
Setelah pergulatan batin yang cukup panjang, Sania akhirnya memutuskan untuk setuju bersekolah diluar negeri sesuai permintaan Sandra. Ia sudah mempersiapkan segalanya termasuk mendaftar untuk program beasiswa.
Sania hanya tinggal menunggu apakah ia lolos atau tidak dan itu membuatnya semakin cemas. Ada hal yang mengganjal dihatinya selama itu karena ia belum memberitahukan niatnya pada Ezra.
Hari itu Ezra yang sebentar lagi akan meninggalkan bangku SMP pulang kerumahnya dengan semangat karena tahu ada Sania yang menunggunya.
Saat sedang berjalan sosok yang paling ia rindukan ketika pulang itu ternyata sudah berdiri bersandar pada tembok pagarnya untuk menyambutnya.
" Kakak.."
Ezra melambai dari kejauhan membuat Sania tertawa dan membalas melambaikan tangannya.
" Kau cepat juga sampainya."
" Iya aku buru-buru karena merindukanmu."
" Hahaha..lalu bagaimana dengan ujianmu?."
" Semuanya berjalan baik aku yakin hasilnya pun akan memuaskan."
ucap Ezra bangga membuat Sania pun senang.
" Karena kau sudah selesai ujian akhir aku akan mentraktir mu es krim. Kau mau?."
" Memangnya aku anak kecil."
__ADS_1
Sania mengulum senyum karena Ezra yang sekarang sering protes jika ia memperlakukannya seperti anak kecil namun Ezra tetap mengikuti langkah Sania menuju minimarket tanpa banyak bicara.
Mereka berdua duduk di kursi yang disediakan sambil menikmati es krim yang mereka pilih.
" Kak. Aku sudah memutuskan, aku juga ingin menjadi dokter dimasa depan."
Sania menaikkan kedua alisnya sedikit terkejut namun juga bahagia akhirnya Ezra memiliki target yang akan dicapainya.
" Aku senang sekali mendengarnya. Kalau kau yakin dengan cita-citamu maka kau harus terus mengejarnya."
Ezra mengangguk setuju. Dan merekapun berbincang banyak tentang hal itu sampai-sampai Sania kehilangan kesempatan untuk memberitahu Ezra tentang sekolahnya.
Beberapa hari kemudian, waktu yang ditunggu Sania tiba. Ia dengan perasaan tak menentu memeriksa hasil pengumuman penerimaan beasiswa di kampus luar negeri itu.
Namanya tertera untuk menjadi salah satu penerima beasiswa dan Sania hampir tidak bisa berkata-kata.
Sandra yang sedang berada di dapur segera menuju kamar Sania dan ia yang penasaran melihat laptopnya dan saat menemukan nama Sania, Sandra pun tak kuasa menahan haru. Mereka berpelukan penuh kebahagiaan.
" Selamat, nak. Kau memang anakku yang membanggakan."
Sepekan setelah hasil pengumuman Sania sudah harus menjadwalkan keberangkatannya. Namun ia lagi-lagi belum ada kesempatan bicara pada Ezra. Dan hari itu tekadnya sudah bulat ia akan mencoba untuk membuat Ezra mengerti dengan keputusannya.
Sania seperti minggu lalu menunggu Ezra pulang dari asrama sekolahnya. Libur panjang sekolah sudah hampir dimulai jadi untuk menebus kesalahannya yang terus menunda memberitahu Ezra, Sania berencana untuk menghabiskan sisa waktunya berada di Indonesia dengan melakukan hal-hal menyenangkan bersama Ezra seperti saat mereka masih kecil.
Ddrrt.. ddrrt.. bunyi ponselnya menyela Sania. Ia menatap nomor baru yang menghubunginya itu dengan ragu ia pun menerima panggilan itu.
__ADS_1
" Hallo.."
" Hallo.. apa benar ini dengan Sania?."
Suara wanita asing diujung sana membuat Sania mengerutkan dahinya.
" Benar, dengan siapa saya bicara?."
" Perkenalkan saya Maudy, mamanya Ezra."
Deg. Sania terkejut karena hampir 8 tahun mengenal Ezra tapi ia tidak pernah bertemu dengan keluarganya dan sekarang ibunya tiba-tiba menghubunginya.
" Iya bu, apa ada yang bisa saya bantu? dan bagaimana anda bisa tahu nomor handphone saya?."
" Sebelumnya saya minta maaf karena menghubungimu seperti ini. Karena satu dan lain hal saya juga tidak bisa mendatangimu langsung. Saya mendapatkan nomormu dari bibi pembantu."
" Baiklah."
" Begini Sania, ada hal yang ingin aku minta tolong padamu. Ini mengenai Ezra. Sebenarnya saya sudah lama membujuknya untuk kembali tinggal bersama saya tapi dia terus menolak. Dan salah satu alasannya karena kau, orang yang sudah dia anggap keluarganya."
Kata-kata Maudy terdengar santun tapi Sania merasakan sedikit keangkuhan didalamnya. Namun ia mencoba untuk terus mendengarkannya sampai selesai.
" Saya mengucapkan terimakasih pada kalian karena sudah banyak membantu dan juga menjaga Ezra dari dulu. Tapi keluarganya pun disini membutuhkannya, dia adalah satu-satunya calon pewaris perusahaan ayahnya jadi saya ingin mempersiapkannya dari sekarang. Jika karena kalian Ezra kesulitan memilih, saya sangat berharap kau bisa membujuknya agar dia kembali ke tempat yang seharusnya dia berada."
Dada Sania terasa tertusuk oleh kata-kata Maudy. Namun ia juga baru tahu jika selama ini Ezra yang ditelantarkan oleh keluarganya ternyata bukan anak sembarangan. Sepanjang malam ia memikirkan hal itu sampai-sampai Sania lupa bahwa Ezra sudah pulang sejak tadi.
__ADS_1
Setelah pembicaraannya dengan Maudy, Sania merasa ada benarnya jika Ezra kembali pada keluarganya.
Karena paling tidak ia tidak akan terlalu khawatir meninggalkannya sendiri nanti terlebih keluarganya cukup kaya sehingga akan mudah bagi Ezra mendapatkan apa yang dia mau.