
Berita menghebohkan semalam membuat polisi bahkan turun tangan karena pihak keluarga Bagas ingin menuntut Sania atas kejadian yang menimpanya.
Bagas yang sempat dilarikan kerumah sakit dinyatakan koma akibat pendarahan hebat di kepalanya. Dan hal itu membuat Amira ibu Bagas menjadi murka.
Sania memenuhi panggilan polisi saat itu. Selama diperiksa Sania cukup kooperatif meskipun ia masih trauma dengan kejadian itu.
Sandra, ibunya datang dengan membawa seorang pengacara kenalannya. Saat melihat Sania ternyata sedang meringkuk berada didalam jeruji besi di kantor polisi itu dan hal itu membuat Sandra histeris.
Sandra dan pengacaranya akhirnya diijinkan untuk menemui Sania dan ia pun menceritakan semuanya dari awal. Bukti visum Sania menunjukan adanya kekerasan dari Bagas begitupun bukti dari CCTV disertakan untuk menguatkan kesaksian Sania bahwa ia adalah korban dalam kasus itu.
Setelah mediasi panjang dengan pengacara keluarga Bagas akhirnya dapat diputuskan bahwa apa yang dilakukan Sania hanyalah upaya melindungi diri sehingga kasus tersebut disepakati untuk tidak masuk ke ranah pengadilan.
Karena semua bukti yang ada menunjukkan kesalahan ada pada Bagas yang saat itu dalam kondisi mabuk mencoba melakukan penyerangan dan pemerkosaan pada Sania untuk yang kedua kalinya.
Sania pun dibebaskan setelah hampir 72 jam berada di kantor polisi.
Amira hanya bisa menelan kepahitan tersebut karena ia tidak berhasil membuat Sania membayar apa yang dilakukannya pada Bagas. Hal ini pun memberi efek luar biasa pada reputasinya dan keluarga besarnya sebagai orang-orang terhormat.
Sania mengambil waktu istirahat selama beberapa hari dirumahnya sebelum kembali ke kampusnya. Meskipun ia tidak bersalah dalam kasus hukum yang menimpanya namun hal itu menarik perhatian teman-temannya.
Ada yang merasa kasihan padanya dan banyak juga yang terang-terangan mencibirnya dan hal itu membuat Sania merasa tidak nyaman karena kemana pun ia pergi selalu ada mata yg mengikutinya diiringi bisikan-bisikan orang yang penasaran terhadapnya.
__ADS_1
Rasa malu yang harus dideritanya sungguh menyiksa hingga terkadang saat selesai pelajaran dikelasnya ia akan menghilang dan bersembunyi ditempat yang tidak ada orang lain.
Bahkan saat itu Sania sedang duduk di toilet wanita, ia menangis sambil menyuap sepotong roti karena paling tidak ia harus bertahan agar tetap hidup.
Sangat menyedihkan namun ia tidak ada pilihan lain.
Tok.. tok.. Sania mengetuk pintu ruangan rektor setelah ia mendapat panggilan darinya.
" Masuklah.."
" Anda memanggil saya, bu."
Glek. Sania menelan ludahnya saat itu rektor tersebut bahkan menghela nafasnya sebelum berbicara.
" Setelah kami berdiskusi dengan yayasan, senat universitas, dan dewan pengawas kami memutuskan dengan berat hati kau dikeluarkan dari kampus ini."
Petir bagaikan menyambar di atas kepala Sania untuk beberapa saat pandangannya terasa gelap.
" Tapi kenapa, bu? Apa karena kasus hukum saya kemarin? Tapi semua orang tahu bahwa saya tidak bersalah."
" Iya kami tahu hal itu. Tapi karena kasus itu, ada dampak buruk yang kami dapatkan terlebih kau adalah penerima beasiswa disini dan sesuai peraturan bahwa selama kau belajar di kampus ini tidak boleh terlibat masalah hukum apapun."
__ADS_1
Sania mulai meneteskan air mata. Lagi-lagi ia dipaksa menyerah oleh keadaan. Setelah menerima kenyataan pahit untuk yang kesekian kali Sania pun memutuskan untuk kembali kerumahnya sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
.....
Sandra yang melihat perubahan sifat Sania merasa sangat sedih. Ia lebih banyak berdiam diri, melamun dan tidak ada semangat hidup.
Setelah berpikir lama akhirnya ia menyampaikan hal yang tak terduga pada Sania.
" Nak, bagaimana kalau kau sekolah ke luar negeri. Sebenarnya ibu sudah menabung sejak lama untuk mempersiapkan hal ini dan ibu rasa itu akan cukup untuk biaya pendaftaran awal dan juga biaya hidupmu sementara selama disana."
" Apa maksud ibu?."
" Jika kau masih berkuliah disini mungkin saja kau akan kesulitan seperti sekarang orang-orang akan selalu membicarakanmu. Tapi kalau kau ke luar negeri tidak akan ada yang mempermasalahkan kasus mu. Ibu sudah mencari tahu ada kampus kedokteran di Amerika yang membuka program beasiswa. Masih ada waktu sampai tahun ajaran baru dimulai kalau kau mendaftar dari sekarang."
" Tapi.. bagaimana denganmu nanti?."
" Jangan memikirkan ibu, ibu tahu menjadi dokter adalah cita-cita muliamu. Ini permintaanku yang pertama dan terakhir jadilah dokter yang hebat saat kau kembali nanti."
Sania hampir tak bisa berkata-kata. Ia sungguh terharu karena memiliki ibu seperti Sandra yang bisa mengerti perasaannya tanpa harus ia menjelaskannya.
Sania langsung memeluk ibunya dan menumpahkan segala kesedihannya yang sudah menumpuk di dadanya. Ia menangis lama sekali dalam pelukan Sandra hingga beban dihatinya benar-benar sirna.
__ADS_1