Shining Sunny

Shining Sunny
Alina


__ADS_3

" Prof, ini laporan perkembangan Alina sejauh ini. Ada hal yang ingin saya tanyakan pada anda sebagai keluarga pasien, apa boleh?."


" Baiklah, ada apa dokter Sania."


" Saya menduga bahwa dia menderita trauma psikis, ada kejadian dimasa lalunya yang memicu serangan paniknya. Apa anda tahu karena Alina sepertinya menutupi hal itu."


" Setahuku, meskipun orang tuanya sangat sibuk tapi mereka sangat memprioritaskan Alina sebagai anak tunggalnya. Dia juga dijaga hampir 24 jam oleh pengawal pribadinya karena ayahnya seorang politikus terkenal jadi jika ada sesuatu yang terjadi pasti mereka tahu."


" Apa karena itu dia juga takut bergaul dengan orang lain jadi sejak lama ia memilih home schooling. Apa anda tahu Alina ternyata berbakat menggambar, dia bilang dia ingin menjadi pelukis tapi sejak lama minatnya hilang."


" Iya. Dia memang suka menggambar sejak kecil."


" Apa keluarganya mendukung hal itu?."


" Entahlah. Setahuku ibunya, adikku dia orang yang cukup mendukung hal itu selama Alina melakukan hal yang positif."


" Saya sedikit kesulitan karena orang tuanya tidak pernah mengantarnya kesini. Jadi saya akan sering menanyai anda tentang Alina, prof. Maaf sudah mengganggu waktu anda yang berharga."


" Tidak apa-apa. Jika masalah Alina tolong katakan apapun itu. Aku mengandalkan mu, dokter Sania."


" Baik, prof."


Sania memasang wajah muram saat keluar dari ruangan profesor Ryan.


" Alina, kasihan sekali anak itu. Profesor Ryan sepertinya tidak tahu yang sebenarnya terjadi."


Sania lalu mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya. Itu adalah milik Alina yang sengaja ia ambil karena beberapa kali ia melihat Alina selalu membawanya dan terkadang ia menuliskan sesuatu saat sedang menunggu giliran di poli klinik. Awalnya Sania tidak mengerti karena hampir setiap halaman hanya coretan-coretan tidak jelas namun jika ia menerawang setiap lembar buku tersebut adalah sebuah gambar atau tulisan isi hatinya yang ditutupi coretan-coretan tersebut.


" Maaf Alina aku bertindak sejauh ini."


Sania menatap buku itu dengan tatapan sendu. Meskipun tanpa sengaja ia mengetahui kemungkinan dari penyebab masalah mental Alina namun Sania tidak bisa berbuat apa-apa, hanya sebatas membantu Alina mengatasi masalahnya karena hal ini ternyata berkaitan dengan kondisi keluarganya yang sebenarnya.

__ADS_1


" Apa yang harus aku lakukan, aku juga belum terlalu yakin dengan hal ini jadi aku tidak boleh gegabah menceritakannya pada profesor Ryan kalau mungkin saja adiknya adalah korban kekerasan oleh suaminya sendiri, ayah Alina." Sania berbicara sendiri.


Sania kembali keruangan dokter, ia lalu membuka laptopnya dan mencari di internet tentang kedua orang tua Alina.


Berbagai artikel muncul saat ia menuliskan nama ayah Alina. Kebanyakan adalah pujian dan juga hasil kerjanya selama menjabat di dunia politik. Dan saat ia menuliskan nama ibu Alina pun banyak foto-fotonya yang tertangkap kamera wartawan saat mendampingi suaminya diberbagai aktivitas politiknya. Mereka pun banyak dipuji karena keharmonisan yang selalu ditunjukkan didepan semua orang.


Hanya ada beberapa foto Alina yang berhasil diabadikan dibeberapa momen. Dapat Sania lihat, berbeda dengan kedua orangtuanya raut wajah Alina dalam foto-foto tersebut terlihat selalu muram seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Sania menghela nafas panjang. Jika dugaannya benar, dan gambar yang dilihatnya tidak salah maka selama ini Alina adalah saksi dimana penyiksaan ibunya terjadi dalam waktu yang lama. Alina sering menggambar sesuatu yang hampir sama dimana ada dua orang yang mana si pria selalu tampak marah dan mengangkat tangannya, lalu si wanita selalu menerima perlakuan itu dan ada seorang anak kecil yang menyaksikan semua itu dibalik pintu dan itu mewakili Alina dan kedua orangtuanya.


Semua yang digambar nya memiliki pola yang sama dan selalu berulang jadi kemungkinan Alina memang menyaksikan ibunya disiksa sudah sejak ia kecil.


