
" Sebenarnya aku dan Ezra sudah mengenal sejak kami kecil karena dia tinggal didekat rumahku. Aku sudah menganggapnya keluarga sejak awal, namun suatu hari aku menyakiti dan meninggalkannya begitu saja karena permintaan mamanya. Kupikir itu untuk kebaikannya tapi ternyata aku salah. Awalnya karena rasa bersalahku aku menaruh empati padanya yang entah sejak kapan berubah menjadi cinta. Aku memintanya untuk merahasiakan hubungan kami dari semua orang karena perbedaan usia kami yang cukup mencolok tapi hari ini mamanya mengetahui semuanya dan dia mengusirku dari apartemen Ezra."
Bima menunjukkan wajah prihatin saat Sania menceritakan yang barusan terjadi padanya.
" Begitu ya, lalu sekarang kau mau kemana?."
" Aku belum tahu karena tidak punya tempat tujuan yang pasti. Teman yang bisa ku tumpangi juga sedang tidak ada dirumahnya sekarang. Mungkin aku akan ke hotel untuk sementara ini."
" Ini sudah malam dan hujan juga belum reda bagaimana kalau kau tidur di apartemenku saja untuk malam ini. Lagipula pacarmu pasti khawatir dan akan mencari mu."
Sania yang saat itu memang kelelahan baik fisik juga mental sejenak berpikir kalau itu bukan ide buruk. Besok ia bisa memikirkan untuk mencari tempat sambil menunggu Ezra yang tidak bisa dihubungi sejak tadi. Ia perlu bertemu agar bisa mendengar penjelasan darinya.
" Baiklah senior. Hanya sampai Ezra datang aku akan menunggunya di apartemen mu."
......................
" Silahkan masuk, kau bisa berganti pakaian bersih dikamar itu."
" Baik, kalau begitu permisi."
Sania tak mengulur waktu karena tubuhnya mulai menggigil. Ia mengeringkan tubuhnya dan berganti pakaian tak lebih dari 10 menit lalu duduk disofa ruang tamu sambil menunggu Bima yang masih berada dikamarnya.
Sania yang cukup lama menunggu tak sadar tertidur disofa dengan posisi duduk. Bima yang baru saja selesai melihatnya sedikit tidak nyaman jadi ia berinisiatif membenarkan posisi Sania.
Melihatnya yang begitu cantik bahkan saat tidur membuat Bima sempat terpana, ia bahkan mengulurkan tangannya untuk menyibak rambut basah Sania yang menutupi sebagian wajahnya agar lebih terlihat jelas.
Apa yang kau pikirkan, Bima.
Bima mengusap wajahnya untuk menghilangkan segala pikiran-pikiran tak baik. Ia lalu kembali menuju kamarnya untuk mengambilkan selimut.
Satu jam berselang. Brag..brag..brag.. Suara orang berlari terdengar samar oleh Bima. Ia sudah menduga bahwa itu adalah tetangganya, pacar Sania.
Bima dengan Santai membuka pintu apartemennya dan melihat Ezra keluar dari unitnya seperti kelabakan dengan nafas tersengal.
" Kau mencari pacarmu? Dia ada didalam."
Ezra mengernyitkan dahinya namun sedikit lega mendengarnya.
Tanpa dipersilahkan Ezra masuk begitu saja melewati Bima yang masih berdiri di pintu.
" Kak.."
__ADS_1
" Dia sedang tidur lelap. Jangan ganggu dia."
" Aku akan membawanya pulang."
" Kau tidak tahu apa yang sudah dilewatinya hari ini biarkan dia beristirahat sebentar lagi."
Ezra mengepalkan tangannya lalu mendekat pada Bima.
" Dia pacarku, kau tidak berhak mengaturku."
Suasana yang berubah tegang diantara keduanya disela oleh suara Sania yang terbangun dari tidurnya.
" Ezra.."
" Kak, kau sudah bangun. Ayo kita pulang."
" Sania, bawa obat ini kau sedang demam karena kehujanan."
" Terimakasih, senior."
Ezra mendahului untuk menyambar obat dengan kasar dari tangan Bima ia bahkan setengah melemparkan kain kompres di dahi Sania sebelum memapahnya kembali ke apartemen mereka.
