
" Haah.. Ezra kenapa akhir-akhir ini jarang berada dirumah. Apa dia makan dengan baik, apa insomnia nya kambuh lagi?."
Sania yang merebahkan tubuhnya disofa setelah seharian bekerja terus berbicara sendiri sambil mengkhawatirkan pacarnya.
" Aku rindu padanya."
Ting..Nong..
Suara bel mengejutkannya, ia refleks bangun dengan wajah bahagia karena berharap itu adalah Ezra yang datang.
" Sebentar.. Ezra apa kau lupa lagi kalau kita sudah merubah kata sandi..."
Deg. Seorang wanita berpakaian mewah dan elegan yang ternyata berdiri didepan pintu apartemennya.
" Bu Maudy..."
Sania tergagap dengan wajah mendadak pucat. Maudy memperhatikan Sania dari atas sampai bawah rasa penasarannya kembali muncul untuk menjawabnya ia lalu menerobos masuk ke apartemen Ezra dan menuju kamar tamu.
Melihat banyak barang-barang Sania didalamnya Maudy menghela nafas panjang seolah menahan amarah sedangkan Sania hanya bisa menunduk tanpa bisa berkata-kata.
" Sejak kapan?."
" Ya?."
" Sejak kapan kalian berhubungan dan tinggal bersama?." Ucap Maudy dengan nada tinggi sambil mengeratkan giginya.
" Sudah lebih dari satu tahun saya tinggal disini. Tapi anda jangan salah paham dulu, saya bisa menjelaskan semuanya."
" Sebentar, kau bilang kau Sania? jangan-jangan kau gadis yang dulu.."
" Ya anda benar."
" Ya Tuhan.."
Maudy memijat keningnya karena setelah setahun lamanya ia baru mengetahuinya.
" Dengar, aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu karena yang jelas kau tidak bisa menjalin hubungan dengan putraku apalagi tinggal bersama. Putuskan hubungan kalian dan pergi dari sini sekarang juga."
" Tapi bu.. Bagaimana dengan Ezra."
__ADS_1
" Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, masalah kesehatannya dia masih bisa mencari dokter lain yang lebih kompeten. Kalau kau menolak pergi aku akan lebih curiga kau memanfaatkannya agar bisa tinggal gratis disini."
" Tidak, tidak seperti itu bu."
" Kalau begitu ikuti perkataanku, lagipula ini untuk kebaikanmu karena Ezra sudah punya tunangan."
Jantung Sania seketika berdebar kencang. Air matanya bahkan hampir jatuh tapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga.
Maudy lalu menuju sofa dan duduk dengan angkuhnya.
" Aku akan memberimu waktu 15 menit untuk berkemas. Kalau lebih dari itu aku akan melemparkan barang-barang mu yang masih tersisa."
Sania tanpa ada kesempatan untuk menjawab akhirnya memilih untuk menuruti perintah Maudy. Ia dengan kecepatan kilat segera mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper dan juga tas besar miliknya dengan sembarang karena ia takut kehabisan waktunya.
Sania selesai kurang dari 15 menit dan keluar dari kamar. Maudy ternyata masih menunggunya sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia lalu melirik jam tangan yang dipakainya.
" Kau menghemat waktuku 3 menit. Ayo aku antarkan kau kebawah."
Maudy berjalan mendahului Sania tanpa mempedulikannya yang terlihat ringkih menyeret dua koper dengan tas besar yang berat diatasnya.
Tahan air matamu, Sania..
Saat sampai di lobby, tanpa permisi bahkan Maudy keluar mendahului Sania menuju parkiran sedangkan Sania menuju pintu utama.
" Nona, apa anda sudah memesan taksi? Biar saya bantu."
Ucap petugas kemanan apartemen yang sudah mengenalnya.
" Tidak pak, tujuan saya dekat kok. Terimakasih."
Sania berjalan pelan sekali karena beban berat yang dibawanya apalagi ia tidak tahu kemana harus pergi malam-malam seperti itu.
Baru puluhan meter ia berjalan mobil mewah yang membawa Maudy melintas melewatinya. Ia bahkan sengaja membuka kaca jendela belakang tempatnya duduk agar Sania bisa melihatnya dari luar. Maudy ingin menunjukkan bahwa Sania tidaklah sebanding dengan keluarganya.
" Haah.. Menyedihkan sekali diriku."
Sania sempat menghentikan langkahnya karena wajahnya mulai memanas dan matanya terasa perih menahan air matanya.
Tik..tik.. Tetes demi tetes air langit mulai berjatuhan. Ia yang berusaha agar wajahnya tetap kering akhirnya basah juga oleh air hujan.
__ADS_1
" Ah, kenapa harus disaat seperti ini sih."
Sania berusaha menuju minimarket terdekat untuk menumpang berteduh namun karena ia tidak bisa berlari dan hujan semakin lebat akhirnya ia basah kuyup juga.
Pandangannya memburam, ia berpikir kalaupun ia menangis tidak akan ada orang yang tahu. Sania menyerah, ia pun berjongkok sambil menundukkan kepalanya karena sejak tadi ia ingin mengeluarkan tangisnya yang ia tahan.
" Ezra... Aku membutuhkanmu."
Tap. Sebuah payung besar tiba-tiba memayungi Sania yang berada ditengah hujan lebat. Ia mengangkat kepalanya dan sempat mengira bahwa Ezra yang ada didepan matanya. Namun setelah ia mengusap wajahnya barulah ia sadar bahwa Bima yang sedang berjongkok dihadapannya.
" Sania...kenapa kau disini? Apa yang terjadi?."
" Senior.."
" Ayo kita berteduh dulu, bawa payung ini biar aku yang membawa barang-barang mu."
Bima rela kehujanan sambil menuntun Sania menuju minimarket karena itu tempat yang paling dekat dengan mereka. Sania tak ada pilihan selain mengikutinya.
" Kau duduklah dulu, biar aku belikan minuman hangat."
Sania ingin menolak namun Bima sudah terlanjur masuk.
Setelah beberapa saat Bima keluar dengan dua gelas coklat panas dan dua buah handuk. Ia lalu menyerahkan masing-masing satu pada Sania dan bergabung untuk duduk didepan minimarket.
" Terimakasih, senior."
Selama beberapa saat Bima hanya diam memperhatikan Sania sambil sesekali menyeruput minumannya. Sania tahu ia sedang ditatap oleh Bima namun ia tetap memilih bungkam.
" Kau sedang bertengkar dengan pacarmu?. Kau kabur atau dia mengusir mu?."
" Ini sedikit rumit untuk dijelaskan."
" Katakan saja aku akan mendengarkan dari awal sampai akhir. Itupun kalau kau masih menganggap ku teman."
Sania berpikir sejenak. Bima adalah satu-satunya orang yang tahu hubungannya dengan Ezra bahkan sebelum Maudy. Selama ini memang rasanya sedikit menyesakkan merahasiakan semuanya bahkan dari orang-orang terdekat Sania dan Ezra.
" Kalau aku menceritakannya apa senior bisa berjanji untuk merahasiakannya."
" Tentu saja. Kau mengenalku, kan. Aku orang yang dapat dipercaya."
__ADS_1