
" Ezra, banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padamu tapi aku merasa aku tidak berhak melakukan itu. Tapi jika ada yang bisa aku lakukan untukmu aku akan senang bisa membantu."
Sania bangun dari duduknya karena malam semakin larut dan ia juga sudah sangat kelelahan. Namun perkataan Ezra selanjutnya menghentikan langkahnya.
" Kalau begitu kakak jangan pergi lagi dan menghilang begitu saja seperti dulu."
Ezra ikut bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Sania.
" Kalau kakak sungguh-sungguh ingin menebus kesalahan kakak dan membantuku maka tetaplah disini bersamaku. Aku membutuhkanmu."
Sania tertegun oleh kata-kata Ezra dan mereka saling menatap lama sekali. Ia bisa merasakan kesedihan Ezra yang begitu dalam dari matanya. Hatinya kembali terenyuh dan gambaran masa kecil mereka kembali terlintas. Sosok anak kecil pemurung itu kini ia lihat kembali dalam diri Ezra.
Kaki Sania tiba-tiba melangkah mendekat. Ia lalu memeluk Ezra penuh iba dan rasa bersalah.
" Maafkan aku karena pernah membuatmu terluka dan mengabaikan mu, Ezra. Dan terimakasih karena memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku."
Ezra yang semula hanya diam kini membalas pelukan Sania. Namun kali ini ia mendekatkan tubuh Sania padanya hingga membuat Sania pun sedikit terkejut karena mereka tak berjarak sedikitpun. Ezra memeluknya begitu erat seolah tidak ingin melepaskannya selama beberapa saat Sania bahkan merasa sesak namun itu membuat Ezra bisa melepaskan emosinya jadi ia tetap membiarkannya.
Ada hal yang sedikit membuat Sania heran saat itu. Degup jantung Ezra terasa sangat kencang saat mereka berpelukan.
Apa insomnia nya sangat parah atau karena dia banyak minum soda.
Sania masih memikirkan hal itu dari segi medis tapi berbeda dengan Ezra ia memeluk Sania karena memang sangat merindukannya sampai-sampai ia tak berhenti tersenyum.
Keesokan lusa.
" Nah, aku sudah membereskan lemari es dan dan menyortir semua makananmu. Ini semua yang boleh kau makan dan sisanya akan aku buang. Kau tidak boleh lagi minum alkohol, soda dan yang mengandung kafein tinggi. Pola makan mu buruk jadi kita akan mulai memperbaikinya sedikit demi sedikit."
Sania terus mengoceh panjang lebar sambil memasukkan bahan-bahan makanan sehat yang tadi pagi ia beli ke dalam lemari pendingin. Sedangkan Ezra hanya duduk diam dan memperhatikannya sambil sesekali ia melihat-lihat semua makanan minuman miliknya yang akan dibuang oleh Sania. Tanpa sadar tangannya terulur untuk mengambil satu kaleng minuman berenergi namun Sania dengan kecepatan kilat segera menyambarnya.
" Jangan pernah berpikir untuk menyentuh benda ini lagi."
__ADS_1
Ezra menggaruk tengkuknya dan menurut saja. Selesai membereskan semuanya Sania pun duduk bersebrangan dengan Ezra sambil membuka sekaleng minuman dan meneguknya didepan Ezra.
" Aaah.. Segarnya.."
" Apa benar kakak itu dokter? Kau melarang aku untuk tidak meminumnya tapi kau sendiri minum di depanku."
" Salah sendiri kau mau aku menjadi dokter mu. Aku ini belum lulus spesialis seharusnya kau pergi ke rumah sakit disana banyak dokter bagus yang sudah berpengalaman."
" Aku tidak mau, aku ingin kau yang merawat ku dirumah."
" Kalau begitu mulai sekarang kau harus menuruti apapun yang aku katakan."
" Sejak dulu pun aku tidak pernah tidak mendengarkan perkataanmu, kak."
" Baguslah. Kemarikan tanganmu."
Sania mulai memeriksa nadi Ezra dengan wajah serius.
" Sesuai dugaanku, detak jantungmu sangat cepat. Apa yang kau minum pagi ini? Berapa jam kau tidur?."
" Ti-Tidak. Aku belum makan dan minum apapun dan hari ini aku tidur sekitar 3 jam. Sedikit lebih lama dari biasanya."
" Ezra, aku serius mengatakan ini. Kau harus melakukan pemeriksaan ke rumah sakit aku harus tahu kondisi kesehatanmu sebelum melakukan perawatan padamu dirumah."
Sania tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
" Haaah.. baiklah. Aku akan melakukan medical check up secepatnya."
" Dan juga aku sudah bilang aku belum ahli di bidang ini tapi aku akan melakukan yang terbaik sebisaku. Karena aku harus tahu penyebab dari gangguan tidurmu kedepannya aku akan memberikan banyak pertanyaan padamu."
" Tentu saja. Apapun yang ingin kakak tahu aku akan memberitahu semuanya."
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu mohon kerjasamanya, pak Ezra."
" Saya pun mohon bantuannya, dokter Sania."
Mereka tertawa bersama tanpa perasaan canggung lagi. Sania semakin merasa nyaman sekarang dengan Ezra dan beban dihatinya sedikit berkurang. Dilihatnya Ezra pun kini untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali bisa tertawa lepas sama seperti tawa dan senyumannya yang dulu Sania rindukan.
Karena Ezra meminta perawatan Sania ia pun memutuskan untuk tinggal bersama dengan Sania di apartemennya. Tentu saja Sania senang karena itu artinya ia bisa mengawasi kondisi Ezra setiap hari.
Sania berada di loker staf saat ini untuk berganti pakaian dan bersiap untuk mulai bekerja.
" Semoga keputusanku tepat. Dia pasienku dan aku dokternya, jadi tinggal bersama apa salahnya. Ya benar, tidak akan ada yang mempermasalahkannya juga karena tidak ada yang mengenal kami." gumam Sania.
Braakk.. Ia menutup pintu lokernya namun betapa terkejutnya Sania saat melihat dokter Marta ternyata sudah berada disampingnya entah sejak kapan sambil melipat tangannya dan menatap Sania dengan senyuman menggoda.
" Tinggal bersama? Dokter dan pasien? Sania sebenarnya kau tinggal dengan siapa jangan-jangan..."
" Bukan, a-aku tinggal dengan a-adik se-sepupu. Iya adik sepupuku."
" Oh, aku kira apa. Hei kau sudah tahu belum gosip terbaru tentang presdir kita. Katanya dia punya cucu semata wayang tapi menantu dan cucunya itu tidak pernah diperkenalkan ke publik."
" Begitu ya. Lalu?."
" Ada yang bilang cucunya itu saaangat tampan sekali..aku jadi membayangkan sesempurna apa dia apalagi presdir juga sangat berkarisma kuat. Dan juga bukan tidak mungkin dia akan menggantikan posisi presdir dimasa depan."
" Kenapa kau tertarik sekali dengan cerita keluarga presdir?."
Sania masih merapikan jasnya dan menyiapkan beberapa peralatan yang akan ia bawa bekerja ia tidak berminat dengan gosip yang dibawa Marta sehingga Sania tidak terlalu menaruh perhatian pada ucapan Marta yang panjang lebar menjelaskan silsilah keluarga Mariana.
" Hei.. Kau ini dengar atau tidak sih?."
Marta merasa diabaikan oleh Sania.
__ADS_1
" Iya..iya aku dengar. Ayo jam kerja kita sudah akan dimulai."
Sania berbohong lalu mengalihkan perhatian Marta dengan menariknya keluar dari ruang loker.