Shining Sunny

Shining Sunny
Menjalin Hubungan


__ADS_3

Sania sedang merapikan meja kerjanya setelah jam kerjanya berakhir. Hari ini ia tidak mendapat jatah lembur jadi ia bisa pulang saat matahari masih terasa panas menyoroti bumi.


Bunyi ponselnya menyela dan ternyata Ezra yang melakukan panggilan facetime.


" Ada apa, kenapa kau melakukan facetime? Tumben sekali."


" Tiba-tiba aku ingin melihat wajah kakak. Apa hari ini kau lembur?."


" Kau tidak lihat aku sudah bekerja keras sejak pagi sampai-sampai penampilanku kusut begini. Untungnya departemenku masih punya hati jadi aku dibebaskan dari lembur hari ini."


" Hahaha.. Kau lebih cantik seperti itu, kak. Jangan dirapikan biarkan rambutmu seperti itu."


" Dasar.. Kalau kau menelepon hanya untuk menggangguku aku tutup sekarang."


" Jangan. Aku mau makan masakan kakak hari ini, apa boleh?."


" Baiklah. Aku akan mampir ke supermarket sebelum pulang."


" Jangan lama-lama ya, aku sudah kelaparan dari tadi."


Selesai berpamitan dengan rekannya, Sania menuju supermarket yang berada diseberang rumah sakit. Baru ia akan masuk, untuk yang kedua kalinya ia berpapasan dengan Bima yang baru selesai berbelanja.


" Senior.."


" Hai..kita bertemu lagi."


Sania menelisik penampilan Bima yang santai dengan kantong plastik yang dibawanya.


" Apa senior tinggal disekitar sini?."


" Iya. Lalu kau?."


" Iya aku juga."


" Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu disini dalam waktu singkat."


" Ceritanya panjang, lain kali semoga kita bisa berbincang lebih lama. Aku buru-buru jadi aku masuk dulu, senior."


" Baiklah, oh ya kau mengganti nomor ponselmu?."


" Ah, benar. Saat tiba di Indonesia aku menggantinya dan ponsel lamaku juga hilang jadi aku tidak punya kontakmu dan yang lainnya. Maaf.."


" Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku ke nomor itu."

__ADS_1


" Oke.. Aku pergi dulu senior."


Bima menghela nafas inginnya ia bisa mengobrol dengan Sania tapi ternyata ia belum menemukan waktu yang tepat.


Sania menenteng dua plastik besar hasil berbelanjanya di supermarket. Saat masuk Ezra ternyata sedang fokus bermain game di ruang tamu sampai-sampai ia tak menyadari Sania sudah pulang.


Sudut matanya menangkap ada pergerakan jadi ia pun menoleh dan ternyata Sania sedang merapikan belanjaannya dan memasukkannya kedalam kulkas. Dilanjutkan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya.


" Ada yang perlu ku bantu?."


" Tidak usah. Hari ini biar aku yang memasak untukmu."


Sania kesana kemari mencari sesuatu. Ezra yang menjadi tidak fokus akhirnya menghentikan permainannya.


" Kakak cari apa?."


" Mangkok besar yang berwarna putih."


" Ada di atas."


Sania mendongak dan ternyata benar. Ia berjinjit namun tangannya tak bisa meraihnya.


Ia masih berusaha namun tangan Ezra mendahului untuk mengambilnya. Mengetahui Ezra berada dibelakangnya Sania sedikit gugup karena mereka sangat dekat. Sania berbalik namun Ezra tak mundur selangkah pun. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya pada Sania dengan kedua tangannya menahan pada kitchen counter agar Sania tidak kabur dari hadapannya.


" Me-Menggantung apanya?."


" Jangan pura-pura tidak ingat. Yang kukatakan saat kita tidur bersama dihotel, aku tidak sedang mengigau saat itu dan juga yang aku katakan beberapa hari lalu."


Blush. Wajah Sania memerah dan terasa panas. Ia bahkan mengipasi dengan tangannya.


" Bisakah kau mundur dulu disini panas sekali."


" Tidak mau sebelum kau menjawabku."


" Baiklah, kita akan bicara setelah makan malam."


Sania dengan lembut mendorong tubuh Ezra. Namun Ezra masih terus menatapnya selama beberapa saat.