Rumah Alina.


" Kau itu bisa mengurus anak tidak, sih? pencalonan ku sudah dekat tapi sekarang anakmu punya masalah mental. Kalau sampai hal ini tercium wartawan mau ditaruh dimana wajahku."


Ayah Alina memarahi istrinya bahkan ia bertolak pinggang sambil sesekali memaki.


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi mama Alina, itu sudah hal biasa baginya jadi ia tak bereaksi apapun.


" Berani kau menjawab perkataanku?. Dasar wanita tidak tahu diri. Aku sudah memberikan kehidupan mewah untuk kalian memang tanggung jawab apalagi yang kau inginkan dariku. Urus saja putrimu sampai dia sembuh atau kalau sampai ada orang lain yang tahu tentang hal ini aku akan menceraikan mu."


Dibalik dinding Alina sudah mendengar pembicaraan orang tuanya. Bukan sesuatu yang aneh jadi ia pun tak mengeluarkan emosi apapun. Ia berjalan dengan santai lalu mengambil minum dimana orang tuanya masih berdebat.


" Alina, kau sudah pulang, nak?."


Alina tak menyahuti mamanya, ia hanya minum seolah tak terganggu dengan perkelahian orang tuanya. Baginya perasaan sudah mati melihat orang tuanya selalu bertengkar bahkan mereka sama sekali tak berusaha menutupi hal itu darinya.


" Alina, papa sudah mencari dokter terbaik diluar negeri. Kau harus menurut ini semua demi kebaikanmu. Jadi persiapkan dirimu dari sekarang, kau dan mamamu akan aku kirim ke Australia kalian bisa menetap, sementara kau menjalani pengobatan disana."


Alina belum menjawab ia hanya meremas gelas ditangannya sekuat tenaga sampai gelas itu pecah.

__ADS_1


Praang..


Mama Alina seketika panik dan buru-buru mengambil handuk. Dan papanya segera menghampiri putri semata wayangnya dengan wajah terkejut karena darah bercucuran deras dari tangan Alina. Anehnya ia hanya memasang wajah datar seperti tak merasakan sakit.


" Apa yang kau lakukan?." ucap papanya.


Mamanya datang dengan membawa handuk bersih dan mereka berdua dengan wajah khawatir segera mengurus luka Alina.


" Saat aku terluka kalian dengan cekatan menolongku bahkan melupakan segala perkelahian kalian, tapi tanpa sadar kalian yang sudah melukaiku lebih dari ini. Tapi disini."


Alina menunjuk dadanya.


" Kau bicara apa, Alina. Lukamu harus segera diobati, ambilkan kotak P3K, ma." Ucap papa Alina pada mama Alina.


" CUKUP!!."


Alina menepis tangan papanya yang sedang berusaha mengambil beberapa serpihan kaca yang menancap di telapak tangan Alina.


" Sampai kapan kalian akan seperti ini dan sampai kapan aku harus berpura-pura tidak tahu dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kalian tidak pernah membiarkanku bernafas barang sedetik saja. Aku muak dengan semua pertengkaran kalian setiap hari, aku muak melihat mama selalu menerima pukulan papa tapi bisa-bisanya kalian tak menganggap ku ada yang menyaksikan semuanya sejak dulu."


Alina berkata dengan suara bergetar dan air matanya mulai membendung namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak keluar.


Kedua orangtuanya terdiam karena untuk pertama kalinya Alina berani membantah dan mengeluarkan amarahnya yang sudah menumpuk.


Darah masih terus menetes dilantai namun Alina tak peduli, sakit dihatinya melebihi apapun jadi saat tubuhnya terluka ia hampir tak merasakan apa-apa.


" Setiap hari aku selalu berpikir apakah kalian bertengkar karena aku? kalau aku menuruti semua perkataan kalian apa kalian tidak akan saling menyalahkan lagi. Aku bahkan melakukan hal-hal yang tidak kusukai hanya demi membuat kalian senang tapi semua itu masih saja tidak cukup. Aaakh..!!"


Alina berteriak keras sekali lalu ia berlari keluar. Papa mamanya berusaha mengejar namun terlambat ia sudah membawa sebuah mobil keluar dari halaman rumahnya.


Alina mengemudi tanpa tujuan yang jelas ia hanya berputar-putar sekalian untuk mengecoh anak buah ayahnya yang dikerahkan untuk mengejarnya.

__ADS_1


Meskipun hanya bisa menyetir dengan satu tangannya namun Alina cukup handal. Setelah beberapa lama mengemudi ia akhirnya tiba di satu tempat yaitu taman yang dekat dengan kawasan tempat tinggal Sania.


__ADS_2