
Bunyi pesan masuk terdengar dari ponsel Sania. Ternyata Ezra yang menghubunginya untuk yang ketiga kalinya dalam hari itu.
Ini makan malamku hari ini. Kakak juga jangan lupa makan.
Ezra tak lupa mengirimkan sebuah foto piring berisi makanannya pada Sania. Sania seperti biasa hanya membalasnya dengan emoticon jempol atau gambar stiker lucu.
Hasil MCU ku sudah selesai. Kapan kakak pulang?
Benarkah? Aku akan pulang sebentar lagi hasil pemeriksaan dokter mu yang sebelumnya juga tolong berikan padaku.
" Sepertinya Ezra melakukan semua hal yang ku katakan dengan baik. Insomnia nya juga sedikit ada perubahan."
Sania tersenyum senang sambil memikirkan bahwa ia akhirnya bisa berguna untuk Ezra. Sesi pelatihan khusus dokter baru akhirnya selesai lebih cepat dari perkiraan jadi ia bisa sedikit bersantai kedepannya dan pulang lebih awal dari biasanya.
" Akhirnya.. Aku akan sering melihat langit senja mulai sekarang."
Sania menuju apartemen Ezra yang juga tempat tinggalnya sekarang dengan perasaan bahagia. Kini ia bisa memiliki banyak waktu untuk merawat Ezra dan menangani masalah kesehatannya. Jika ia berhasil mungkin beban dihatinya benar-benar akan hilang.
Ezra menyambut Sania dengan wajah sumringah. Ia baru saja selesai membereskan dapur setelah memasak makanannya.
" Kakak pulang cepat hari ini."
" Iya, kedepannya pun aku tidak akan pulang larut malam lagi."
" Baguslah jadi sekarang kakak bisa punya banyak waktu belajar dirumah."
" Kau benar. Belajar dirumah lebih nyaman dan aku bisa fokus. Dan yang paling penting sekarang aku punya banyak waktu untuk merawat mu."
" Ya. Kakak mandilah dan istirahat laporan pemeriksaan ku semuanya sudah aku simpan dimeja di kamarmu."
" Oke.. aku akan memeriksanya dan satu jam lagi tolong luangkan waktu untukku. Kita akan mencoba sesi yang sudah ku jelaskan waktu itu."
Ezra terdiam selama sesaat lalu mengangguk dengan tersenyum seolah menyetujui permintaan Sania. Barulah setelah Sania masuk kamarnya Ezra terlihat gelisah.
__ADS_1
Aku menggunakan alasan gangguan tidurku untuk membuat kak Sania berada di sisiku. Tapi jika harus sejauh ini apa aku sanggup mengatakan segalanya padanya.
Ezra mengusap kasar wajahnya lalu pergi menuju kamarnya.
Sania selesai membersihkan dirinya. Rambutnya masih basah tapi ia sudah tidak sabar untuk melihat laporan pemeriksaan Ezra yang sudah menumpuk di mejanya.
Satu persatu ia membuka map tersebut. Seperti perkataan Ezra beberapa dokter sudah ia temui sejak beberapa tahun lalu dan ia pun rutin melakukan medical check up tapi hasil pemeriksaannya tidak ada yang buruk. Ia hanya didiagnosis kelelahan, pola tidur yang buruk dan masalah kesehatan ringan.
Sania beralih ke map terakhir dan itu adalah hasil pemeriksaan dari rumah sakit tempatnya bekerja.
" Semua hasilnya bagus. Dia memang sepertinya menjaga kesehatan dengan baik akhir-akhir ini. Jantung bagus, organ lainnya juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak perlu penanganan khusus untuk sekarang."
Sania termenung selama beberapa saat. Ia lalu membuka kembali map-map itu.
" Yang dia temui semuanya hanya dokter umum. Sudah kuduga Ezra tidak pernah mendapatkan penanganan dari ahli kejiwaan."
Satu jam berlalu sesuai janji Sania dan Ezra akan melakukan sesi tanya jawab antara dokter dan pasien. Mereka melakukannya dikamar Ezra itu dipilih Sania agar Ezra merasa nyaman.
" Baiklah, kau siap? Jangan tegang ini hanya pertanyaan dasar saja."
" Eh? Aah.. Ini karena aku baru pertama kali melakukannya dan kau tahu sendiri aku ini belum ahli di bidang ini."
" Kalau begitu anggap saja kita sedang latihan."
" Baiklah."
Sania mulai memberikan beberapa pertanyaan dan Ezra pun menjawab dengan sebaik dan sejelas mungkin tentang kondisi kesehatannya. Ia juga terlihat tenang dan mendengarkan saran-saran yang diberikan Sania dengan penuh antusias. Hingga tiba pertanyaan yang membuat Ezra terdiam seketika.
" Bagaimana hubunganmu dengan keluargamu?."
Sania melirik untuk mengamati reaksi Ezra. Jika ada sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya Ezra pasti akan bereaksi yang sama. Ia sepertinya kebingungan untuk menjawab jadi Sania melanjutkan pertanyaannya yang lain.
" Sudah selesai untuk hari ini." ucap Sania.
__ADS_1
" Sudah? Kenapa cepat sekali. Kakak sepertinya memang dokter hebat."
Mendapatkan pujian seperti itu Sania hanya tersenyum.
" Ezra, kau bilang kau bekerja di rumah sakit yang sama denganku. Memangnya di bagian apa?."
" Kakak bilang sudah selesai kenapa masih ada pertanyaan susulan."
" Ini bukan pertanyaan, aku.. hanya penasaran."
" Aku hanya pekerja di bagian manajemen. Gedung kita berjauhan jadi kita tidak pernah bertemu."
" Oh, begitu ya. Rumah sakit menggaji karyawan dan semua stafnya dengan baik jadi itu sebabnya kau bisa membeli apartemen ini."
" Kakak lupa kalau orang tuaku kaya raya?. Ini pemberian dari mamaku."
" Oh, dulu mama mu bilang kau calon pewaris perusahaan. Lalu kenapa kau sekarang bekerja dirumah sakit?."
" Itu karena aku tidak punya kriteria dan belum punya kemampuan apapun seperti yang diharapkan oleh..."
Ezra tiba-tiba menjeda ucapannya dan menatap Sania yang sedang memperhatikannya.
" Apa yang kakak lakukan padaku? Apa kau menghipnotis ku? Kenapa aku jadi membicarakan hal itu meskipun aku tidak ingin."
" Hei, kemampuanku belum sampai situ. Kau pikir hipnoterapi bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini? Kau bodoh juga ternyata hahaha."
Sania tertawa dan hal itu membuat Ezra bahagia dan juga bersyukur karena orang yang berharga baginya kini ada disampingnya.
Setelah berbincang cukup lama Ezra merasakan kantuk yang tidak seperti biasanya jadi ia meminta ijin untuk tidur lebih awal dan tak lama ia pun terlelap meskipun Sania masih ada di kamarnya. Sania membuat kamar Ezra senyaman mungkin sebelum ia meninggalkannya.
Ia menyalakan humidifier untuk menjaga kelembaban tak lupa juga ia menyiapkan lilin aromaterapi agar Ezra semakin rileks.
Sebelum ia keluar Sania pun mematikan lampu kamar Ezra. Terkadang setiap beberapa jam Sania akan mengecek ke kamarnya memastikan ia tidur dengan baik sama seperti malam-malam sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa minggu melakukan hal yang sama Sania merasa yang ia lakukan untuk Ezra sedikit membuahkan hasil. Ia tersenyum lega saat mengetahui hal itu dan semakin bersemangat untuk membantu Ezra mengatasi insomnia nya.