" Oke.. Asal kau janji tidak akan kabur lagi."


" Iya aku mengerti."


Ezra akhirnya menuruti perkataan Sania ia pun kembali duduk di sofa untuk melanjutkan permainannya.

__ADS_1


Bahaya..tadi itu sangat berbahaya. Ucap Sania dalam hatinya.


Sania kembali mengumpulkan kesadarannya dan melanjutkan apa yang akan ia kerjakan. Sesuai janjinya setelah makan mereka akhirnya duduk bersama diruang tamu.


Ezra duduk santai sembari menumpangkan kakinya. Wajahnya pun terlihat tenang berbeda dengan Sania yang duduk dengan gelisah.


" Ezra, aku akan menjelaskan sesuatu padamu sebelum menjawab pernyataan cintamu. Saat seorang dokter melakukan perawatan pada pasiennya, kami harus membangun hubungan emosional dengan pasien kami sehingga kau akan merasa nyaman dan juga merasa bergantung pada dokter mu. Bagaimana aku menjelaskannya, ya.. Jadi perasaan yang kau rasakan padaku bukan cinta tapi hanya ikatan emosional yang sudah kita jalin selama ini."


Ezra masih diam dan sesekali tersenyum saat Sania bicara. Terkadang Sania tergagap dan kesulitan menemukan kata-kata yang tepat tapi Ezra tahu ia hanya sedang berusaha menyangkal perasaannya.


" Kak, kalau aku bilang aku menyukaimu sejak aku kecil apa kau masih akan menyangkal hal ini?."


" Apa?. Tidak mungkin."


" Kau itu sangat peka terhadap kondisi orang lain tapi bagaimana bisa kau tidak bisa menilai perasaan seseorang padamu. Yang kau jelaskan itu semua aku tidak peduli, karena yang kuinginkan sekarang hanya bisa memilikimu."


" Tapi Ezra..aku.."


" Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau menganggap ku keluargamu satu-satunya yang kau punya. Kalau hubungan kita tidak berhasil kau takut kehilangan sosok adikmu ini, kan? Aku janji apapun yang terjadi kita akan tetap seperti ini. Kumohon kak beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu."


Ezra meraih tangan Sania dan menggenggamnya erat. Hatinya menjadi luluh saat Ezra menatap dengan mata memohon. Sania sebetulnya masih bingung dengan perasaannya terhadap Ezra namun mengingat semua hal yang sudah dilakukannya untuknya dan juga Ezra adalah laki-laki yang paling baik yang pernah Sania kenal hanya saja ia selalu melihatnya sebagai adik.


Ezra mungkin tanpa sadar sudah memasuki hatinya meskipun ia menyangkal hal itu jadi Sania tidak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk yang kesekian kalinya kehilangan orang yang berharga untuknya.


Lama sekali Sania berpikir namun Ezra masih setia menunggu jawabannya.


" Baiklah, mari kita coba menjalin hubungan yang lebih dari ini."


" Kakak serius? Kau tidak sedang bercanda, kan?. Coba katakan sekali lagi."


Ezra hampir tak mempercayai pendengarannya.


" Sudahlah.. Aku mau ke kamar dulu."


Sania bangun namun Ezra menahan tangannya dan menariknya hingga Sania kembali duduk lalu ia menciumnya dengan lembut yang lama kelamaan semakin intens. Ezra baru melepaskan pagutan bibirnya saat Sania terlihat kewalahan dan menepuk-nepuk pundak Ezra.


" Ini ciuman kita yang pertama kakak tidak boleh melupakannya."


Sania masih sedikit syok karena mendapat serangan mendadak dari Ezra yang tidak pernah ia sangka.


Ia bahkan berjalan sempoyongan menuju kamarnya karena perasaan tak menentu yang ia rasakan. Setelah menutup pintu kamarnya ia setengah berlari menuju ranjang lalu menutup wajahnya dengan selimut dan berteriak dengan perasaan girang juga malu.


" Bagaimana bisa.. Aku dan Ezra..aakh..kenapa dia jago sekali padahal aku lebih dewasa darinya dia pasti sedang menertawakan ku sekarang."

__ADS_1


__ADS_2