
" Kau yakin anak kelas 1 yang bernama Ezra itu dekat dengan Sania?."
Ucap Bagas.
" Iya. Aku tidak tahu hubungan mereka tapi mereka sering terlihat bersama."
" Baiklah. Kita bisa memanfaatkan anak kecil itu."
.......
Bagas dan kedua temannya pergi ke gedung asrama laki-laki khusus siswa SMP. Saat tiba semua yang melihatnya sangat heran karena senior seperti Bagas berada disana.
" Apakah ada siswa kelas 1 bernama Ezra Praditya disini?."
Merasa namanya disebut Ezra yang saat itu berada di kamarnya keluar setelah temannya pun memberi isyarat padanya.
" Saya Ezra Praditya. Ada apa kakak senior mencari saya?."
" Kami ada sedikit urusan denganmu, ini ada hubungannya dengan Sania. Bisakah kau ikut dengan kami sebentar."
Ezra yang menangkap gelagat yang mencurigakan dari para seniornya ingin tidak menanggapinya tapi karena nama Sania disebut mau tidak mau ia pun mengikuti mereka yang membawanya entah kemana.
Gudang asrama laki-laki SMA adalah tujuan mereka. Saat memasuki ruangan yang gelap itu tiba-tiba Bagas memukul Ezra hingga ia tersungkur seorang temannya pun ternyata sudah merekamnya dengan handphone sejak tadi.
" Kau sudah dapat videonya?."
" Ya. "
" Bagus. Kirimkan ke Sania."
Tring. Sania yang sedang belajar terganggu oleh bunyi ponselnya. Melihat nomor Bagas yang menghubunginya Sania menjadi gelisah.
Dengan ragu ia membuka pesan itu dan ternyata adalah sebuah video singkat.
Braak. Sania bangun dengan spontan hingga kursinya terjatuh ke belakang membuat teman sekamarnya terkejut.
__ADS_1
" Ada apa Sania?."
" Ti-tidak. Aku ada urusan mendesak."
" Tapi ini sudah malam. Sebentar lagi petugas asrama akan berkeliling."
Sania tidak menghiraukan ucapan temannya ia segera meninggalkan kamarnya dan menuju tempat yang disebutkan oleh Bagas.
Sepanjang menuju kesana pikirannya terus membayangkan Ezra yang ia lihat di video itu sedang mengerang kesakitan.
Sania tiba di gedung asrama laki-laki. Lift yang sedang rusak hari itu membuatnya terpaksa berlari menaiki tangga ke lantai 3. Namun ada yang aneh saat ia melewati lantai 1 dan 2 karena disana sangat sepi tak ada satupun orang yang berada diluar kamarnya.
Mungkin karena sudah malam dan masuk jam pemeriksaan petugas asrama pikirnya.
Sania sampai dikamar yang disebutkan Bagas. Saat masuk ternyata ia sudah ditunggu olehnya.
" Mana Ezra. Kenapa kau melakukan itu padanya."
Sania berteriak pada Bagas yang hanya ditanggapi oleh senyum misteriusnya.
" Apa sebenarnya maumu, Bagas?."
" Tidak banyak. Hanya ingin kau berlutut padaku dan meminta maaf karena kau sudah menginjak-injak harga diriku."
" Cih. Apa karena aku menolakmu?. Sempit sekali pikiranmu."
" Bagiku tidak ada kata penolakan. Apalagi dari seorang gadis yang tidak selevel denganku. Itu semakin melukai harga diriku."
" Lalu kenapa kau ingin menjadikan gadis yang tak selevel denganmu ini pacarmu?."
" Untuk taruhan. Tapi kau mengacaukan semuanya dan aku harus kehilangan banyak uang dan juga harga diriku dihadapan teman-temanku."
Sania mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali menghajar laki-laki didepannya ini namun akal sehatnya masih berjalan sehingga ia mengurungkannya untuk saat itu.
" Aku tanya sekali lagi. Dimana Ezra? kenapa kau melibatkan dia dalam urusan kita."
__ADS_1
" Dia di gudang bersama temanku jadi kau tidak perlu khawatir."
Sania berbalik dan berniat pergi dari kamar Bagas. Namun saat akan membuka pintu ternyata pintu itu terkunci dari luar.
" Kupikir kau itu pintar tapi ternyata kau ceroboh juga, Sania."
Bagas menyeringai menatap Sania lalu ia mendekat padanya membuat Sania mundur ketakutan.
" Jangan mendekat atau aku akan berteriak."
" Coba saja. Hari ini tidak ada satupun orang di asrama ini karena aku sudah mengatur semuanya."
Sania mulai menitikkan air matanya dan tanpa permisi Bagas lalu menyergap tubuhnya membuat ia menjerit sejadinya. Namun kondisi kamar yang dibuat kedap suara membuat orang yang berada diluar pun tidak akan mendengar apa-apa.
Saat itulah Ezra yang mulai mengumpulkan kekuatannya mengambil balok kayu yang tergeletak dilantai gudang. Ia dengan kecepatan kilat menghantam satu orang teman Bagas yang berada diluar hingga ia tergeletak memegangi kepalanya.
Ezra yang menyadari teman Bagas yang satunya sedang berjaga didepan salah satu kamar segera ia pun berlari dan menyeruduk tubuhnya hingga mereka berdua terjungkal. Setelah ia bisa melumpuhkan keduanya Ezra yang memiliki insting yang tajam membuka pintu kamar yang tadi dijaga oleh teman Bagas.
Dan saat pintu terbuka betapa ia terkejut mendapati Sania sedang memberontak dibawah tubuh Bagas dengan baju yang sudah hampir koyak.
Sania semakin menjerit saat melihat Ezra seolah meminta bantuannya. Ezra yang tidak terima melihat Sania dilecehkan langsung ia menendang tubuh Bagas agar menjauh dari Sania. Entah kekuatan darimana Ezra yang tubuhnya tidak sebanding dengan Bagas mampu memberinya beberapa pukulan hingga Bagas pun tidak ada kesempatan membalas.
Takut Ezra akan lebih tidak terkontrol Sania menghentikannya.
" Jangan Ezra. Cepat kita pergi dari sini."
Mendengar Sania yang memohon Ezra lalu membawanya keluar dari kamar Bagas. Ia juga tak lupa memberikan jaket yang dipakainya untuk menutupi tubuh Sania.
Sania dan Ezra duduk dihalaman belakang sekolah sebelum kembali ke asrama. Ini adalah permintaan Sania karena ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
" Kakak.. kau tidak apa-apa?."
Ezra yang khawatir meneteskan air mata melihat kondisi Sania.
" Kenapa kau menangis?. Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Jawab Sania dengan tubuh yang masih gemetar. Ezra lalu spontan memeluk Sania untuk menenangkannya namun Sania malah menangis sejadinya. Hatinya sakit karena pelecehan Bagas dan juga malu pada Ezra yang harus menyaksikan hal yang terjadi padanya barusan.