Shining Sunny

Shining Sunny
Perjalanan Bersama (2)


__ADS_3

Sania dan Ezra berpamitan setelah selesai mendengar apa yang ingin mereka dengar tentang Sandra dari sahabat ibunya itu. Namun sebelum pergi Diana memberikan sebuah koper besar yang berisi barang-barang pribadi milik Sandra.


" Aku tadinya ingin membuang sisa-sisa peninggalan ibumu tapi aku mengurungkannya berjaga-jaga kalau-kalau kau akan kembali. Datanglah lagi jika ada waktu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian."


" Terimakasih tante diana, kalau begitu kami pamit dulu."


Untuk yang terakhir kalinya Sania berpamitan dan berpelukan dengan Diana. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan tempat itu Sania melihat sekelilingnya. Meskipun hanya tinggal belasan tahun disana namun rumah itu tetap memiliki tempat dihatinya karena ia tahu bagaimana perjuangan ibunya untuk bisa membangun rumah kecil dan sederhana itu.


" Kak, bagaimana kalau kita kesitu sebentar."


Ezra menyadarkan Sania dari lamunannya. Dilihatnya Ezra menuju rumah yang dulu sempat ditinggalinya dengan menyeret koper besar pemberian Diana. Sania akhirnya mengikutinya.


" Waah.. Rumah ini sudah tua dan hampir bobrok tapi mereka sepertinya masih merawatnya. Pasti pemiliknya tidak lagi menyewakannya."


" Iya kau benar. Ezra apa yang kau lakukan?."


Ezra lalu memasuki halaman dan duduk di bangku kayu yang ada didepan rumah itu.


" Kursi ini masih sangat kuat ternyata. Sini kak!."


Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk memastikan bangku itu memang tidak akan roboh. Sania tersenyum dan akhirnya iapun ikut duduk dengan Ezra.


" Dulu, aku sering duduk disini menunggu kakak pulang. Karena aku bisa mendengar suara decitan pagar rumah kakak dari sini."


Sania sedikit terharu ternyata Ezra sedang berusaha menghiburnya.


" Jadi ini pemandangan senja yang biasa kau lihat, Ezra. Kenapa rasanya berbeda saat aku melihatnya dari rumahku.. Ah maksudku rumah tante Diana sekarang."


" Apanya yang berbeda kita hanya berjarak beberapa meter saja. Dan lagi aku pun merasakan hal yang sama sekarang langit memang terasa berbeda apa mungkin karena aku melihatnya bersamamu, kak."


" Hahaha.. Imutnya.. Kalau kau seperti ini nanti banyak gadis yang mengantre untukmu."


Sania mengacak-acak rambut Ezra.


" Itu sudah jelas. Tapi mereka semua tidak ada yang sepertimu."


" Sepertiku? Aah.. Maksudmu aku yang sudah tua, sangat kolot dan membosankan ini, ya."


" Siapa yang bilang kau membosankan. Dan lagi aku tidak pernah melihat seseorang hanya dari usianya."


Ezra memalingkan wajahnya saat mengatakannya dan itu membuat Sania semakin gemas.


" Sekarang aku benar-benar menyadarinya bahwa kau memang sudah dewasa. Kalau begitu ayo kita kembali dan menikmati sisa perjalanan kita."


Sania bangun dan mengulurkan tangannya berniat membantu Ezra bangun.


" Kakak selalu lupa aku sudah dewasa karena kakak selalu memperlakukanku seperti anak kecil."


Ezra lalu bangun dan berjalan mendahului Sania dengan wajah yang ia buat-buat seolah marah. Melihat hal itu Sania sangat terhibur.

__ADS_1


" Hei..tunggu aku. Kenapa jalanmu cepat sekali."


" Itu karena kakimu pendek, kak."


" Dasar anak ini. Ezra, ayo makan es krim sebelum pulang."


" Tidak mau. Memangnya aku anak kecil."


Keduanya tetap berjalan sambil terus berdebat dengan Sania dibelakangnya membujuk Ezra yang merajuk. Namun Ezra akhirnya menyerah, karena dari dulu ia tidak bisa menolak permintaan Sania.


Keduanya kini berada di minimarket langganan mereka sejak kecil menikmati es krim favorit masing-masing yang ternyata tidak berubah.


Sania bahkan membeli beberapa snack untuk dirinya sendiri karena Ezra tidak diperbolehkan memakannya.


Ezra duduk dengan menyilangkan kakinya dan menopang dagunya menunggu Sania yang masih menghabiskan cemilan kesukaannya.


" Kau yakin akan menghabiskan semuanya sendirian?."


Sania mengangguk karena mulutnya penuh makanan.


" Kakak selalu mengomel agar aku memperhatikan kesehatan tapi kau sendiri tidak memperhatikan kesehatanmu. Kau juga suka merokok, kan?."


" Aku makan makanan seperti ini dan merokok saat perasaanku sedang tidak baik saja, sungguh."


" Lalu sekarang pun apa perasaanmu masih tidak baik?."


" Karena ada kau perasaanku jauh lebih baik. Terimakasih Ezra sudah mengkhawatirkan ku."


" Jangan selalu menahan diri, kalau memang sakit bilang sakit kalau kau terluka bilang terluka. Memangnya karena kau dokter kau tidak bisa merasakan sakit dan terluka."


