
Apartemen Ezra.
" Ezra.. Sampai kapan kau tidak akan pulang kerumah? Nenekmu membutuhkanmu."
" Dia membutuhkanku hanya sebagai alat yang bisa dia atur sesukanya." jawab Ezra ketus.
" Jangan bilang seperti itu, dia keras padamu karena dia hanya mengandalkan mu sebagai penerus satu-satunya keluarga kita."
" Justru itu terdengar lebih janggal bagiku. Bagaimana mungkin seorang anak yang diabaikan sejak kecil tiba-tiba diminta kembali dan dijadikan penerus keluarga konglomerat."
" I..Itu.. kami ada alasan tersendiri yang tidak perlu kau tahu. Yang jelas kami sangat mengharapkan mu atau perusahaan kakekmu bisa-bisa jatuh ke tangan orang lain dan mungkin kita akan hidup di jalanan. Pikirkan soal ayahmu yang sekarang terbaring koma bagaimana nasibnya kalau kita harus kehilangan segalanya."
Maudy memohon sembari memegangi lutut Ezra. Matanya berkaca-kaca membujuk putranya yang sejak dulu menolak diberikan posisi dalam perusahaan.
" Padahal dulu hidupku lebih bahagia meskipun tanpa kalian dan harta yang berlimpah sekalipun. Kenapa kalian membebaniku sampai seperti ini."
Maudy hanya tertunduk mendengar perkataan Ezra.
" Kenapa kau jadi semakin keras kepala. Apa ini karena wanita itu? Dia sepertinya berhasil merubah mu."
" Mama jangan bicara yang tidak-tidak tentang kak Sania. Justru karena dialah aku bisa bertahan berada di lingkungan keluarga yang seperti neraka itu. Apa mama lupa dengan perlakuan nenek pada kita? Dia selalu menginjak-injak harga dirimu, padahal dia sendiri hanya menantu perempuan dalam keluarga itu."
" Itu tidak akan terjadi lagi kalau kau mau mengambil alih posisi ayahmu. Mereka akan mulai menghormati kita berdua aku yakin itu. Kumohon Ezra demi mama.."
__ADS_1
Maudy mulai menitikkan air matanya berharap Ezra merasa iba padanya.
" Baiklah dengan satu syarat. Aku akan mengabulkan keinginan kalian asalkan kalian jangan pernah mengusik kak Sania lagi. Hubungan kami biar kami yang mengurusnya jadi tolong jangan ikut campur."
" Tapi nenekmu.."
" Biar nanti aku yang bicara dengannya."
Ezra menyela agar mereka bisa menyelesaikan pembicaraan penting itu dengan segera karena ia berniat untuk pergi menemui Sania yang sudah pindah dari kediamannya sejak beberapa minggu terakhir.
Sesuai perkiraan Ezra, Sania saat itu baru saja keluar dari gedung pusat kejiwaan untuk menuju halte. Tempat tinggalnya menjadi sedikit lebih jauh tapi Sania senang akhirnya menemukan tempat tinggal sendiri meskipun ia akhirnya harus keluar dari apartemen Ezra.
" Kak, tunggu.."
Ezra menarik tangan Sania yang sedang berjalan hingga membuatnya sedikit terkejut.
" Kak, kumohon jangan memutuskan hubungan kita secara sepihak seperti ini. Aku tahu kau marah dan kecewa padaku karena menyembunyikan identitasku tapi aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu, itu saja."
" Kau pikir hanya karena itu aku memutuskan berpisah darimu. Ezra.. Terlalu banyak perbedaan diantara kita berdua sekarang dan bahkan ada jurang dalam yang menghalangi kau dan aku untuk bisa bersama. Aku tidak mau mengambil resiko dan terluka lebih banyak lagi jadi kumohon belajarlah melupakan aku."
" Lalu bagaimana denganmu, kak? Apa kau bisa melupakanku?."
Sania terdiam sambil mengalihkan pandangannya namun Ezra segera mencengkram pelan kedua bahu Sania memaksanya agar tetap menatapnya.
__ADS_1
" Lihat aku saat sedang bicara! Apa benar ini yang kakak inginkan? Berpisah denganku?."
Sania tampak ragu sejenak namun tiba-tiba jawaban yang tak diduga Ezra keluar dari mulutnya.
" Aku.. IYA. Aku menyerah, karena aku tidak memiliki keberanian apapun untuk bisa melawan keluargamu apalagi aku hanya seorang dokter yang hidup dari uang keluargamu jadi aku cukup tahu diri."
Ezra melepaskan cengkramannya dari bahu Sania namun dengan sedikit kasar kali ini sampai-sampai tubuh Sania hampir oleng.
" Aku tidak menyangka, kakak bahkan tidak ingin mencoba berjuang denganku. Bagaimana mungkin semudah itu kau menyerah setelah apa yang kita lewati bersama."
Ezra mulai berkaca-kaca dengan wajah memerah karena amarah.
" Ezra, mengertilah. Hidupku sudah cukup sulit, tolong jangan semakin mempersulit ku."
" Apa kakak memang sejak dulu selalu egois seperti ini? Apa pernah kau memikirkan sedikit saja perasaanku sebelum mendorongku untuk menjauh?."
" Iya kau benar. Aku memang orang yang seperti ini. Egois dan selalu memikirkan diriku sendiri jadi tidak ada alasan untukmu melanjutkan hubungan dengan orang sepertiku. Semuanya tak lagi sama Ezra, dunia kita bahkan berbeda sekarang jadi jangan mencari ku lagi karena lain kali aku mungkin akan lari menjauh kalau kau memaksa menemuiku."
Sania memberi tatapan dingin sebelum meninggalkan Ezra yang masih mematung berusaha mencerna segala ucapan Sania.
" Baiklah kalau ini yang kakak inginkan."
Sania yang baru berjalan beberapa langkah berhenti sejenak.
__ADS_1
" Kau menang lagi kali ini dan aku kalah lagi, tapi jangan berharap kau bisa menghentikan kegilaanku dan lihat saja apa yang bisa aku lakukan mulai sekarang."
Sania mengerutkan dahinya tak mengerti ucapan yang dimaksud Ezra. Iapun menoleh untuk memastikannya namun Ezra menyuguhkan senyum sinis padanya dan berlalu begitu saja.