
Rumah Sakit.
Marta yang berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju gedung utama tak hentinya menggerutu.
" Kenapa harus aku yang memberikan file-file berat ini. Kenapa juga ruang administrasi harus sejauh itu."
Saat menuju lorong ruang administrasi, ia menghentikan langkahnya seketika dan bersembunyi dibalik tembok. Ternyata ada dua orang yang sedang berbicara serius di lorong yang sepi itu.
Salah satunya adalah presdir Mariana dan seorang dokter pria yang membelakangi Marta.
" Tidak bisakah kau mengabulkan permintaan terakhir nenek tua ini. Aku tidak akan meninggal dengan tenang kalau bukan kau yang menjadi direktur rumah sakit ini."
Ucap Mariana dengan membelai lembut wajah pria didepannya.
" Tapi nek, aku masih terlalu muda untuk hal itu. Lagipula aku masih mau mengabdi sebagai dokter bedah."
" Itu bisa diatur kalau kau sudah menjadi direktur. Nenek sungguh berharap banyak padamu, cucuku."
" Haaah.. Biarkan aku berpikir sekali lagi."
" Nenek akan tunggu jawabanmu secepatnya."
Mariana lalu berjalan meninggalkannya sendirian. Marta yang sejak tadi mendengar percakapan keduanya sungguh dibuat tak percaya.
" Jadi benar dokter bedah, Bima Dirgantara adalah cucu presdir. Sudah kuduga sejak awal ini akan menjadi berita heboh.."
Marta kembali ketempat kerjanya setelah menyelesaikan tugasnya. Ia buru-buru menuju konter perawat dimana beberapa dokter termasuk Sania sedang berkumpul.
" Teman-teman.. aku membawa berita eksklusif. Kalian akan kaget kalau mendengarnya."
" Memang apalagi berita yang akan dibawa oleh paparazi rumah sakit ini?." Sania menimpali.
__ADS_1
" Cih.. Benar ya kau tidak akan terkejut. Aku tak sengaja mendengar percakapan presdir dan cucunya yang ternyata adalah dokter bedah dirumah sakit ini, Bima Dirgantara."
Deg. Sania yang sedang menulis sesuatu menghentikan gerakannya dan termenung selama beberapa saat.
" Dokter Sania, bukankah dia yang bertabrakan denganmu tempo hari didekat ruang IGD. Kalian sepertinya saling mengenal." ucap salah satu dokter yang dulu dibantu Sania saat pasiennya masuk IGD.
" Apa? Sania mengenalnya? Kenapa kau merahasiakan semuanya kalau temanmu cucu presdir. Pantas saja kau seperti tidak tertarik dengan berita-berita yang ada tentangnya."
" Sebenarnya aku juga tidak tahu tentang hal itu."
" Bohong. Kau menyimpan rahasia ini untukmu sendiri, kan? Dasar pelit."
Marta masih terus mengoceh sedangkan Sania hanya terdiam tak menimpalinya lagi.
Senior Bima adalah cucu presdir. Ya Tuhan..
Saat masih terdiam seseorang mengiriminya pesan dan kebetulan sekali itu dari Bima yang sedang ia pikirkan.
Sania.. Apa kita bisa bertemu di atap saat jam istirahat?
Jam istirahat tiba. Seperti biasanya para dokter banyak yang duduk bersantai menikmati waktu istirahatnya setelah bekerja dari pagi. Sania mengedarkan pandangannya dan sosok Bima akhirnya dengan mudah ia temukan karena perawakannya yang jangkung.
" Senior.. Ada apa memanggilku kemari?."
Sania berdiri bersandar pada tembok dengan memberi jarak pada Bima.
" Tidak. Aku kebetulan bisa beristirahat jam segini jadi kupikir kita akan bisa mengobrol sebentar."
" Oh, kukira ada apa."
Sania terlihat sedikit canggung berada disamping Bima karena banyak mata yang memperhatikan mereka.
__ADS_1
" Sania.. Aku akan langsung ke intinya saja. Perasaanku padamu masih sama sejak dulu. Apa aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang?."
Mata Sania bergetar dan bibirnya mendadak kelu.
" Ah, maaf senior tapi aku sudah punya pacar sekarang."
" Oh, jadi aku terlambat ya.."
" Maafkan aku."
Sania sedikit menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah.
" Tidak.. Jangan seperti itu. Tapi kita masih bisa berteman, kan?"
" Tentu saja. Kau adalah senior yang aku hormati bagaimana mungkin aku tidak ingin berteman denganmu."
" Syukurlah.. Lalu apa mungkin pacarmu yang tinggal di apartemen Big Castle?."
" Bagaimana senior bisa tahu?."
" Aku tak sengaja melihatmu saat keluar dari sana. Karena aku tinggal di unit sebelahnya."
" Apa?. Jadi senior penghuni baru itu?."
" Iya.. hampir 5 bulan aku tinggal disana."
" Dan aku pun hampir 1 tahun tinggal dengannya."
Bima menatap Sania dengan tatapan heran.
" Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi ceritanya panjang dan aku tidak bisa menceritakannya padamu."
__ADS_1
" Ah, aku mengerti."
Kalau mereka sudah tinggal bersama itu artinya hubungan mereka sudah sejauh itu, jadi aku tidak punya kesempatan lagi. Ucap batin Bima.