
Tidak terasa waktu berlalu cepat hingga saat ini Sania sudah memasuki tahun ke 2 sebagai mahasiswi. Hari-hari yang dijalaninya sebagai mahasiswi kedokteran cukup menyenangkan namun ia tidak akan menyangka sampai hari itu bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya.
Brag..brag..pintu kamarnya digedor dengan kasar oleh seseorang. Sania melirik jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
" Siapa yang datang malam-malam begini."
Sania dengan kesal membuka sedikit pintunya untuk melihat orang yang mendatanginya.
Namun sebuah tangan mendorong pintu itu dengan keras dan cepat hingga Sania kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Seorang pria masuk lalu mengunci pintunya. Sania yang masih terkejut hanya bisa beringsut menjauh hingga tubuhnya menempel pada dinding dibelakangnya.
" Siapa kau? Pergi dari sini."
Pria itu berbalik dan menunjukan wajahnya.
" Bagas.. kurang ajar masih berani kau menemuiku."
Sania yang kehilangan kekuatannya karena syok hanya bisa terduduk dan meringkuk. Ingatannya kembali saat ia dilecehkan oleh Bagas saat dibangku SMA.
" Berani-beraninya kau menghindariku, Sania. Kau memblokir nomorku dan menolak bertemu denganku berkali-kali.".
__ADS_1
" Kita sudah tidak ada urusan lagi. Jadi kenapa kau masih mengejarku."
Sania mulai kehilangan ketenangannya. Suaranya mulai bergetar karena takut terlebih saat itu Bagas mendekat dan berjongkok didepannya.
Bagas yang berada didalam pengaruh alkohol lalu mencengkram pipi Sania dan memaksanya agar menatapnya. Air matanya sudah tidak bisa lagi di kompromi ia terus memohon pada Bagas agar melepaskannya.
" Jangan memohon seperti ini, Sania. Itu membuatku merasa buruk. Apa kau puas menyiksaku selama 2 tahun ini karena aku tidak bisa melupakanmu."
Sania tak mengerti ucapan Bagas. Yang ia inginkan hanyalah lepas dari cengkeramannya saat itu juga. Sania lalu mengigit tangan Bagas dan mengambil kesempatan itu untuk keluar dari kamarnya. Namun ia terlambat karena Bagas menarik kakinya sebelum ia sampai pintu.
Bagas lalu menindih tubuh Sania yang melakukan perlawanan. Ia yang kesal bahkan sampai menamparnya agar Sania diam dan setelah itu ia menutup mulut Sania dengan tangannya agar ia tidak berteriak.
Sania semakin tak berdaya saat itu karena tenaganya mulai terkuras apalagi saat Bagas yang mabuk berusaha menciuminya dan dengan sisa tenaganya Sania berusaha menghalaunya. Sania merasa jijik akan hal itu hingga tanpa sadar tangannya meraih sesuatu dari meja disampingnya dan ia menghantamkannya pada kepala Bagas.
Bagas sempat mengerang kesakitan karena pot keramik itu sampai pecah beradu dengan kepalanya dan detik selanjutnya ia pun ambruk disamping tubuh Sania.
Sania lega karena akhirnya bisa melepaskan diri namun ia melihat darah mulai mengucur kelantai dari kepala Bagas. Ia seketika panik dan menggoyangkan tubuh Bagas.
" Bagas.. bangun.."
Bagas tidak merespon dan Sania yang bisa menilai situasi itu segera meminta tolong orang-orang sekitarnya. Ia pun sempat menelpon ambulan meskipun dalam keadaan gusar.
__ADS_1
Ada rekannya yang pertama kali mendengar teriakan Sania dan ia langsung menuju kamar Sania yang sudah terbuka.
Ia mendapati Sania sedang menangis dengan pakaian yang bersimbah darah karena ia mencoba menahan pendarahan Bagas.
Tak lama kemudian beberapa orang pun mulai berdatangan dan mencoba membantu menangani situasi sebisa mereka.
Bagas sudah dibawa oleh ambulan yang ditelpon Sania dan ia kini duduk di sofa ditemani dua orang teman yang satu lantai dengannya.
" Apa yang terjadi, Sania?."
" Aku.. aku memukulnya dengan tidak sengaja karena dia.. dia.. mencoba memperkosaku."
Sania terbata karena ia sangat terguncang dengan peristiwa yang baru saja menimpanya.
" Semua akan baik-baik saja. Kau tidak bersalah."
" Bagaimana kalau dia meninggal? aku sudah membunuhnya."
" Apapun yang terjadi itu bukan kesalahanmu. Kau hanya berusaha melindungi dirimu."
Seorang teman Sania memeluknya untuk memberikan ketenangan pada Sania.
__ADS_1