
Sania bangun lebih pagi dari biasanya dan ia segera bersiap untuk berangkat kerja lebih awal. Saat keluar kamarnya ia melihat Ezra baru saja masuk apartemen setelah selesai jogging.
" Kak, kau berangkat pagi sekali."
Ucap Ezra lalu menuju dapur untuk mengambil air minum.
" Iya. Hari ini ada rapat bulanan dan aku mendapat giliran untuk ikut mendampingi profesor Ryan jadi banyak yang harus aku urus dan kemungkinan aku akan pulang larut hari ini."
" Oh, kalau begitu hati-hati dijalan."
Sania tak menjawab ia lalu menghampiri Ezra yang masih berada di dapurnya.
Sania lalu memegang tangan Ezra yang memakai smart watch untuk mengamati detak jantungnya dan kualitas tidurnya semalam.
" Kualitas tidurmu semakin membaik. Jantungmu juga stabil sekarang."
Sania lalu meraih wajah Ezra, hal itu membuat Ezra terkejut dan tersipu malu. Ternyata Sania ingin memeriksa denyut jantung dileher Ezra dengan tangannya untuk memastikan alat yang dipakai Ezra memang berfungsi dengan baik.
" Oke. Aku bisa tenang sekarang. Seperti biasa laporkan padaku apa saja yang kau makan hari ini, jangan lupa meditasi, journaling dan tidur tepat waktu. Kalau kau tidak bisa tidur jangan jalan-jalan ataupun olahraga dimalam hari."
" Siap dok."
" Aku pergi dulu. Oh ya Ezra, aku mengambil cuti sehari untuk berziarah ke makam ibuku."
" Kapan kau berangkat?."
" Besok pagi."
" Baiklah. Sampai jumpa besok."
__ADS_1
Rapat bulanan rumah sakit akan segera dimulai. Semua pimpinan masing-masing departemen pun sudah hadir termasuk para profesor dan beberapa petinggi rumah sakit.
Seperti biasa laporan laba rugi akan diumumkan untuk melihat kinerja dan juga pencapaian setiap departemen dalam menghasilkan uang bagi rumah sakit. Sania yang baru pertama kalinya mengikuti rapat sedikit tegang meskipun ia hanya menjadi notulen mewakili departemennya.
Ruang aula yang semula riuh karena para peserta rapat saling berbincang dengan rekannya seketika sunyi senyap saat presdir Mariana tiba untuk ikut menghadiri rapat tersebut. Semua orang berdiri untuk menunjukkan rasa hormatnya dan kembali duduk setelah Mariana duduk ditempatnya.
Dipimpin langsung oleh wakil direktur rumah sakit rapat berjalan lancar hingga mereka tiba di penghujung acara yaitu laporan kinerja dan pendapatan tiap departemen rumah sakit.
" Kali ini ada peningkatan pesat dari departemen pusat kejiwaan. Berkat dedikasi para dokter, perawat, dan staf. Pusat kejiwaan menyumbang keuntungan hingga hampir 30% dari total keuntungan bulan ini. Kita berikan tepuk tangan untuk departemen kejiwaan."
Profesor Ryan berdiri selaku kepala departemen setelah mengajak Sania dan juga seorang perwakilan dokter lainnya untuk menerima apresiasi dari semua yang hadir.
Begitupun dengan Mariana ia tersenyum puas dan ikut bertepuk tangan namun lagi-lagi Sania merasa tidak nyaman dengan tatapan matanya yang mengarah padanya.
Setelah selesai Mariana membisikkan sesuatu pada wakil direktur yang memimpin rapat.
" Bu presdir bilang ingin mengumumkan sesuatu. Silahkan, bu."
Untuk kedepannya aku akan memfokuskan pada peningkatan kualitas dan kemampuan kita mencetak dokter spesialis yang handal jadi kuharap semua dari kalian mempersiapkan fisik dan mental membangun rumah sakit dan juga mengembangkan universitas untuk menjadi yang terbaik di negeri ini."
Selesai dengan sambutan singkat Mariana, rapat ditutup setelah hampir 3 jam digelar dan semua orang pun kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
" Profesor Ryan. Bisa ikut aku keruangan ku sebentar." ucap Mariana saat ia keluar dari ruang rapat.
" Baik bu. Kalian kembalilah dulu, kerja bagus semuanya."
Profesor Ryan meninggalkan anak-anak didiknya lalu mengekor pada Mariana. Sania masih berdiri ditempatnya dan memperhatikan Mariana dari belakang.
" Kenapa aku seperti ini. Apa mungkin seperti kata Marta aura presdir terlalu kuat sampai-sampai aku merasa terintimidasi." Sania berbicara sendiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jasnya dan terus menatap Mariana hingga ia tak terlihat lagi olehnya.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Tok..tok.. Sania mengetuk pintu ruangan profesor Ryan sebelum ia dipersilahkan masuk olehnya.
" Ini laporan hasil rapat tadi, profesor."
" Bagus. Kau berbakat menjadi apapun sepertinya dokter Sania."
Profesor Ryan memuji laporan yang dibuat Sania yang ia susun dengan terperinci sesuai rapat tadi.
" Itu karena dulu saya biasa melakukannya. Kalau anda tidak sibuk saya ingin meminta pendapat anda, prof."
" Duduklah. Katakan apapun itu."
Pria paruh baya itu melepas kacamatanya lalu menyimpan pena yang sedang ia pegang bersiap mendengarkan Sania.
" Jadi.. saya ada kecurigaan jika seseorang sedang mengalami kesulitan dan masalah mental. Namun orang ini sangat tertutup dan selalu memberi batasan diantara kami padahal saya sangat ingin membantunya untuk menemukan akar masalahnya. Apa yang sebaiknya saya lakukan?."
" Maksudmu pasienmu tidak terbuka meskipun dia butuh bantuan. Ada banyak kasus seperti itu maka hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah melakukan pendekatan dengannya. Buat dia merasa nyaman denganmu dan jangan posisikan dirimu sebagai dokter tapi sebagai orang yang bisa dia percaya untuk menjadi pendengar dan yang bisa dia andalkan."
" Maksud anda sebelum kita melakukan perawatan pada pasien kita harus membangun dulu kedekatan emosional dengan mereka."
" Tepat sekali. Disitulah keterampilan dan kemampuan seorang ahli kejiwaan bisa dinilai. Dan dengan begitu kau akan bisa merasakan apa yang mereka rasakan begitulah sepengalaman ku selama berada di bidang ini."
Sania termenung matanya menerawang selama beberapa saat seperti memikirkan sesuatu.
" Anda benar. Saya sekarang tahu apa yang harus saya lakukan, terimakasih profesor. Kalau begitu saya akan kembali bekerja."
Sania bangun dan berpamitan pada profesor Ryan. Namun sebelum Sania keluar dari ruangannya ia mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
" Dokter Sania, orang yang terus menolak bantuan biasanya dia yang paling membutuhkan bantuan. Jangan menyerah pada orang itu."
Sania tersenyum dan mengangguk mengerti maksud perkataan profesor Ryan.