
DARMA BAKTI GROUP, sebuah perusahaan raksasa terkenal yang berdiri sejak puluhan tahun dan saat ini dipimpin oleh Ny. Mariana Hadi Darma seorang pebisnis wanita handal kini semakin mengukuhkan statusnya sebagai orang kedua terkaya se Indonesia dan menempati ranking ke 3 orang terkaya se Asia Tenggara.
Bukan hal aneh karena sejak bisnis mereka dibangun oleh orang-orang terdahulunya mereka sudah menguasai hampir di segala sektor bisnis.
Mariana yang merupakan istri dari presdir sebelumnya kini harus menggantikan posisi suaminya yang sudah meninggal karena putra mereka satu-satunya tidak bisa mengambil alih jabatan yang seharusnya miliknya akibat koma selama bertahun-tahun.
Danang Hadi Darma yang digadang-gadang akan menjadi presdir selanjutnya menggantikan ayahnya mengalami kecelakaan tragis dan itu sudah menjadi berita melegenda karena sejak saat itu perusahaan sempat mengalami penurunan saham yang drastis namun berkat Mariana ia bisa memulihkan segalanya dan perusahaan dapat kembali berjaya seperti sediakala.
Usianya memang sudah hampir 70 tahun namun semangat dan tekadnya melindungi perusahaan keluarga suaminya sangat kuat meskipun banyak dari mereka yang ingin menggulingkannya karena ia seorang wanita dan hanya menantu perempuan dalam keluarga itu. Dan dalam sejarah perusahaan tidak pernah ada wanita yang memimpin apalagi menjabat posisi tertinggi.
Namun berkat pengalaman, kemampuan berbisnis yang mumpuni ia masih bisa mempertahankan posisinya dan semakin disegani. Pembawaannya dingin dan tegas serta sangat mengintimidasi itulah kesan darinya yang semua orang menyetujuinya begitupun dengan Sania saat pertama kalinya mereka bertemu.
" Beliau adalah presdir kita. Beliau bilang ingin bertemu langsung dengan kalian semua yang baru bergabung dengan pusat kejiwaan rumah sakit ini." ucap profesor Ryan.
Mariana tersenyum penuh wibawa saat menyalami satu persatu para dokter dan perawat baru tersebut. Hingga tiba giliran Sania tiba-tiba kepalanya berdenyut namun ia tetap bersikap profesional Sania pun menjabat tangannya dan memperkenalkan diri sama seperti yang lainnya.
" Selamat bergabung dokter Sania. Saya akan sangat mengandalkan kemampuan anda." ucap Mariana singkat.
" Terimakasih bu presdir. Saya juga mohon bantuannya."
Selesai dengan sambutan singkatnya Mariana berbalik untuk ke ruangannya diikuti beberapa orang termasuk sekretaris pribadinya dan juga profesor Ryan Lewis.
Semua orang yang berkumpul disana kompak menghela nafas lega. Mereka sangat tegang berhadapan langsung dengan pemilik rumah sakit sekaligus presdir dari grup Darma Bakti.
" Wow.. tadi itu sangat menegangkan. Aku bahkan sampai menahan nafas. Presdir kita keren sekali, kan. Dia juga terlihat awet muda untuk wanita seusianya."
Dokter Marta, rekan Sania yang baru ia kenal terus mengoceh saat mereka kembali ke ruangan staf namun Sania hanya menimpali sekenanya saja karena entah mengapa melihat Mariana dari dekat ia merasakan perasaan aneh seperti tidak nyaman dengannya.
__ADS_1
Sania kini sudah mulai harus beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. Ternyata bekerja di pusat kejiwaan tidak semudah yang ia bayangkan. Terkadang beberapa pasien yang ia tangani bersikap agresif adapula dari mereka yang membuat Sania dan para dokter lainnya harus mengayomi dan menuruti keinginan pasien sesuai imajinasi mereka.
Beberapa orang penting dan public figure pun banyak yang sering mendatangi rumah sakit meskipun hanya untuk berkonsultasi, melakukan pemeriksaan atau bahkan pengobatan rutin.
