
Sania pernah tinggal disalah satu pulau terkenal di Indonesia, yaitu Bali. Ia dan ibunya merupakan pendatang dari luar daerah.
Alasan ibunya membawanya kesana adalah tempat itu sangat tenang karena berada di pelosok. Dan juga dekat dengan tempat-tempat wisata yang terkenal indah.
Ada satu rahasia dari Sania yang sampai saat ini ia sendiri pun tidak tahu. Sejak ia tinggal di Bali pada usia 6 tahun ia tidak mengingat sama sekali saat ia berusia dibawah itu. Ibunya hanya mengatakan bahwa mereka berasal dari Jakarta namun anehnya Sania tidak memiliki satupun ingatan tentang hal itu. Pikirnya mungkin ia masih terlalu kecil untuk mengingat kenangan-kenangan itu.
Ia yang tumbuh tanpa seorang ayah sering kali mendapatkan cibiran dari teman-teman sebayanya. Namun itu tak membuatnya berkecil hati ia merasa hanya memiliki ibunya saja itu sudah lebih dari cukup.
Ibunya Sandra, mendidik Sania agar tumbuh menjadi anak yang tangguh dan juga pemberani bahkan saat ini diusianya yang baru menginjak 13 tahun ia yang seorang gadis terlibat perkelahian dengan seorang teman laki-lakinya.
Sania dipanggil oleh gurunya karena membuat temannya itu terluka. Sandra yang mendapatkan panggilan dari wali kelasnya segera menuju sekolah tempat Sania belajar.
" Ya Tuhan, apa yang terjadi?."
Sandra yang khawatir segera memeriksa tubuh Sania takutnya ia terluka.
" Heh bu, yang terluka itu anak kami. Apa yang kau ajarkan padanya sampai-sampai anak perempuan bersikap brutal seperti ini."
Ibu dari anak laki-laki yang terlibat perkelahian dengan Sania menyela.
" Saya minta maaf. Angga biar saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa."
Sandra yang penuh rasa bersalah menghampiri kedua orang tua teman Sania.
" Ibu, jangan minta maaf. Dia yang salah karena mengganggu temanku."
" Sania.." Sandra menegur Sania hingga membuatnya kesal.
" Maafkan atas sikap putri saya."
" Haah.. harus bagaimana lagi, anak yang tidak mendapatkan pengasuhan dari seorang ayah sudah pasti seperti itu.". Ayah Angga yang angkuh bertolak pinggang.
Sandra tertunduk saat mendengar hal itu.
" Bagaimanapun saya akan bertanggung jawab. