Shining Sunny

Shining Sunny
Pasien Baru


__ADS_3

Sania duduk bersandar pada kursinya yang ia goyangkan ke kanan dan ke kiri. Tatapannya kosong karena isi kepalanya sedang dipenuhi berbagai pikiran. Dokter Marta yang saat itu masuk ruangan dokter sedikit heran melihat Sania yang tidak seperti biasanya.


" Sania.. Dokter Sania.. Saniii... Hei!!."


Sania terperanjat hingga ia hampir terjatuh dari tempat duduknya.


" Astaga dokter Marta kau kenapa sih? Mengagetkan saja."


" Ini masih pagi, kau bisa kerasukan kalau melamun seperti itu. Memangnya kau tidak tahu rumor kalau ruangan ini berhantu." Bla..bla..bla..


Dokter Marta yang ceriwis tak hentinya bicara. Karena jam kerjanya berakhir ia pun segera membereskan barang-barang miliknya.


" Senior.. Aku mau tanya sesuatu padamu. Ini tentang temannya teman temanku, dia pacaran dengan laki-laki yang berusia 5 tahun lebih muda darinya. Apa pendapatmu tentang hal itu?."


" Woow.. menarik. Laki-laki muda, ya. Kalau itu aku tentu saja tidak mau. Kau tahu, kan wanita itu lebih cepat terlihat tua jadi aku tidak mau punya pacar atau pasangan lebih muda karena mungkin kita akan terlihat seperti ibu dan anak. Dan juga kalau pasangan kita tampan akan banyak gadis-gadis muda dan cantik yang akan mencoba bersaing dengan kita, itu akan sangat melelahkan. Tidak..tidak.. Itu tidak ada dalam kamusku."


" Ah, begitu ya. Hahaha.."


Sania tertawa canggung.


" Dan lagi apa kata orang-orang nanti. Itu masih menjadi hal yang tidak lumrah di kehidupan sosial kita. Aku mau ke kamar kecil dulu."


" Dokter Marta ada benarnya. Aah.. Kenapa aku tidak berpikir kesana. Tahun ini aku 29 tahun, tahun depan aku sudah masuk usia 30an. Apa aku sudah banyak keriput? Aku tidak ada penuaan dini, kan?."


Sania buru-buru mengambil cermin dan melihat dengan seksama setiap inci wajahnya dengan perasaan gelisah.


" Tidak.. Tidak boleh seperti ini. Apa aku harus mulai melakukan perawatan ke salon kecantikan."


Sania mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Ternyata itu adalah sebuah sheet mask yang biasa dipakai untuk menjaga kulit wajah agar tampak terawat.


Tidak lama setelah itu dokter Marta keluar dari kamar kecil dan kembali menuju mejanya.


" Dokter Sania, aku pulang sekarang ya.. Aakh.. Kau itu apa-apaan sih? Kupikir hantu, kenapa memakai masker pagi-pagi begini?."

__ADS_1


" Senior, aku tidak mau menua dulu, aku ingin kembali ke usia 20an.. Aah..bagaimana ini?." ujar Sania dengan frustasi.


" Aneh, kau sangat aneh hari ini. Benar sepertinya kau kerasukan. Pergi kau dari tubuh Sania, setan.."


Marta menyipratkan sedikit air dari botol minumnya pada Sania lalu ia setengah berlari keluar ruangan untuk segera pulang.


Tok.. Tok..


Seseorang mengetuk pintu ruangan tempat Sania berada dan ternyata perawat yang bertugas hari itu. Sania dengan cepat menyingkirkan masker diwajahnya takutnya nanti ia akan bereaksi sama seperti dokter Marta.


" Ya."


" Dok, praktek anda akan dimulai 5 menit lagi."


" Oke aku akan bersiap."


Sania menghembuskan nafas untuk menenangkan diri. Beberapa pasien yang dijadwalkan untuk sesi konsultasi dengannya akan segera ia temui jadi ia harus fokus pada pekerjaannya.


