Shining Sunny

Shining Sunny
Tinggal Bersama


__ADS_3

Pagi harinya Sania dibangunkan oleh bunyi alarm dari ponselnya sendiri. Ia inginnya meneruskan tidurnya karena kepalanya sangat pusing dan mengalami jetlag namun saat teringat ia harus mencari tempat tinggal Sania memaksakan diri untuk bangun meskipun tubuhnya terasa melayang.


Sania keluar dari kamarnya untuk mengambil minum. Saat itu Ezra yang juga baru turun dari lantai 2 apartemennya menuju dapur.


" Kau juga mau minum?."


Sania menawarkan air putih ditangannya yang belum sempat ia minum. Namun Ezra menolak.


" Tidak, aku mau minum ini."


Ezra lalu mengambil sebuah minuman kaleng dingin dari kulkasnya dan membawanya duduk.


Sania menatap khawatir kebiasaan buruk Ezra yang satu itu. Apalagi itu masih sangat pagi untuk minum soda namun Sania tidak berani berkata apapun.


" Hari ini aku akan mencari tempat tinggal baru."


Sania mencoba membuka pembicaraan diantara mereka.


" Memangnya kakak tidak tahu daerah sekitar sini hanya ada apartemen dan hunian mahal."


" Bagaimana kau tahu.."

__ADS_1


" Aku tidak sengaja melihat dokumen milikmu semalam. Kau akan melamar kerja di Rumah Sakit Universitas Darma, kan?."


" Iya kau benar."


" Karena adanya dipusat kota jadi disini hampir tidak ada tempat tinggal sewaan yang terjangkau. Butuh sekitar 50 menit dari rumah sakit kalau kau mencari tempat tinggal yang murah."


Ya Tuhan kenapa aku tidak memikirkan hal ini. Biaya tempat tinggal mahal mana mungkin aku sanggup membayarnya kalau aku saja masih seorang residen yang belum akan dibayar penuh lalu kalau harus memaksakan mencari tempat yang jauh mungkin saja aku akan kehilangan banyak waktu belajar dalam sehari.


Sania mulai gelisah mendengar perkataan Ezra. Ia bahkan tak sadar menggigiti kuku ibu jarinya. Ezra bangun dari duduknya saat mengerti kegelisahan Sania.


" Kak, bagaimana kalau kau tinggal bersamaku saja. Hanya sementara sampai kau menemukan solusi untuk masalahmu dari sini kau hanya butuh berjalan 5 menit untuk sampai rumah sakit."


" Tidak.. tidak.. aku tidak ingin merepotkan mu terus."


Sania bingung kenapa Ezra banyak tahu tentang hal itu yang bahkan ia sendiri tidak menyangka seperti itu kehidupan yang akan dijalaninya selama beberapa waktu kedepan.


" Ezra, bagaimana kau bisa tahu semua itu?."


" Karena...aku juga bekerja disana."


" Ya Tuhan, benarkah? jangan bilang kau pun sekarang adalah dokter."

__ADS_1


" Bukan. Aku bukan dokter seperti yang kuinginkan."


Ezra menjawab pelan sekali hampir saja Sania tidak mendengarnya.


" Yang jelas aku sudah memberitahumu apa yang aku tahu dan itu terserah padamu."


" Aku berterimakasih atas niat baikmu tapi kalau harus tinggal bersama disini.. aku dan kau.."


" Apa kakak sekarang melihatku sebagai seorang laki-laki?".


" Apa? tentu saja ti-tidak.."


Sania tersipu malu hingga ia tergagap.


" Kalau begitu harusnya tidak ada masalah. Jangan salah paham dulu, kak. Hanya hari-hari tertentu saja aku pulang kesini jadi kakak bisa tenang dan nyaman selama disini."


Sania kembali termenung mendengar perkataan Ezra. Bagaimana pun ia yang tidak memiliki banyak waktu harus segera memutuskan. Hanya tinggal besok waktunya mempersiapkan segalanya jadi Sania pun tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya.


" Baiklah Ezra, aku akan merepotkan mu sementara waktu."


" Kubilang tak perlu sungkan, kita kan sudah seperti keluarga."

__ADS_1


Ezra tersenyum misterius dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan. Sania yang harus menahan rasa malunya karena harus menerima bantuan Ezra hanya bisa menghela nafas kasar.


__ADS_2