
Lama sekali Alina duduk termenung disana hingga tak disadari matahari sudah terbenam sepenuhnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan mengirim pesan pada Sania setelah berpikir sekian lama.
Dokter, aku ada di taman dekat apartemen mu. Bisakah kita bertemu sebentar?.
Sania hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Alina pun mengerti mungkin saja ia sedang beristirahat atau mungkin Sania berada masih dirumah sakit ia tidak tahu namun entah mengapa ia merasa ingin menemuinya lagi.
Beberapa menit kemudian seseorang datang dengan nafas memburu. Alina sedikit terkejut karena ternyata Sania datang menemuinya dengan pakaian rumahan yang sedikit berbeda dengan imagenya saat dirumah sakit.
" Dokter Sania.."
" Ali..na.."
Sania duduk disampingnya sembari mengatur nafasnya.
" Usiaku tidak bisa berbohong, berlari 10 menit saja aku sudah kewalahan begini. Jadi ada apa, Alina?."
" Maaf dokter, aku memanggilmu tiba-tiba begini."
" Tidak apa-apa, aku juga sedang bersantai dirumah."
" Sebenarnya ada hal yang tidak aku ceritakan padamu. Aku takut kau akan menulisnya dilaporan dan diketahui paman Ryan, makanya aku menyembunyikan fakta ini."
Sania mendengarkan dengan seksama penuturan Alina tentang keluarganya. Tentang ia yang selalu menyaksikan pertengkaran orang tuanya, tentang mereka yang selalu berpura-pura bahagia didepan semua orang, dan tentang bagaimana mentalnya terganggu karena Alina selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi keluarganya yang berantakan.
" Jika aku melakukan kesalahan, papaku akan memarahi mamaku. Jika aku tidak menuruti kemauan mereka mamaku pun yang akan menerima hukumannya. Makanya aku selalu menuruti apapun yang mereka katakan hanya agar papa tidak memukuli mama. Hidupku bukan milikku lagi sejak itu karena mereka selalu mengatur semuanya."
Sania menepuk-nepuk punggung Alina untuk menunjukkan simpatinya. Hari itu Alina benar-benar meluapkan segala isi hatinya yang ia pendam selama ini pada Sania karena untuk pertama kalinya ia menemukan seseorang yang bisa mendengarkannya tanpa mengadilinya.
" Dokter janji, kan tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun termasuk paman Ryan."
" Iya, aku janji. Ya Tuhan kenapa dengan tanganmu?."
Sania terkejut karena ia baru menyadari luka ditangan Alina yang darahnya sudah mengering karena Alina pun sejak tadi menyembunyikannya.
" Bukan apa-apa."
" Tidak bisa, ini harus segera diobati sebelum infeksi."
Sania lalu meminta Alina untuk menunggu sambil ia menuju minimarket terdekat. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa obat antiseptik, kain kasa dan masih banyak lagi.
Penanganan awal meskipun terlambat cukup baik ia lakukan, Alina pun merasa jauh lebih baik setelah diobati lukanya oleh Sania.
" Baiklah terimakasih dokter untuk hari ini. Aku senang bisa mengenalmu walau singkat, dan aku merasa lega, bebanku kini rasanya sudah hilang sebelum aku pergi."
" Hati-hati selama disana. Jalani pengobatan mu dengan baik, aku yakin kau akan sembuh jika ditangani dokter-dokter hebat pilihan papamu."
__ADS_1
" Hhhmm.. Entahlah. Hihi.."
Alina mengangkat kedua pundaknya lalu untuk pertama kalinya tersenyum lepas dihadapan Sania. Ia lalu berpamitan untuk kembali pulang setelah menceritakan semua kisah hidupnya pada Sania.
Sebelum melajukan mobilnya Alina membuka kaca jendela dan melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sania yang masih berdiri dan membalas lambaian tangannya.
" Selamat tinggal dokter.."
" Ya.. hati-hati dijalan."
Keduanya berteriak karena mobil Alina sudah bergerak maju. Sania pun kembali ke apartemennya setelah memastikan Alina pergi.
Pagi harinya.
Sania siap memulai pekerjaannya. Saat sedang berjalan di lorong profesor Ryan baru saja keluar dari ruangannya sudah rapi dengan jas hitam, lalu Sania pun buru-buru menghampirinya.
" Profesor, selamat pagi. Apa anda akan ada rapat diluar hari ini? Oh ya mengenai Alina sepertinya dia tidak akan datang lagi ke klinik, anda pasti sudah mendengarnya, kan."
Profesor Ryan tidak menanggapi perkataan Sania, ia sejak tadi hanya tertunduk lesu.
" Dokter Sania, Alina..dia meninggal dunia tadi malam."
Braak.
Sania menjatuhkan beberapa file ditangannya hingga tercecer dilantai. Wajahnya yang semula cerah mendadak pucat pasi dengan tatapan kosong.
" Bagaimana bisa.. Semalam dia baru saja menemuiku, profesor."
Air mata Sania tak mampu lagi ia bendung. Profesor Ryan yang mengerti perasaannya mencoba menenangkannya.
" Sekarang dia berada dirumah duka rumah sakit ini. Pemakamannya akan dilakukan secara tertutup hanya untuk kenalan dekat saja. Kalau kau mau memberi penghormatan terakhir untuknya, kita bisa pergi bersama. Aku akan meminta yang lain untuk menggantikan mu sementara."
