Shining Sunny

Shining Sunny
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Kepercayaan diri Sania yang kembali membuatnya kembali ceria seperti sedia kala. Marta sebagai sahabatnya pun ikut senang karena Sania berhasil melewati hari-hari sulitnya dan bisa menerima kenyataan yang terjadi pada Alina.


Hari itu entah mengapa ia sangat ingin segera bertemu dengan Ezra. Saat memasuki apartemennya, ia langsung menuju kamar Ezra yang ternyata ia baru saja keluar dari kamar mandinya.


Brug.


Sania segera menerjang tubuh Ezra dan memeluknya erat seolah mereka tak bertemu lama.


" Apa kak Sania ku sudah kembali?."


" Ya, aku sudah kembali. Sekarang hatiku sudah tak terasa berat dan langkahku rasanya ringan sekali. Maafkan aku, ya karena beberapa hari ini aku selalu bersedih di depanmu."


Ezra lalu menangkup wajah Sania agar menatapnya.


" Ya, ini baru dirimu."


" Kalau begitu untuk menebusnya ayo kita makan malam diluar. Aku yang akan mentraktir mu hari ini."


" Jangan menyesal kalau kau harus mengeluarkan banyak uang. Karena sepertinya hari ini aku ingin makan enak."


" Aku akan membelikan apapun yang kau inginkan. Percayakan semuanya pada kakak"


Keduanya tertawa bahagia namun itu tak lama karena sesuatu yang besar terjadi dan mengejutkan mereka.


" Ezra .." seseorang memanggilnya dari lantai bawah.

__ADS_1


" Mamaku datang.."


Deg. Sania seketika panik dan bingung karena belum siap akan hal yang tak terpikirkan olehnya terjadi begitu cepat.


Suara langkah mama Ezra, Maudy terdengar semakin mendekat. Namun melihat Sania yang semakin gelisah akhirnya Ezra terpikirkan hal lain.


Maudy sampai didepan pintu Ezra, ia melihat Ezra dan Sania duduk seperti halnya seorang pasien dengan dokternya yang sedang melakukan sesi konsultasi.


" Ma.. Kenapa datang tak mengabariku?."


" Mama ada hal mendesak. Wanita ini siapa?."


Maudy menelisik penampilan Sania penuh kecurigaan. Sania yang ditatap sengit olehnya hanya menunduk.


" Dia dokter Sania. Dokter pribadiku. Bukannya aku sudah bilang padamu."


" I-Iya.." jawab Sania gugup.


" Aku datang diwaktu yang tidak tepat sepertinya."


" Tidak, kami sudah selesai. Saya akan pergi sekarang."


Sania melangkah keluar kamar Ezra setelah mengambil tasnya. Sedangkan Ezra hanya terdiam saat Sania pergi.


Sania berdiri didepan pintu apartemen selama beberapa saat. Ia tidak tahu kemana ia harus pergi setelah itu. Terpikir olehnya apakah mungkin ia akan bisa menyembunyikan hubungannya dengan Ezra kepada orang-orang terdekat mereka dalam waktu yang lama. Terlebih meskipun mereka tinggal bersama karena alasan kesehatan Ezra tapi apa keluarganya bisa menerimanya.

__ADS_1


Sania melangkah gontai menuju lift. Ia bahkan tak menyadari Bima yang kala itu baru keluar dari apartemennya dan melihatnya akan turun beberapa kali memanggilnya.


" Sania.. Kenapa dia bisa ada disini?."


Bima termenung sejenak, ia lalu menatap pintu apartemen Ezra dengan penuh rasa penasaran.


" Tidak mungkin.."


Hanya kata itu yang terucap sebelum ia melangkah kembali untuk turun dari apartemennya.


Beberapa jam berlalu. Ezra yang kala itu sedang menunggu Sania dengan perasaan khawatir akhirnya dapat bernafas lega. Sania kembali ke apartemen setelah lama pergi tanpa tujuan.


" Kak.. Kau kemana saja. Kenapa ponselmu mati? Aku hampir saja akan mencarimu."


" Ezra.. Aku sudah lama berpikir. Apa sebaiknya aku mencari tempat tinggal sendiri. Aku hanya tidak tahu harus menjawab apa kalau-kalau keluargamu datang lagi."


" Jadi kakak akan meninggalkanku lagi?."


" Tidak, aku akan mencari tempat tinggal yang dekat dari sini. Kau tenang saja, lagipula sekarang aku mampu kalau harus menyewa apartemen mahal. Aku janji aku akan sering mengunjungimu."


" TIDAK BOLEH. Kau tidak akan pergi kemana-mana. Kak, aku tidak membutuhkan obat-obatan atau terapi yang aku butuhkan hanya kau disini. Kumohon kalau kau tidak ingin aku kembali seperti dulu tinggallah disini. Aku akan bicara pada mamaku, dia pasti akan mengerti."


" Tapi Ezra.. Apa kau yakin dia akan menerimaku?."


" Harus, dia harus menerimamu meskipun terpaksa."

__ADS_1


Ezra lalu memeluk Sania dengan wajah khawatirnya.


" Tunggu sebentar lagi, ya kak. Kumohon jangan pergi."


__ADS_2