
Sesuai perkataan Sania hari itu ia pulang larut sekali bahkan sudah lebih dari tengah malam karena harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia mengambil cuti besok. Sebelum ke kamarnya ia menyempatkan dirinya untuk melihat Ezra.
Dengan sangat hati-hati ia membuka pintu kamarnya takut ia membangunkannya. Dilihatnya Ezra tidur dengan lelap, bahkan ia tak terganggu meskipun Sania mendekat dan duduk disisi ranjangnya. Meskipun dalam kegelapan ia masih bisa melihat wajahnya yang tenang saat tidur. Sania seperti terhipnotis ia bahkan tak sadar lama sekali memperhatikan Ezra seolah takjub dengan anak kecil yang sudah menjelma menjadi pria dewasa itu.
" Kenapa waktu berlalu cepat sekali, aku bahkan tidak tahu bahwa kau sudah tumbuh sebesar ini." ucapnya pelan sekali.
Sania lalu keluar kamar Ezra sama seperti tadi ia sebisa mungkin tidak menimbulkan suara sedikitpun. Tanpa sepengetahuan Sania, Ezra ternyata sudah bangun sejak tadi namun Ezra berpura-pura tidur agar Sania merasa tenang.
" Sebenarnya aku ini apa bagimu, kak.. Sekarang bagaimana aku bisa tidur lagi.". Gumam Ezra.
Pagi harinya.
Sania sudah siap dengan koper kecil ditangannya. Ia sengaja tak menyeret benda itu karena takut suaranya akan mengganggu Ezra karena saat itu langit masih gelap dan fajar bahkan belum menyingsing.
Meskipun bandara tidak terlalu jauh Sania sengaja berangkat lebih awal karena takut jalanan macet dan ia ketinggalan pesawatnya.
Saat keluar unit ia melihat didepan pintu unit disebelahnya terdapat banyak box-box besar seperti paket dan lainnya. Ia menduga bahwa sekarang ada penghuni baru dilantai yang sama dengannya dan Ezra.
Ia tetap berjalan menuju lift dan tak menghiraukannya sambil sesekali mengecek ponselnya untuk menemukan taksi. Karena hari masih sangat pagi ia sedikit kesulitan mendapatkannya hingga lift sampai di lobby ia terkejut karena Ezra ternyata sudah berada disana dengan pakaian rapi dan sedang menunggunya.
" Ezra, kenapa kau ada disini?."
" Setelah aku pikir-pikir aku juga cukup merindukan tempat tinggal kita dulu. Jadi aku memutuskan untuk ikut bersamamu."
Sania menaikkan kedua alisnya.
" Ayo kita berangkat, nanti kita terlambat."
Ezra lalu mengambil koper ditangan Sania dan membawanya menuju keluar apartemen. Disana mobilnya sudah menunggu dan ia pun membukakan pintu untuk Sania setelah menyimpan koper milik Sania kedalam bagasi.
Sania yang masih bingung hanya bisa menurut dan mereka pun berlalu menuju bandara.
Pesawat mendarat setelah kurang dari 2 jam mengudara dan untuk pertama kalinya Sania bisa merasakan berada dikelas bisnis pesawat setelah Ezra mengupgrade tiketnya. Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah pemakaman tempat Sandra berada. Ezra sengaja menyewa sebuah mobil saat tiba sehingga mereka bisa nyaman melakukan perjalanan.
" Terimakasih Ezra. Lagi-lagi kau melakukan hal-hal yang sangat besar untukku."
" Ini bukan apa-apa, aku melakukan ini karena aku ingin menghabiskan waktuku denganmu ditempat tinggal kita dulu."
Ucap Ezra namun tatapannya tetap fokus kedepan karena ia sedang menyetir. Setelah perjalanan lebih dari 1 jam mereka tiba di pemakaman.
__ADS_1
Sania yang tadi ceria mendadak sendu saat ia tiba didepan pusara ibunya. Air matanya mendahului sebelum kata-katanya, melihat hal itu Ezra mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada Sania.
" Bu, aku sudah beberapa bulan pulang tapi aku baru sempat kesini menemui mu. Maafkan aku.. Ibu baik-baik saja, kan disana?."
Sania seolah sedang berbincang langsung dengan Sandra ia banyak menceritakan hal-hal yang terjadi padanya sama seperti saat dulu jika ia bercerita pada ibunya, Ezra yang melihat hal itu sungguh tersayat apalagi setelah 5 tahun kematian Sandra ia juga baru pertama kalinya mendatangi makamnya.
Sania yang harus menimba ilmu dinegeri orang selama 8 tahun hanya pulang sekali yaitu saat Sandra meninggal jadi Ezra bisa merasakan kesedihan dan juga kerinduan Sania pada ibunya. Sania masih tetap berdiri dengan tangis yang ia tahan Ezra yang tahu Sania sedang berusaha menahan sesak didadanya akhirnya menariknya hingga Sania menghadap pada Ezra.