Kata-kata menohok Ezra membuat Sania tertegun. Ia menatap Ezra yang sedang melihat kearah lain.


" Aku merasa malu padamu. Kau lebih pandai menilai dan memahami perasaan orang lain dibanding aku yang seorang dokter. Kau juga bisa membuat seseorang nyaman dan tenang di dekatmu harusnya aku yang melakukan itu untukmu tapi lagi-lagi hanya aku yang selalu menerima sejak dulu."


" Aku melakukannya karena aku selalu memperhatikan kakak jadi aku tahu semua hal tentangmu dan bisa merasakan perasaanmu meski hanya sekali melihat."


Deg. Jantung Sania tiba-tiba berguncang hebat karena kata-kata Ezra. Ia sering mendengar kata-kata rayuan seperti itu dari laki-laki yang ingin mendekatinya namun yang ia dengar dari Ezra sangat berbeda karena ia tahu Ezra adalah orang yang selalu penuh ketulusan dan kejujuran dalam kata-katanya.


" Kakak sudah selesai? ayo kita pergi aku sudah lapar."


" Ah, iya."


Sania yang masih belum bisa mengontrol detak jantungnya segera membereskan bekas makannya dibantu Ezra. Merekapun akhirnya meninggalkan tempat itu untuk mencari hotel terdekat sebelum besok mereka kembali pulang dan menjalani rutinitas seperti biasanya.


" Apa? penuh juga?."


Sania menghela nafas karena beberapa hotel yang mereka datangi ternyata sudah terisi penuh dan sisanya fully booked. Ia lupa kalau akhir pekan hotel-hotel kebanyakan ramai dipesan oleh orang-orang yang ingin berlibur.


" Resepsionis bilang hanya ada satu kamar yang tersisa karena ada pembatalan.".ucap Ezra

__ADS_1


" Kita ambil saja." Sania segera menimpali.


" Kau yakin?."


" Hhmm.. kalau pun kita mencari lagi belum tentu kita akan dapat kamar. Lagipula ini sudah malam kau pasti lelah seharian mengantarku kesana kemari."


" Baiklah jika itu maumu."


Ezra kembali ke meja resepsionis. Sania masih menunggu dari kejauhan dengan perasaan berkecamuk.


" Kita kan biasa tinggal bersama jadi satu kamar untuk satu malam bukan apa-apa. Tenanglah Sania."


Ia bergumam pelan lalu melirik ke sekitarnya dan kebanyakan tamu hotel adalah pasangan dan ada juga yang membawa keluarganya. Ia tidak sedang tinggal di Amerika jadi ia berusaha menyembunyikan wajahnya takutnya ada yang mengenalinya.


" Kak.."


Ezra sedikit mengejutkannya karena ia pikir ia ketahuan sedang bersama seorang pria di hotel oleh seseorang.


" Oh Ezra, kau sudah selesai? Ayo.."


Sania buru-buru berjalan dengan perasaan tak menentu.


" Tapi lift nya disana, kak."


" Oh, maaf aku lupa."


Sania dengan bodohnya berjalan kearah sebaliknya dan Ezra hanya bisa menahan tawanya karena tahu Sania sedang merasa canggung. Iapun mengikuti Sania untuk menuju kamar mereka.


Saat sampai ternyata kamar yang mereka dapat adalah standard room dengan fasilitas terbatas dan yang membuat Sania sedikit tidak nyaman adalah ranjang yang tersedia disana single bed dan hanya cukup untuk satu orang.


" Maaf kak, aku lupa memesan hotel dari awal."


" Kenapa ini jadi salahmu? Aku yang tidak berpikir jauh sebelum kita berangkat tadi. Tidak apa-apa aku bisa tidur dibawah."


" Kau pikir aku akan membiarkan hal itu?."


" Ezra, kau harus tidur dengan baik malam ini karena kau harus tetap mematuhi jadwal tidurmu."


" Bagaimana aku bisa tidur kalau aku tahu kakak tidur dilantai yang dingin."


" Baiklah, begini saja. Kita tidur satu ranjang. Memang akan berdesakan tapi aku akan berada dipinggir supaya kau bisa tidur dengan nyaman. Jangan membantah lagi dokter mu, aku akan pakai kamar mandi duluan."


" Oke..itu lebih baik."


Sania berlalu meninggalkan Ezra, berada di ruangan sempit dengannya menunggu diluar kamar mandi sedikit membuat Sania malu untuk mandi jadi ia hanya membersihkan wajahnya dan sikat gigi sebelum tidur.


Tidak lebih dari 10 menit ia keluar dengan baju tidurnya. Ezra bergantian memasuki kamar mandi dan setelah selesai juga berganti pakaiannya, ia membaringkan dirinya diranjang menyusul Sania yang ternyata sudah tertidur duluan. Ezra yang melihat wajah Sania yang kelelahan tidak tega membangunkannya untuk memintanya bergeser sehingga ia terpaksa berbaring menyamping.


Ia terus saja memperhatikan wajah cantik itu, wajah yang selalu memenuhi hatinya entah sejak kapan. Waktu berlalu entah berapa lama dan rasa kantuknya menghampiri Ezra pun akhirnya terlelap disamping Sania.

__ADS_1


__ADS_2