Shining Sunny

Shining Sunny
Penyelidikan Bima


__ADS_3

Bima sampai di apartemennya setelah mengantarkan Sania pulang. Ia berbohong mengenai keperluannya dan memang tujuannya adalah ingin bersama Sania meskipun hanya sebentar.


Ia lalu membuka lemari besar dalam kamarnya terlihat beberapa foto tersebar membentuk sebuah peta yang saling terhubung dengan benang merah. Ada beberapa potongan judul dari koran dan surat kabar juga disana dimana semua foto-foto tersebut adalah anggota keluarga Mariana dan orang-orang yang berhubungan dengannya.


Bima lalu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya dan menambahkan foto Ezra di bawah foto Mariana dan orang tua Ezra. Bima kembali mengamati satu persatu hubungan dari semua orang itu lalu terakhir ia mengeluarkan foto Sania dan menambahkan tanda tanya besar disampingnya.


" Apa hubungan Sania dengan keluarga Mariana? Apa mungkin itu ibu Sania lalu hubungannya dengan Danang?."


Bima terus berbicara sendirian.


" Tidak mungkin, jangan-jangan.."


Bima masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ia rencanakan terhadap keluarga Mariana namun ia begitu serius menatap satu per satu foto-foto tersebut. Sesekali ia menyeringai dan tatapan matanya berubah menakutkan.


" Kalau saja dugaanku benar maka artinya Sania dan Ezra benar-benar tidak bisa bersama." ucapnya dengan senyum yang mengembang.


......................


" Dokter Sania, direktur memanggil anda ke ruangannya segera."


" Dia mau menyiksaku seperti apa lagi kali ini."

__ADS_1


Gumam Sania pelan ia lalu dengan malas bangun dari kursinya dan menuju ruangan Ezra.


" Anda memanggil saya, pak?."


" Bereskan file-file ini sebelum makan siang."


Ezra tak menatap Sania ia memerintah seenaknya dengan ia sendiri masih mengerjakan pekerjaannya.


Sania tanpa banyak bicara segera melakukan apa yang diminta direkturnya. Ia menyusun semua dokumen-dokumen yang berserakan itu sesuai urutannya.


" Kalau pekerjaannya sebanyak ini kenapa dia tidak punya assisten sendiri." Sania mulai menggerutu karena banyaknya pekerjaan yang ia lakukan. Ia bahkan hampir melewatkan jam makan siangnya namun beruntung ia masih sempat memakan sepotong roti sebelum kembali pada pekerjaannya.


" Saya sudah selesai, apa saya bisa kembali sekarang?."


Ezra hanya menjawab singkat dengan tak melepaskan pandangannya pada kertas-kertas didepannya.


Sania yang melihat hal itu sedikit khawatir karena Ezra bahkan tak terlihat makan siang dan terus saja fokus pada kesibukannya.


Menjadi direktur pasti bukan pekerjaan mudah untuknya. Kenapa aku berpikir bahwa dia melakukan hal ini hanya untuk balas dendam padaku. Picik sekali pikiranku.


Sania berusaha mengabaikan rasa khawatirnya terhadap Ezra namun tetap ia merasa mengganjal.

__ADS_1


" Kenapa aku harus melakukan ini? aku kan yang sudah memutuskan untuk menjauhinya."


Sania berperang dengan dirinya sendiri, ia inginnya tak peduli namun lagi-lagi rasa khawatirnya selalu menang. Sania masih berdiri didepan ruangan Ezra sejak beberapa saat lalu dengan membawa sebuah sandwich yang ia pesan secara online.


Ia mengetuk pintu ruangan Ezra namun tak ada sahutan kali ini. Saat melihat ternyata Ezra tertidur di mejanya masih dengan beberapa dokumen yang tercecer.


Sania mengendap-endap lalu meletakkan makanan untuk Ezra. Sebelum keluar ia sempat merapikan mejanya namun saat akan meninggalkannya tangannya dipegangi oleh Ezra yang ternyata sudah bangun.


" Jangan pergi."


Ezra lalu menarik Sania hingga tubuhnya terduduk dipangkuan Ezra.


" Lepaskan, jangan seperti ini."


" Sebentar saja. Aku butuh mengisi energiku."


Ezra tak mempedulikan Sania yang meronta untuk mencoba melepaskan diri dari dekapannya ia terus saja bersandar pada dada Sania sambil memejamkan mata.


Kalau kau seperti ini terus bagaimana mungkin aku bisa menjauh darimu.


" Kak, aku merindukanmu. Kembalilah..aku membutuhkanmu."

__ADS_1


Ucapnya yang entah benar atau sedang mengigau karena Ezra belum membuka matanya.


Kalau saja aku memiliki keberanian aku tidak perlu melakukan ini. Andai kau tahu kalau keinginanku untuk bersamamu pun sebesar rasa takutku.


__ADS_2