Ia memeluk Sania dengan satu tangannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Sania sedikit bingung awalnya karena perlakuan Ezra namun justru itu memberikan kenyamanan untuknya sehingga Sania pun menangis sejadinya dalam pelukan Ezra mengeluarkan segala beban dihatinya.
Waktu berlalu begitu saja, sore hampir menjelang jadi keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka selanjutnya adalah rumah masa kecil mereka dimana mereka tumbuh dan banyak menghabiskan waktu bersama. Sepanjang menuju kesana Sania terus membuka jendela mobil dan tak melepaskan apapun yang tertangkap oleh matanya.
" Beruntung kita pernah tinggal disini, kan Ezra?."
" Aku lebih beruntung karena bertemu denganmu dan bibi."
" Aku tidak pernah menyangka akan meninggalkan tempat seindah ini."
" Begitupun aku, kak."
" Stop Ezra!."
" Kenapa kak? Kita belum sampai."
" Aku ingin berjalan dari sini. Dulu kita sering melewati jalan setapak untuk menuju rumah kau ingat?."
Ezra mengangguk, lalu ia pun memarkir mobil ditepi jalan dan merekapun berjalan bersama dijalan kecil yang hampir tak banyak berubah.
" Lihat dulu minimarketnya tidak sebesar itu. Kau ingat kan, kau sering merengek minta dibelikan es krim disana."
" Iya. Aku ingat." Ezra tersenyum karena kini Sania kembali ceria.
" Warung Uda dulu selalu ramai, kudengar dia sekarang sudah pindah dan tinggal dengan anaknya. Disana itu pertama kalinya kita bertemu, kan? Waktu itu kau dibully oleh anak-anak nakal."
" Hhhmm.."
Ezra tak banyak menjawab sejak tadi ia hanya sibuk memperhatikan Sania yang sangat antusias bisa kembali ke daerah tempat tinggal mereka.
" Sekolahmu dulu disana. Sekarang lapangannya sudah tidak terawat ya. Sayang sekali."
__ADS_1
Sania terus saja mengoceh dan setiap tempat yang memiliki kenangan dengan Ezra ia sangat mengingatnya dengan baik.
Mereka hampir sampai didepan rumah Sania dulu, namun Ezra mendapat panggilan telepon sehingga ia berhenti sejenak sedangkan Sania tetap berjalan hingga depan rumahnya.
Selesai menjawab panggilan Ezra menyusul Sania yang masih berdiri terdiam.
" Kak..kau kenapa?."
Sania menunjuk kearah rumahnya.
" A-Apa yang terjadi dengan rumahku?."
Ezra menoleh dan iapun ikut tertegun. Rumah Sania berubah total dari yang yang terakhir mereka ingat. Diantara rumah-rumah yang lain rumah itu terlihat paling megah seperti baru direnovasi. Padahal dulu rumah Sania paling sederhana diantara yang lainnya.
" Apa kita salah rumah?. Tidak mungkin..."
" Ayo kita coba cari tahu."
Ezra memencet bel ditembok pagar rumah. Lalu tak lama seseorang yang Sania kenal muncul dari dalam.
" Tante Diana.."
" Sania.."
Keduanya bertatapan penuh keheranan. Namun wanita yang seumuran dengan ibunya itu tetap mempersilahkan Sania dan Ezra masuk karena ia tahu mereka pasti bingung dengan situasi yang terjadi.
Setelah sedikit berbasa-basi, mereka langsung pada topik sesungguhnya.
" Kau pasti bingung kenapa aku bisa tinggal disini, kan?. Kupikir kau tidak akan pernah kembali kesini jadi aku pun sedikit terkejut."
" Iya. Aku ingin mendengar penjelasan darimu, tante di.."
" Itu artinya aku harus melanggar janji yang ku buat pada mendiang ibumu."
Diana menghela nafasnya sebelum mulai bercerita pada Sania.
" Sebenarnya tidak lama setelah kau berangkat ke luar negeri ibumu sakit. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk bekerja karena dia bilang kau butuh biaya besar untuk tinggal disana. Hal itu membuat penyakit jantung yang dideritanya semakin parah dalam waktu singkat dan barulah dia berhenti bekerja setelah dokter memaksanya. Untuk biaya pengobatannya dan juga biaya hidupmu disana dia terpaksa meminjam uang kesana kemari dan untuk membantunya menutupi hutang-hutangnya aku setuju membeli rumah ini dan tidak lama kemudian dia meninggal karena serangan jantung."
Sania tak berhenti menitikkan air mata sejak Diana memulai ceritanya. Sania terus mengusapnya namun semua yang disana tahu ia sangat terpukul meskipun ia tidak mengeluarkan suara tangisnya.
__ADS_1