
Kehidupan Ezra yang mengundang rasa iba Sania membuatnya semakin memperhatikan anak itu.
Setiap hari ia akan menunggunya untuk mengantarnya ke sekolahnya karena selain mereka satu arah paling tidak Ezra tidak akan diganggu lagi jika tahu ada Sania yang selalu menjaganya.
Setiap minggu pun Sania akan menemaninya membeli beberapa kebutuhan di minimarket termasuk makanan yang bisa disimpan berjaga-jaga kalau bibi pembantunya tidak menyiapkan makanan yang cukup untuk Ezra.
Sania pun mengajari Ezra cara menggunakan peralatan rumah tangga dengan aman seperti kompor, rice cooker, televisi bahkan mesin cuci jika sewaktu-waktu ia membutuhkannya.
Hampir setiap malam Ezra pun diundang untuk makan bersama Sania dan ibunya. Hal itu membuat Ezra tidak lagi kesepian seperti sebelumnya. Sosok Sania dan Sandra kini mulai mengisi bagian hidupnya dan Ezra pun berubah kembali menjadi anak yang periang.
Malam itu Sania berjanji pada Ezra untuk mengajarinya beberapa pelajaran yang menurutnya sulit. Lama kelamaan mereka berdua terlihat seperti saudara kandung, Sania sekarang tidak segan-segan lagi pada Ezra jika ia melakukan kesalahan. Selain menegurnya Sania kadang menjitak keningnya untuk membuatnya serius belajar.
" Aku kan sudah menjelaskan berulang-ulang kau ini dengar tidak?."
Sania menaikkan suaranya hingga didengar Sandra dari dapur.
" Tapi aku masih belum mengerti, kak."
" Itu pasti karena kau lebih sering bermain PlayStation dirumah dibanding belajar, kan."
Ezra tersenyum polos dengan matanya yang seperti kucing membuat hati Sania bahkan luluh dan tidak lagi memarahinya.
" Sudah.. sudah.. kita makan cemilan dulu, yuk."
Sandra menyela dengan membawa nampan berisi buah-buahan yang sudah dipotongnya.
" Sania selesai ini kau antar Ezra pulang ya."
" Hhhm."
Ezra tersenyum mendengarnya ia tidak bisa menahan kebahagiaan saat Sandra dan Sania yang begitu perhatian padanya seperti menggantikan peran ibunya yang hilang.
Beberapa tahun berlalu begitu saja. Ezra yang kini sudah duduk di bangku kelas 6 SD semakin tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Sania yang kini berada di jenjang sekolah menengah atas memilih untuk tinggal di asrama sekolahnya karena jarak dari rumahnya cukup jauh.
__ADS_1
Seperti biasa saat jumat sore ia akan pulang kerumahnya untuk menghabiskan akhir pekan dirumahnya.
Kriiiiet... pintu gerbang rumah Sania yang sudah usang selalu menimbulkan suara keras saat itu dibuka atau ditutup.
Ezra yang sedang berada didepan rumahnya tersenyum karena tahu Sania yang sudah ia tunggu setiap minggu akhirnya pulang.
Segera ia berlari ke arah rumah Sania dan benar saja ia mendapati Sania sedang membuka sepatunya.
" Kakak.."
" Oh, Ezra."
" Kakak sudah pulang?. Pasti lelah ya."
Ezra menghampiri Sania dan duduk disampingnya.
" Begitulah. Ezra kau sudah makan?."
Sania tersenyum dan mengajak Ezra masuk kerumahnya. Sandra yang hari itu harus lembur mendadak menyuruh Sania untuk memasak makanannya sendiri.
" Kau tunggu aku akan buat makanan dengan cepat."
Ezra duduk manis dimeja makan sambil memperhatikan Sania yang dengan gesit mengambil bahan yang seadanya di kulkas lalu mengolahnya menjadi masakan.
Meskipun hanya satu hidangan yang dibuat Sania namun Ezra makan dengan lahapnya.
Ia terus saja tak hentinya bercerita dengan mulut yang penuh makanan.
" Kakak tau aku sekarang yang paling tinggi dikelas dan sering menjadi pemimpin upacara hari senin."
" Oh ya. Hebat sekali pak ketua kelas ini."
Ezra mengangguk dengan bangga pada dirinya sendiri. Sania yang melihat perubahan Ezra pun takjub dan terharu karena anak yang dulu pemalu dan pemurung itu kini menjelma menjadi anak laki-laki yang pemberani dan juga cerdas.
__ADS_1
" Kau masih suka menyisihkan brokoli?."
Sania yang melihat piring Ezra menegurnya dengan halus.
" Iya, tapi aku makan sayuran yang lain, ko."
" Kalau kau masih suka memilih-milih makanan aku tidak akan membuatkan makanan untukmu lagi."
Ezra sedih mendengar hal itu terlebih Sania menunjukan wajahnya yang kecewa hingga akhirnya ia mengambil brokoli itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Sania yang memang hanya berpura-pura marah pada Ezra tersenyum menang melihatnya dan mereka pun kembali makan hingga habis.
Sania lalu mengumpulkan piring-piring kotor dan peralatan bekas memasak ke dalam wastafel. Namun melihat itu Ezra menyela dan menawarkan diri untuk mencuci piring.
" Biar aku saja. Kakak istirahat saja sana."
Ezra mendorong Sania pelan lalu ia mulai membersihkan satu persatu piring-piring kotor itu.
Sania yang berada disamping Ezra baru menyadari bahwa sekarang tinggi Ezra sudah melebihi dirinya.
" Ezra, sejak kapan kau setinggi ini?."
" Tidak tahu, setiap hari aku selalu merasa lebih tinggi dari kemarin."
" Hahaha.. padahal dulu kau cuma setinggi ini."
Sania tertawa dan menggoda Ezra yang lugu itu namun dalam hatinya ia senang melihat pertumbuhannya yang pesat sekarang.
" Kak, aku sudah selesai."
Ezra masuk ke dalam kamar Sania yang pintunya terbuka namun ternyata Sania tertidur dimeja belajarnya dengan posisi duduk.
Tak ingin mengganggu Ezra meninggalkannya namun sebelum itu ia menyelimuti Sania takutnya ia kedinginan.
__ADS_1