
Hari yang sibuk bagi para dokter di pusat kejiwaan sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. Beruntung berkat kebijakan baru yang dibuat dokter residen termasuk Sania tidak lagi mendapatkan shift malam jadi para dokter senior dan dokter magang yang harus bergantian mendapat jadwal malam.
" Waaah... wajahmu sangat cerah, segar dan berseri, ya. Tidak sepertiku." seru dokter Marta rekan Sania yang juga lebih senior darinya baru saja menyelesaikan tugas malamnya.
" Semangat dokter Marta, seniorku yang cantik."
" Hei.. Ada gosip terbaru lagi. Katanya beberapa kandidat untuk direktur sudah ditentukan. Ada satu kandidat terkuat dia dokter spesialis bedah yang baru bergabung dan masih muda. Apa jangan-jangan dia itu cucu presdir?."
" Entahlah.. Aku juga mendengarnya tapi itu bukan urusan kita."
" Kau itu memang gadis yang membosankan. Kalau memang dia cucu presdir yang itu aku akan semangat lagi jaga malam lalu pagi harinya aku akan mendapatkan energi dari ketampanan pria sempurna itu. Hahaha..."
Sania hanya menggeleng pelan. Ia sudah sangat mengenal dokter Marta yang seorang pengagum pria tampan.
Gedung departemen pusat kejiwaan yang berada terpisah dari gedung rumah sakit utama memang sedikit menyulitkan Sania saat ada hal mendesak seperti saat ini ia mendapat panggilan dari UGD bahwa salah satu pasien kejiwaan mengalami pendarahan akibat percobaan b*nuh di*i.
Setelah ditangani dengan baik oleh dokter yang bertugas hari itu semua situasi terkendali. Sania dapat bernafas lega karena ia selamat namun ia tetap masih merasa tidak tenang.
Sania berniat kembali ke tempat kerjanya bersama seorang rekannya yang lain namun karena tidak memperhatikan jalan ia bertabrakan dengan seseorang.
" Aaw.. Maafkan saya.."
Sania menundukkan kepalanya untuk meminta maaf pada orang yang ia tabrak.
" Sania.."
" Senior.. Bima?."
" Kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?."
" Aku...
" Dokter Sania.."
__ADS_1
Rekan Sania yang sudah berjalan duluan memanggilnya.
" Maaf senior sekarang saya sibuk ada hal mendesak dengan pasien kami. Sampai bertemu lagi."
Sania berlari menyusul rekannya meninggalkan Bima yang masih berdiri memperhatikannya. Ia memasukkan satu tangannya kedalam saku celana dan tersenyum sendiri.
Tanpa Bima sadari seseorang melihat hal itu. Ia menatap Bima dengan tidak suka dan itu adalah Ezra.
Siapa pria itu? Sepertinya mereka sudah saling mengenal. Ucap batinnya.
Haaah... Sania menghela nafas panjang karena lelah. Padahal jam kerjanya masih panjang namun energi Sania sudah terkuras habis sejak pagi.
" Dokter Sania, terimakasih sudah membantuku tadi."
" Itu juga sudah menjadi tugasku. Kita ini tim, jadi jangan sungkan padaku."
" Iya, kalau saja tadi pasienku tidak selamat aku pasti akan merasa sangat bersalah."
" Beruntung kita bisa menyelamatkannya. Anda sudah bekerja keras, senior."
Seorang perawat menyela pembicara kedua dokter itu. Sania pun meminta ijin untuk segera menemui kepala departemennya itu.
" Anda memanggil saya, prof."
" Iya. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, dokter."
Sania duduk setelah dipersilahkan olehnya.
" Begini, ada pasien baruku selama beberapa minggu terakhir ini. Tapi kurasa dia akan lebih nyaman jika ditangani olehmu karena kalian sama-sama masih muda."
" Saya, prof?."
" Ini data pribadi dan hasil pemeriksaannya. Anak ini baru berusia 17 tahun, mengalami gangguan kecemasan dan mengarah ke depresi. Ini mempengaruhi nilai akademisnya jadi ibunya sangat khawatir."
__ADS_1
" Tapi saya tidak yakin.."
" Kasusnya sama seperti pasien yang kau bilang tidak ingin terbuka dengan dokternya. Dia tidak mengijinkan ku untuk merawatnya jadi sangat sulit membujuknya untuk melakukan terapi lebih lanjut. Aku memberikan kesempatan untukmu melatih kemampuanmu. Kau tenang saja aku akan membimbing mu karena pasien ini spesial untukku, dia keponakanku."
" Tapi kenapa anda mempercayakan dia pada saya yang masih residen, bukannya banyak dokter senior yang lebih baik dari saya?."
" Karena diantara yang lainnya, kau dokter yang sangat berdedikasi dan tulus pada pasienmu. Aku melihat kemampuanmu terus meningkat jadi kuharap kau mau membantuku dalam hal ini."
" Apa yang anda katakan, saya masih banyak kekurangan."
" Jadi apa kau mau menerima tawaranku ini atau tidak?."
" Baik, prof. Saya akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan anda."
" Bagus. Terimakasih dokter Sania."
Apartemen Ezra.
Ezra menuju lift setelah memarkir mobilnya di lantai underground. Saat lift baru sampai lantai 1 seorang pria masuk sambil menunduk melihat ponselnya lalu berdiri didepan Ezra.
Hingga mereka naik, pria ini masih tidak menekan nomor lantai tujuannya. Ezra kesal dengan hal itu tapi ia berusaha tidak mempedulikannya.
Saat mereka akan sampai dilantai paling atas tempat tujuan Ezra, barulah ia membuka suara.
" Permisi, anda tidak menekan nomor lantai tujuan anda?." ucap Ezra dengan suara rendah dan datar.
Pria yang masih fokus dengan ponselnya itu menoleh membuat Ezra terkejut karena itu adalah pria yang ia lihat berbicara dengan Sania tadi pagi.
" Oh, lantai tujuan kita sama. Apa kau yang tinggal di unit sebelah?."
Bima memasang wajah ramah namun Ezra masih tak merubah mimiknya yang datar. Saat itu pintu lift terbuka, tanpa bicara apapun Ezra melangkah keluar mendahului Bima tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Saat menutup pintu unit apartemennya Ezra bahkan setengah membantingnya dan hal itu membuat Bima tertegun dengan heran.
__ADS_1
" Ada apa dengannya?."
Bima pun masuk setelah mendapatkan sambutan 'hangat' dari tetangga apartemennya.