang biasa dipakainya ia lepaskan. Ezra hampir berhadapan dengan Sania namun tanpa diduga ia malah melewatinya begitu saja dan segera menuju profesor Ryan.
" Selamat datang, pak direktur."
ucap profesor Ryan padanya sambil menjabat tangannya.
" Terimakasih. Maaf saya terlambat dihari pertama bekerja."
" Presdir sudah mengatakannya terlebih dahulu kalau anda ada urusan sebelum kesini."
" Terimakasih atas pengertiannya. Kalau begitu saya mohon bantuan anda, profesor."
Ezra terus berbincang dengan profesor Ryan lalu ia pun menyapa beberapa dokter yang dikenalkan padanya. Dengan sikap profesional yang ia tunjukkan, semua orang cukup segan padanya. Hingga tiba Sania memperkenalkan diri, Ezra pun tetap menyapa seolah itu adalah pertemuan pertama mereka.
Seperti ini lebih baik. Ucap batin Sania.
Hari pertama Ezra bekerja seperti tidak ada kendala. Sania bahkan tak bertemu Ezra selama sisa hari itu dan hal ini membuatnya sedikit tenang.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia dan aku memiliki pekerjaan yang berbeda jadi akan sangat jarang kami bertemu."
Ucap Sania saat berada diruang ganti setelah menyelesaikan pekerjaan lemburnya. Ia melangkah keluar setelah berganti pakaian dan alangkah terkejutnya saat ia mendapati Ezra sudah menunggunya didepan pintu ruang ganti dokter.
" Ezra.."
Ezra melangkah mendekat pada Sania hingga membuatnya mundur.
" Aku hanya ingin mengingatkan kau dan aku masih sepasang kekasih. Kita belum putus, kak jadi jangan lupakan hal itu."
" Ezra sudah berapa kali aku bil..hhmm.."
__ADS_1
Cup. Ezra mencium Sania hingga ia tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Sania mendorong Ezra sekuat tenaga dan barulah ciuman mereka terlepas.
" APA YANG KAU LAKUKAN?."
" Kenapa? Aku kan sudah bilang kali ini kau tidak akan bisa menghentikan kegilaanku. Sampai jumpa lagi."
Ezra pergi meninggalkan Sania begitu saja setelah memberinya peringatan. Sania sungguh tak mengerti jalan pikiran Ezra saat ini tak seperti dulu kini ia tak mau mendengar perkataannya dan malah bertindak sesukanya. Sania hanya bisa menghela nafas dan memijat kepalanya yang pusing karena memikirkan bagaimana cara menghadapi Ezra kedepannya.
" Dokter Sania, anda belum pulang?."
Seseorang kembali mengejutkannya yang masih berdiri termenung didepan ruang ganti.
" Aku pulang sekarang. Kalau begitu sampai nanti."
Sania barulah melangkah keluar setelah disadarkan oleh salah seorang rekannya. Sepanjang jalan bahkan ia tak fokus hingga seseorang memanggilnya pun ia tak mendengarnya.
" Hei.. kau sedang memikirkan apa sampai tak mendengar aku memanggilmu."
" Kenapa mendadak formal begitu. Kau mau pulang? Aku antar dengan mobilku, ya."
" Tidak usah. Aku naik bis saja."
" Aku ada keperluan jadi aku lewat daerah tempat tinggal mu."
" Begitu, ya..tapi aku.."
Sudut mata Sania menangkap seseorang yang sedang menatap kearahnya dengan tajam. Ezra ternyata berada didalam mobilnya yang baru saja keluar dari area rumah sakit dan berhenti saat melihat Sania sedang berbicara dengan Bima.
" Baiklah senior kalau tidak merepotkan."
Sania yang sempat akan menolak berubah pikiran. Ia pun mengekor pada Bima untuk menuju mobilnya.
__ADS_1
" Lebah satu itu tidak pantang menyerah, ya."
Ujar Ezra dengan masih memperhatikan Sania yang berlalu bersama Bima.
Diperjalanan Sania tak banyak bicara hingga akhirnya Bima yang harus membuka pembicaraan dengannya.
" Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?."
" Baik, semuanya berjalan dengan baik. Aku juga sudah selesai ujian dan tinggal menunggu lolos tidaknya menjadi dokter spesialis."
" Wow.. Selamat kalau begitu. Kau menyelesaikannya lebih cepat."
" Itu pun aku belum yakin lolos atau harus mengulang ujian."
" Kau harus yakin pada kemampuanmu sendiri."
" Iya senior, ah pak direktur."
" Kubilang jangan terlalu formal. Saat hanya ada kita kau boleh memanggilku kakak karena panggilan senior atau pak direktur terlalu kaku."
" Baiklah."
" Pasti rasanya canggung bekerja dengan mantan pacarmu."
" Ah..itu..Ya sedikit."
" Aku juga sedikit terkejut ternyata dia adalah cucu presdir Mariana."
" Beberapa dokter bilang kau sangat dekat dengan bu presdir sampai-sampai banyak yang menyangka kau adalah cucunya. Tapi kakak tidak mengenal Ezra sama sekali?."
" Tidak. Aku mengetahuinya baru-baru ini, sulit dipercaya."
Bima mengatakan dengan tatapan aneh, ia bahkan menyeringai tipis namun Sania tak begitu memperhatikannya.
__ADS_1
Hallo readers sekalian. Untuk yang mengikuti dari awal cerita Shining Sunny mohon maaf bila ada istilah medis, atau jangka waktu pendidikan yang ditempuh seorang dokter dalam cerita ini yang sedikit melenceng atau tidak seperti kenyataan aslinya. Author tak hentinya mengingatkan readers sekalian bahwa author hanya mengedepankan sisi cerita author saja jadi semua hal yang terjadi dalam cerita ini fiktif. Terimakasih ❤️🤗