Shining Sunny

Shining Sunny
Berpisah


__ADS_3

Sudah beberapa hari Ezra berada dirumahnya namun ia hampir tidak pernah bertemu dengan Sania. Saat ia mendatangi rumah Sania selalu saja ia tidak ada dan Ezra pun harus pulang dengan wajah kecewa.


Sania mengintip dibalik jendela kamarnya dadanya sesak melihat Ezra yang seperti itu. Rasa bersalah juga muncul dihatinya, ia bertanya-tanya apakah selama ini ia sudah membuat Ezra terlalu bergantung padanya.


Ezra bahkan menolak keluarganya hanya agar bisa terus bersama dengan Sania.


Aku tidak bisa terus membuatnya seperti itu. Aku harus tegas padanya.


Keesokkan harinya Ezra kembali ke rumah Sania. Kali ini rumah itu dalam keadaan terbuka. Ezra dengan wajah ceria memanggil nama Sania.


" Kak..kak Sani."


" Ya." Sania menjawab dari dalam kamarnya.


" Kakak kemana saja. Kenapa aku tidak bisa menemui mu beberapa hari ini?."


" Aku sibuk Ezra. Kau pikir aku bisa terus kau temui setiap saat."


Sania berkata dengan tidak memandang Ezra, ia masih sibuk dengan baju-bajunya yang sedang ia bereskan kedalam koper besar. Ezra termenung melihat hal itu.


" Kak, kau mau pergi kemana? apa akan lama?." Ezra lalu masuk kedalam kamar Sania dan duduk dipinggir ranjangnya.


" Ya. Aku akan ke Amerika untuk bersekolah disana."


" APA? kenapa kakak tidak bilang padaku?."

__ADS_1


Ezra meninggikan suaranya Sania yang sedang membelakanginya pun sempat terdiam.


Sania berusaha mempertahankan ekspresinya meskipun dalam hatinya ia juga sangat tidak tega.


" Apa itu hal yang penting? aku bilang atau tidak, itu tidak akan ada yang berubah."


" Kak, kenapa kau jadi seperti ini? apa aku melakukan kesalahan padamu?."


Pertahanan Sania mulai goyah mendengar Ezra dengan suaranya yang bergetar menahan tangis. Ia sedikit menyesal sudah bersikap dingin pada anak yang lembut itu. Sania lalu duduk dihadapan Ezra yang menundukkan kepalanya.


" Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Maafkan kakak karena terus menunda memberitahu hal ini padamu."


" Kakak bohong padaku. Kakak bilang kita akan terus bersama."


Ezra mulai menitikkan air matanya membuat hati Sania semakin sakit.


Sania bangkit lalu melipat kedua tangannya.


" Ezra, apa aku pernah mengajarimu menjadi anak yang cengeng seperti ini? Jangan membuatku menyesal sudah mengurus mu dari kecil."


Sania berbalik menghadap tembok sambil menggigit bibirnya. Ezra pun bangun dari duduknya untuk mendekat pada Sania.


" Tidak, maafkan aku... aku hanya tidak tahu harus bagaimana kalau kakak tidak ada."


" Kau itu sudah besar, sudah saatnya kau memikirkan hidupmu sendiri jangan terus bergantung padaku karena aku pun punya kehidupanku sendiri. Meskipun kau merengek seperti ini aku tidak akan berubah pikiran."

__ADS_1


" Apa harus sampai seperti ini, apa kakak tidak memikirkan perasaanku."


" Kupikir kau adalah orang yang akan selalu mendukung apapun keputusanku. Tapi kau hanya memikirkan dirimu sendiri aku sangat kecewa padamu, Ezra."


" Baiklah aku mengerti. Tapi kumohon jangan marah padaku."


" Bagaimana aku tidak marah, kalau kau bersikap seperti ini kau akan membuatku kesulitan dan tidak tenang meninggalkanmu."


" Aku akan baik-baik saja, aku janji."


" Tidak sampai kau berjanji akan kembali pada keluargamu."


" Apa? kenapa aku harus kembali?."


" Kau pikir aku tidak tahu selama ini ibumu selalu memintamu kembali tapi kau selalu menolak karena aku, kan?. Aku merasa buruk karena itu, jadi jika kau ingin aku tenang pergi dari sini, kumohon pulanglah pada ibumu."


Ezra termenung cukup lama mendengar hal itu.


" Apa itu akan membuat kakak bahagia jika aku kembali pada mereka?."


" Iya, aku akan sangat bahagia dan berterima kasih kalau kau mau menuruti permintaanku yang satu ini."


Ezra pergi dari rumah Sania dengan perasaan kecewa dan terluka sesekali ia mengusap air matanya yang terus jatuh. Begitupun Sania saat Ezra meninggalkannya ia tidak kuat menahan kedua kakinya. Ia terduduk dilantai kamarnya menangis mengingat kata-kata kejam yang ia ucapkan pada Ezra.


Namun itu semua demi kebaikan mereka terutama Ezra jadi Sania akan mencoba mengerti kalaupun pada akhirnya Ezra akan membencinya.

__ADS_1


" Maafkan aku, Ezra..maafkan aku.."


__ADS_2