Sania menyetujui usulan profesor Ryan, jadi ia kembali ke loker untuk mengganti jas putihnya dengan mantel hitam miliknya. Selama menuju ke rumah duka Sania tak hentinya meneteskan air mata. Jantungnya berdebar kencang seolah masih tak percaya bahwa gadis muda itu meninggalkan dunia hanya dalam waktu semalam.
Saat tiba ditempat Alina disemayamkan mamanya tak hentinya menangis meraung disamping peti putrinya dengan terus mengucapkan kata maaf. Sedangkan papa Alina hanya berdiri mematung sambil terus menatap pada Alina yang sudah terbujur kaku.
Sania masih berdiri diluar dari kejauhan ia melihat foto dibingkai dengan potret Alina yang tersenyum lepas seperti yang ia tunjukkan padanya semalam untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Barulah ia benar-benar percaya bahwa Alina memang sudah tiada. Sania masih belum ada keberanian untuk masuk kedalam sedangkan profesor Ryan sudah lebih dulu masuk untuk menggantikan papa Alina dan mewakili pihak keluarga besar mereka menerima ucapan bela sungkawa dari para pelayat karena papanya masih sangat terguncang atas kepergian putrinya.
Maafkan aku, Alina. Aku tidak bisa mengembalikan senyum itu lagi.
Setelah sekian lama berdiri dan mengumpulkan kekuatan akhirnya Sania melangkah masuk dan memberi penghormatan terakhir untuk Alina. Ia juga mengikuti serangkaian prosesi pemakaman Alina dari awal sampai selesai.
Hari sudah sore saat Sania kembali ke rumah sakit. Karena merasa tak enak pada rekan yang menggantikannya jadi Sania pun melanjutkan sisa pekerjaannya meskipun ia harus lembur.
__ADS_1
Hari sudah malam saat itu, dan untuk menghilangkan kantuk ia memutuskan untuk menuju ke atap rumah sakit tempat biasanya para dokter beristirahat sejenak untuk minum kopi dan berbincang santai dengan rekannya.
Sania memilih tempat yang sepi saat itu dimana tidak ada satu orang pun disana.
Ia menatap langit malam saat itu sangat cerah dan dipenuhi bintang-bintang namun air matanya kembali jatuh karena perasaan kacau yang ia rasakan hari itu.
Dadanya tiba-tiba semakin sesak. Teringat rasa bersalahnya pada Alina karena ia tidak bisa membantunya. Ia merasa sudah gagal sebagai dokter untuk menyelamatkan pasiennya hingga Alina memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Lututnya terasa lemas ia bahkan harus berpegang pada tembok pembatas. Karena tak bisa lagi menahan sesak didadanya Sania akhirnya menyerah, ia berjongkok dan menangis sambil memegangi dadanya dan satu tangannya menutup mulutnya karena takut terdengar orang lain.
Begitu pilunya ia menangis hingga siapapun yang melihatnya pasti tahu kesedihan hati Sania. Sekian lama ia menangis hingga kakinya terasa kesemutan, seseorang datang dan menepuk-nepuk punggungnya.
Sania mendongak dan ternyata itu Bima.
" Kau sudah bekerja keras, Sania. Jangan menyalahkan dirimu, itu bukan kesalahanmu."
Sania bangun dan menghapus air matanya.
" Bagaimana senior tahu?."
" Aku mengenal ayah dari mendiang pasienmu, Alina. Jadi sejak tadi pun kita bersama saat acara pemakaman tapi kau tidak menyadarinya dan aku melihat kau sangat terpukul dengan kematian pasienmu itu jadi aku tidak berani menegur mu."
" Aku tidak tahu kalau rasanya akan menyesakkan seperti ini, senior. Aku jadi meragukan diriku apakah aku pantas menjadi seorang dokter."
" Aku mengerti perasaanmu. Karena aku pun pernah berada diposisi yang sama denganmu. Tapi kau harus ingat dokter bukan tuhan, jadi kita tidak bisa menentukan takdir seseorang yang kita bisa lakukan hanyalah melakukan yang terbaik untuk mereka dengan kemampuan yang kita miliki."
" Iya kau benar, senior."
" Kau itu dokter yang hebat, aku yakin kau akan menyelamatkan lebih banyak orang kedepannya. Jadi jangan terpuruk seperti ini karena kau juga harus memikirkan pasienmu yang lain."
" Kata-katamu selalu membuat orang lain tenang. Terimakasih senior, sudah menghiburku. Aku akan kembali bekerja kalau begitu."
Sania melangkah pergi setelah berbincang dengan Bima namun Bima menghentikannya.
" Sania, kenapa kau belum menghubungiku?."
" Ah, maaf aku lupa. Nanti aku akan mengirimkan nomorku, segera."
" Baik, aku tunggu."
Bima masih menikmati waktu istirahatnya. Hingga beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.
Senior, ini nomor baruku. Sania.
Bima tersenyum senang dan segera membalasnya namun Sania tak membalasnya kembali dan itu membuat Bima sedikit murung dan terus memperhatikan ponselnya.
__ADS_1
" Sepertinya dia sibuk. Baiklah Bima ayo jangan menyerah..kali ini kau pasti bisa mendapatkannya."