" Sania bodoh, pasienmu itu lebih penting sekarang kenapa kau hanya memikirkan soal Ezra."


Sementara itu di apartemen Ezra.


Triing.. Bunyi pesan masuk mengganggu Ezra yang sedang bermeditasi. Ia berusaha mengabaikannya namun ponselnya tak berhenti berdering.


Ia dengan malas mengambilnya dan saat mengetahui siapa yang menghubunginya ia terlihat marah.


" Sial, kapan dia akan membiarkanku hidup tenang."


Ezra lalu bangun dan bersiap keluar dengan perasaan kesal. Ia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang disebutkan oleh orang yang mengiriminya pesan.


" Hallo ma, iya aku sedang menuju kesana. Mau apa lagi sebenarnya dia, aku sudah bilang aku belum siap, kan."


Setelah selesai ia setengah melemparkan ponselnya lalu kembali fokus pada jalanan didepannya sambil sesekali memijat kepalanya yang pusing.

__ADS_1


" Kalau bukan karena kak Sani aku mungkin sekarang sudah gila."


Ezra menghembuskan nafas kasar dan semakin menambah kecepatannya.


Kembali ke rumah sakit. Kali ini pasien terakhir Sania adalah keponakan dari profesor Ryan. Ia masuk setelah dipersilahkan oleh perawat.


Dari penampilannya terlihat kalau dia memang dari keluarga kaya raya. Hanya saja ia terlihat sedikit tidak bersahabat meskipun Sania menyapanya ia tak mempedulikannya.


" Hai, aku Sania. Alina kau cantik sekali seperti yang dikatakan profesor Ryan. Bagaimana kabarmu?."


" Bisakah kita langsung mulai saja, aku lelah dan ingin segera istirahat." jawabnya dengan sikap acuh.


Sania tersenyum, ia sangat mengerti apa yang dirasakannya. Karena menemui dokter adalah usulan ibunya jadi ia pasti melakukan perawatan dengan terpaksa.


Sania mengikuti keinginannya, jadi ia hanya mengajukan beberapa pertanyaan dasar pada Alina. Untuk saat ini ia cukup kooperatif namun selanjutnya ia semakin terlihat tidak nyaman. Sania yang menyadari hal itu menghentikan pertanyaannya lalu ia mengeluarkan sebuah kotak susu strawberry dari dalam lacinya dan menawarkannya pada Alina.


" Mamaku bilang aku tidak boleh minum itu karena mudah membuatku gemuk."


" Tapi mamamu sekarang tidak disini, minumlah. Aku akan merahasiakan, oke?."


Sania mengedipkan satu matanya dan Alina sepertinya mulai tergoda. Ia perlahan mengambilnya lalu meminumnya seperti orang yang kehausan.


Hanya dalam hitungan detik Alina menghabiskan semua isinya dan moodnya berubah menjadi lebih baik.


Dengan perubahan suasana hati Alina yang membaik konsultasi hari itu cukup menyenangkan bagi keduanya.


Sania pun senang karena semuanya berjalan lancar bahkan Alina berjanji akan mengikuti semua terapi yang nanti akan disiapkan untuknya.


Sepertinya untuk saat ini aku berhasil membujuknya. Syukurlah...


Ucapnya dalam hati saat melihat Alina berjalan menyusuri lorong sendirian untuk pulang.


" Anak itu terlihat kesepian, dia jadi mengingatkanku pada seseorang."

__ADS_1


Alina yang semakin menjauh tanpa diduga menoleh kebelakang karena tahu Sania masih memperhatikannya. Sania lalu kembali tersenyum dan melambaikan tangannya, ia membalas tersenyum meskipun sedikit canggung lalu kembali berjalan untuk keluar dari gedung pusat kejiwaan.


Setelah memastikan Alina keluar Sania lalu kembali keruangan prakteknya untuk mengambil hasil pemeriksaan pasiennya hari itu untuk ia konsultasikan kepada profesor Ryan.


__ADS_2