
Triiing.. bunyi lift berhenti dilantai paling atas sebuah apartemen mewah saat ini.
Sania yang sejak masuk hanya berdiri kaku dengan memegangi kopernya akhirnya disadarkan oleh Ezra yang melangkah keluar dari lift itu.
" Ayo kak."
" Ah, iya."
Sania mengikuti Ezra dengan ragu sejak tadi ia memikirkan apakah keputusannya sudah tepat mengikuti Ezra kesana.
Dilantai itu hanya ada 2 pintu apartemen yang dilihat Sania lalu Ezra memasukkan password pada salah satunya dan pintu pun terbuka.
Sania memasuki apartemen itu namun ia hanya berdiri diambang pintu. Berbeda dengan Ezra ia mengambil minuman kaleng dari kulkasnya lalu duduk dengan nyaman disofa sambil menenggak minumannya.
" Mau sampai kapan kakak disitu?."
Ucap Ezra sambil menumpangkan kakinya dan menatap dengan tatapan aneh menurut Sania.
Sania menyadari bahwa Ezra yang sekarang sangat berbeda dengan saat dulu bahkan itu terlihat hanya dari tatapan matanya yang berubah.
__ADS_1
Sania mencoba melangkah mendekat. Perasaannya dilema dan juga sedikit menyesal karena menerima ajakan Ezra untuk menumpang di apartemennya. Canggung dan asing itu yang ia rasakan saat itu terhadap Ezra namun karena sudah kelelahan dan juga tidak memiliki tempat tujuan Sania mencoba berkompromi dengan keadaan paling tidak untuk malam itu saja ia bisa beristirahat.
" Maaf aku akan merepotkan mu untuk malam ini."
" Tidak perlu sungkan, kakak bisa beristirahat dikamar itu."
Ezra menunjuk sebuah kamar yang tidak jauh dari tempat mereka. Setelah itu Sania pun menuju kesana dengan tidak lupa mengunci pintu kamar itu.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan terlihat kamar itu cukup rapi seperti tidak pernah ada yang menempatinya.
" Bahkan sekarang pun dia tetap tinggal sendiri." gumam Sania.
Sania merebahkan tubuhnya di kasur. Meskipun sudah lewat tengah malam matanya sulit terpejam karena perbedaan waktu ditempat sebelumnya membuatnya harus beradaptasi kembali.
Ia memegangi perutnya yang lama belum terisi namun ia terlalu malu untuk keluar dan mengambil makanan sehingga Sania memutuskan untuk mencoba tidur.
Baru Sania menutup matanya suara ketukan di pintu kamar itu membuatnya mengurungkan niatnya.
" Ada apa, Ezra?."
__ADS_1
Ezra lalu menyodorkan sebuah piring pada Sania yang berisi pasta dan juga segelas jus jeruk kesukaannya.
" Kakak pasti lapar. Hanya ini yang bisa aku buatkan sekarang."
Sania tergagap oleh perlakuan Ezra. Ia merasa sangat tidak bijak menilai Ezra yang baru ia temui setelah sekian lama. Meskipun fisiknya berubah drastis dengan mimik wajah yang dingin namun Sania masih bisa merasakan kelembutan Ezra yang dulu selalu ia tunjukkan padanya.
Sania menundukkan kepalanya karena malu sudah berpikiran buruk padanya. Ia lalu menerima makanan yang masih mengepulkan asap panas itu dengan wajah tersenyum namun sebelum Ezra meninggalkannya Sania memintanya untuk duduk di sofa.
Sania mendudukan dirinya dilantai, ia mengobati kaki Ezra yang terluka saat menghentikan pencuri tadi dan membalutnya dengan kain kasa.
Ia juga dengan telaten mengoleskan salep pada wajah Ezra dan memakaikannya plester dibeberapa lukanya.
Ezra tak banyak bicara ia hanya menatap wajah Sania yang berada didekatnya hampir tak berkedip seolah masih tak menyangka bahwa wajah itu akan ia lihat kembali.
" Sudah selesai. Aku tidak akan bertanya macam-macam padamu tapi melihat luka-lukamu seperti ini kau pasti habis berkelahi."
Ucap Sania sambil membereskan kembali peralatan P3K miliknya.
Ezra hanya diam saat itu ia sepertinya tidak berniat menjawab apapun perkataan Sania dan Sania berusaha mengerti karena mungkin Ezra tidak nyaman dengannya.
__ADS_1
" Ah, maaf aku melewati batas ya. Kalau begitu aku akan masuk dan terimakasih untuk makanannya."