Shining Sunny

Shining Sunny
Masa Kuliah (1)


__ADS_3

Sania menarik nafas panjang saat ia melewati gerbang kampusnya. Sebagai mahasiswa baru jurusan kedokteran ia begitu antusias dan bersemangat.


Setelah kelulusannya ia mendaftar program beasiswa di kampus itu dan sesuai dugaan semua orang ia berhasil lolos dan mendapatkan beasiswa penuh.


Tinggal sedikit lagi ia bisa menunaikan cita-citanya sejak kecil yaitu menjadi seorang dokter. Kenangan buruk yang dialaminya beberapa waktu kebelakang masih terngiang dibenaknya namun itu tak membuat semangatnya jatuh dan Sania yakin seiring berjalannya waktu ia akan bisa mengatasinya.


Universitas terbesar di kotanya tempat ia menimba ilmu itu masih satu daerah dengan sekolah lamanya. Sania yang sekarang tinggal dirumah susun khusus mahasiswa mulai kembali membiasakan diri dengan lingkungan barunya.


Beruntung ia mendapatnya karena dekat dengan kampusnya dan lingkungan disana cukup aman.


Malam itu ia baru kembali kerumahnya setelah seharian penuh berada di kampusnya.


Saat melewati pos penjaga rusun ia terkejut karena Ezra sudah berada diruang tunggu khusus tamu.


" Adikmu menunggu sejak sore. Temui dia."


ucap satpam yang bertugas hari itu.


" Kau sedang apa disini?."


" Aku hanya ingin mengunjungi kakak sebentar."


" Ini sudah malam. Kenapa tidak menghubungiku dulu?."


" Ponsel kakak mati."

__ADS_1


Sania merogoh kantong celananya dan benar saja ponselnya kehabisan baterai entah sejak kapan.


" Yasudah ayo kita ke kamarku."


Ezra mengikuti Sania yang berjalan didepannya. Rusun itu tidak memiliki elevator jadi mereka menaiki tangga hingga lantai 5 tempat kamar Sania berada.


" Kau mau minum ini? aku tidak punya yang lainnya."


Ucap Sania setelah Ezra duduk di sofa kecil disana.


Ezra melihat sekelilingnya dan kamar Sania cukup nyaman. Ia merasa tidak perlu khawatir lagi apalagi keamanannya cukup baik.


" Aku pulang kerumah dan bertemu bibi."


" Oh ya, bagaimana keadaannya?."


" Syukurlah, aku belum menghubunginya sejak beberapa hari kemarin. Lalu dengan sekolahmu?."


" Tidak menyenangkan, karena kakak tidak ada."


Sania tertawa melihat Ezra yang memajukan bibirnya. Ia terlalu menggemaskan sampai Sania tidak tahan untuk mencubit pipinya.


" Cup..cup..cup.. adikku yang manis jangan bersedih begitu, dong."


Ezra menepis tangan Sania lalu bergumam pelan.

__ADS_1


" Aku bukan adikmu."


Sania bisa mendengar ucapan Ezra meskipun samar dan hal itu membuatnya tersenyum getir. Karena faktanya anak kecil yang ia urus seperti keluarganya sejak dulu kini sudah beranjak remaja.


Dan mungkin mereka tidak akan bisa terus bersama karena kehidupan yang harus mereka jalani masing-masing. Tak terasa Sania menitikkan air matanya.


" Kak kau menangis? aku minta maaf aku tidak bermaksud.."


" Tidak, aku hanya terharu melihatmu sekarang. Kakak hanya membayangkan jika suatu hari kita tidak bertemu lagi.."


" Tidak. Aku tidak akan meninggalkan kakak. Aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi. Aku janji."


Sania kembali ceria mendengar ucapan Ezra yang polos itu.


" Baiklah.. aku pegang janjimu. Sekarang ayo aku antar ke bawah mencari taxi. Kau tidak boleh terlambat pemeriksaan jam malam asrama."


Ezra menurut dan kembali mengekor Sania. Sebelum taxi datang mereka berdiri menunggu dipinggir jalan.


" Ezra, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja sekarang, sungguh."


Ezra menatap ragu mata Sania, berusaha mencari kebenaran ucapannya.


" Apa benar, kakak tidak berbohong."


" Lihat aku, Ezra. Aku bahkan terlalu sibuk belajar sampai tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Kau bisa tenang sekarang, oke?."

__ADS_1


Ezra mengangguk namun kepalanya tetap menunduk. Sania sungguh tidak menyangka bahwa ia akan dikhawatirkan oleh seorang anak kecil dimatanya. Ia lalu memeluk Ezra dengan perasaan terharu sambil menepuk-nepuk bahunya.


" Terimakasih karena sudah tumbuh menjadi anak yang baik dan lembut, Ezra ."


__ADS_2