
" Nak, hari ini ibu sepertinya akan lembur. Nanti ibu masakkan makanan sekalian untuk makan siang dan malammu. "
Sania yang sedang menalikan sepatunya hanya mengangguk pelan.
" Aku berangkat dulu."
" Iya. Hati-hati dijalan."
Sania tak lupa mencium tangan Sandra sebelum ia pergi ke sekolah. Saat baru keluar rumah ternyata Ezra pun baru saja keluar dari rumahnya dengan memakai seragam anak SD.
" Ezra.."
Ezra menghampiri Sania dengan langkah pelan.
" Hari ini hari pertamamu disekolah baru ya?."
Ezra mengangguk.
" Kalau begitu ayo kita berangkat bersama. Sekolah mu yang dekat lapangan itu, kan?."
Tanpa membantah Ezra lalu pergi bersama Sania. Mereka berjalan kaki sambil sesekali Sania memperkenalkan lingkungan tempat tinggal mereka.
" Kau sudah sampai. Masuklah dan sapa teman barumu."
Ezra ragu ia juga terlihat sangat tegang berada ditempat baru. Melihat hal itu Sania berjongkok untuk menghiburnya.
" Jangan takut. Mungkin sekarang kau malu tapi nanti juga akan terbiasa."
Ezra tak menjawab apapun tapi dari wajahnya ia seperti akan menangis.
Sania tidak ada pilihan lain ia lalu menuntunnya masuk ke area sekolah.
" Yang mana kelasmu, Ezra?."
" Kelas 2b."
Sania melirik Ezra yang sedang ia tuntun. Badan Ezra terlihat sangat kecil dan pendek untuk anak seusianya pikirnya.
Apa dia makan dengan baik.
Saat sampai dikelas yang disebutkan Ezra, Sania menyuruhnya masuk.
" Belajar dengan baik, oke."
" Iya kak. Terima kasih sudah mengantarku."
__ADS_1
" Iya kalau begitu aku pergi dulu."
Sania melangkah pergi dari sekolah Ezra namun saat sebelum ia keluar gerbang sekolah Sania melihat segerombolan anak yang kemarin mengganggu Ezra. Ternyata mereka anak-anak dari kelas 4.
" Hei hei.. itu kakak galak sedang melihat ke arah kita."
" Hah mana?."
" Disana dekat gerbang."
Anak-anak itu kompak melihat arah yang ditunjukan oleh salah satu temannya. Dan mereka bergidik saat Sania sedang memelototi mereka.
" Aku akan mengawasi kalian."
Sania membuat gestur dengan dua jarinya seolah akan menusuk mereka. Ia lalu pergi menuju sekolahnya
" Kenapa kak Sania menandai kita. Ini semua karenamu yang mulai mengganggu anak itu."
" Tapi kau yang mendorongnya duluan."
Anak-anak itu mulai saling menyalahkan. Sania memang terkenal sebagai penyelamat anak-anak lemah di lingkungannya. Ia juga sangat berani pada siapa saja yang suka menindas orang lain.
Sania pulang sekolah hari itu saat sudah memasuki waktu senja karena ada pelajaran tambahan mendadak. Perutnya sudah keroncongan dari tadi siang karena ia tidak sempat makan di kantin.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Sania segera menuju meja makan. Saat melihat makanan yang dibuatkan ibunya cukup banyak karena ia tidak makan siang dirumah. Takut makanan itu akan sia-sia jadi Sania berpikir untuk membaginya kepada Ezra.
" Ezra.. Ezra..."
Ceklek. Pintu rumah Ezra terbuka dan ia muncul dari dalam.
" Kau sedang apa? mana ibumu?."
" Mama.. tidak ada disini."
" Oh, dia sedang pergi ya. Lalu kau dengan siapa sekarang?."
" Sendirian."
Ya Tuhan kasihan sekali anak ini.
" Ezra apa kau sudah makan?."
Ezra menggeleng pelan. Sania menjadi semakin tak tega dan ia pun meminta ijin untuk masuk karena ingin melihat tempat tinggal Ezra.
Sania melihat sekelilingnya dan rumah itu sangat berantakan. Baju-baju banyak berserakan dilantai dan sofa. Itu tidak terlihat seperti Ezra tinggal dengan seseorang.
__ADS_1
" Aku akan menaruh makanan ini di meja."
Deg. Alangkah terkejutnya Sania saat mendapati dimeja makan Ezra tak tersedia makanan sedikitpun.
Sania menatap Ezra yang berdiri sambil menundukkan kepalanya. Rasa iba dan penasaran Sania muncul.
" Ezra kau punya nasi?."
Sania membuka rice cooker dimeja itu dan ternyata isinya kosong. Ia lalu membuka kulkas Ezra dan begitupun didalam sana hampir tidak ada yang bisa dimakan.
Sania bergegas menghampiri Ezra dan membawanya duduk di sofa.
" Ezra, kau tinggal dengan siapa sebenarnya?."
" Aku tinggal sendiri. Mama bilang akan menjemputku kalau pekerjaannya selesai."
Ya Tuhan bagaimana bisa ada ibu setega itu pada anak yang masih berusia 8 tahun.
" Apa ibumu yang pernah aku lihat itu?."
" Bukan, itu bibi yang dibayar ibu untuk datang dua kali seminggu kesini untuk membersihkan rumah."
Sania menutup mulutnya tak percaya. Jadi selama hampir 2 minggu Ezra tidur sendiri dirumah besar itu dan mengurus keperluannya sendiri.
Sania yang juga sama memiliki seorang ibu pekerja menaruh simpati pada Ezra. Bedanya ia seorang gadis yang memang sudah dibiasakan untuk mandiri tapi untuk Ezra yang baru memasuki usia 8 tahun itu hal yang diluar dugaannya.
Jadi apa karena ini dia menjadi anak yang sangat pemurung.
Sania yang baru saja pulang dari rumah Ezra melangkah dengan gontai. Sebelum ia meninggalkan rumah Ezra Sania sempat memasakkan nasi untuknya dan membereskan pakaian-pakaian Ezra yang tercecer dilantai rumahnya sambil menunggu Ezra makan.
Saat sampai ternyata Sandra ibunya sudah berada dirumah.
" Kau dari mana saja? ini sudah jam berapa?."
" Aku dari rumah Ezra, bu."
" Oh, anak yang kau bilang baru pindah itu?."
" Iya." ucap Sania singkat.
Melihat raut wajahnya yang tidak seperti biasanya, Sandra mendekat pada Sania untuk menanyainya.
" Ada apa?."
Sania masih diam dan berpikir. Namun Sandra tak menyerah untuk memintanya bercerita padanya. Dan Sania pun menceritakan semua yang ia lihat dirumah Ezra dan juga apa yang ia tahu dari Ezra tentang keluarganya.
__ADS_1
Sandra bereaksi sama seperti Sania ia sangat kasihan pada anak itu.
Namun jika melihat dari sisi lain, ia yang juga seorang pekerja yang bekerja di restoran hampir harus selalu meninggalkan putrinya sendirian dirumah jadi ia berusaha untuk mengerti.