Dari situ Sania banyak belajar bahwa tidak semua yang terlihat baik-baik saja sesuai dengan apa yang kita lihat. Ia semakin yakin dengan pilihannya untuk menjadi dokter kejiwaan karena suatu saat nanti ia pasti bisa menolong banyak orang yang membutuhkannya dan menyelamatkan mereka semua. Baginya sama seperti fisik kesehatan mental setiap orang pun adalah bagian penting yang harus dijaga.
Sania meregangkan tubuhnya karena duduk terlalu lama. Ia melirik jam dan ternyata waktu sudah berlalu lebih dari 5 jam sejak jam kerjanya berakhir. Ia melanjutkan dengan belajar dan kembali mengulang materi yang diterimanya.
Beberapa rekannya sampai ada yang tertidur di sofa bahkan di kursinya dengan buku-buku didepan mereka saking lelahnya mereka bekerja dan belajar. Sania beruntung karena ia memiliki tempat tinggal dekat jadi ia bisa pulang dan beristirahat dengan nyaman meskipun ia harus menumpang di apartemen Ezra.
Setelah membereskan barang-barangnya ia keluar dengan hati-hati takut mengganggu istirahat semua orang disana. Ia berjalan untuk pulang saat hari sudah malam namun karena berada dikota besar tak sedikitpun ia merasakan kesepian karena masih banyak sekali kendaraan berlalu lalang.
Semua orang ternyata sama denganku. Tidak ada kata siang dan malam semuanya menjalankan kehidupan mereka tanpa mengenal waktu. Ucap batinnya.
Sania melihat sebuah cafe yang buka 24 jam. Ia terpikir sesuatu dan akhirnya masuk sebelum menuju apartemen.
Sania mengetuk pintu kamar Ezra sebelum sang pemilik membukakan pintunya ia mundur selangkah.
" Maaf mengganggumu. Aku bawakan ini untukmu."
Sania menyodorkan salah satu minuman yang dibelinya di cafe tadi pada Ezra karena ia tahu Ezra memiliki gangguan tidur.
Setelah menerimanya Ezra mencium bau mint dari minuman itu yang ia tahu memang teh chamomile dengan mint adalah salah satu minuman favoritnya untuk mengatasi masalah tidurnya.
Sania berniat kembali kebawah namun tanpa diduga Ezra menahannya.
" Kak, ayo kita minum bersama di balkon."
__ADS_1
Sania sedikit ragu namun ia juga tidak bisa menolak permintaan Ezra. Sania pun masuk ke kamar Ezra yang ternyata sangat luas dengan pemandangan kota dibawahnya.
Ezra menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon apartemennya dan Sania pun semakin terpana melihat langsung hamparan gedung-gedung dan lampu-lampu sepanjang mata memandang.
Keduanya duduk bersama menikmati minuman masing-masing ditemani angin malam yang sejuk. Sania melirik dimeja kecil disana banyak sekali kaleng-kaleng bekas minuman berenergi, soda, alkohol dan sejenisnya dan itu semakin membuatnya khawatir.
" Sejak kapan kau punya insomnia?." Sania mulai membuka suara.
" Apa sesi konseling kita sudah dimulai, dokter?."
Sania tertawa kecil. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu yang terlalu peka dengan keadaan orang-orang sekitarnya.
" Entahlah, kak. Mungkin sejak aku SMA dan semakin parah beberapa bulan terakhir ini."
Sania tertegun menatap Ezra, itu artinya sejak ia meninggalkan Ezra ke Amerika ia mengalami gangguan tidur hingga sekarang yang sudah bertahun-tahun.
" Apa kau sudah berkonsultasi dengan dokter?."
" Sudah beberapa dokter yang kutemui tapi mereka hanya memberiku obat-obatan sampai aku muak."
Ezra meneguk teh pemberian Sania dan tetap menatap lurus ke depan.
" Itu pasti karena mereka tidak tahu kebiasaanmu mengkonsumsi minuman-minuman itu. Semua yang kau minum itu akan semakin membuatmu sulit tidur."
" Iya aku tahu. Tapi aku membutuhkannya agar bisa bangun di pagi hari dan memiliki tenaga untuk menjalankan aktivitasku."
" Bukan seperti itu caranya." gumam Sania dengan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1