Sania dibawa ke kamar Ezra. Ia lalu diminta berbaring di ranjangnya.
Ezra lalu menempelkan tangannya di kening Sania yang masih terasa panas. Sania bangkit dan duduk dengan perlahan.
" Ezra, tadi mamamu kemari."
" Iya, aku sudah tahu semuanya. Kakak jangan khawatir aku akan memastikan dia tidak akan berani lagi mengusik mu."
" Kita harus bicara."
" Besok, setelah kau sehat. Sekarang tidurlah dulu, jangan memikirkan apa-apa."
Karena kepala Sania yang terasa berat ditambah demamnya cukup tinggi akhirnya ia menuruti perkataan Ezra dan menyimpan segala pertanyaannya untuk nanti.
Selama Sania beristirahat Ezra hampir tak tidur, ia berbaring disampingnya sambil sesekali mengganti kompres di dahi Sania untuk menurunkan demamnya. Terkadang saat Sania mengigau dan menangis dalam mimpinya Ezra akan memeluknya atau menepuk-nepuk lembut tubuhnya.
Saat pagi menjelang, Sania sudah mulai merasa lebih baik meskipun wajahnya masih terlihat pucat. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengabari salah satu staf untuk ijin tidak masuk kerja hari itu.
Sania keluar dari kamar Ezra setelah tak menemukannya dimanapun. Ternyata dia sedang berada di dapur dengan apronnya.
__ADS_1
" Kak, hati-hati."
Ezra segera menghampiri saat tahu Sania sedang menuruni tangga dengan perlahan.
" Duduklah, aku akan siapkan sarapan."
Ezra menyajikan dua mangkuk bubur dengan berbagai makanan pendamping lainnya. Sania hanya diam memperhatikan dengan senyum getir.
Ezra hampir menghabiskan setengah isi mangkuknya namun sejak tadi Sania baru menyuap sekali dan hanya mengaduk-aduk makanannya.
" Apa itu tidak enak? Kakak mau aku buatkan sesuatu yang lain?."
" Tidak, ini enak hanya saja aku sedang tidak berselera makan. Ezra.. apa benar kau sudah punya tunangan?."
Ezra terdiam beberapa saat wajahnya seketika menegang.
" Apa mamaku yang bilang itu padamu?."
" Hhmm.."
Ezra memijat keningnya dengan helaan nafas berat.
" Aku memang dijodohkan tapi kami belum secara resmi bertunangan."
" Kami.. haah.. Jadi benar, ya. Lalu aku harus bagaimana.."
Ezra menggenggam tangan Sania namun Sania tetap mengalihkan pandangannya.
" Sejak awal yang aku cintai hanya kakak, kau harus percaya padaku. Ini semua hanya tentang bisnis jadi aku akan membereskan semuanya dan aku akan memastikan bahwa pertunanganku tidak akan pernah terjadi."
" Lalu bagaimana dengan keluargamu dan keluarga calon tunanganmu? Apa kau sanggup dibenci oleh mereka hanya karena aku?."
" Kubilang kakak tidak perlu khawatir kau hanya perlu percaya padaku."
" Bagaimana aku tidak khawatir kalau kau saja terus menyembunyikan segalanya dariku. Kau sangat tertutup bahkan padaku, kau tidak pernah membiarkanku tahu tentangmu. Kau sekarang asing bagiku, Ezra."
Ezra menunduk mendengar keluh kesah Sania selama ini yang sekarang ia keluarkan.
" Apa sebenarnya pekerjaanmu dan bagaimana latar belakang keluargamu, Ezra?."
" Aku.. calon pewaris Grup Darma Bakti. Jadi aku cucu presdir Mariana dan mamaku adalah menantu yang tidak pernah dikenalkan pada publik itu. Sedangkan ayahku adalah orang yang baru dikenalkan padaku selama 9 tahun terakhir ini. Apa itu menjawab pertanyaanmu?."
__ADS_1
Sania menutup mulutnya tak percaya dan matanya mengisyaratkan kekecewaannya pada Ezra. Bagaimana mungkin ia baru diberitahu hal itu setelah mereka bersama selama satu tahun.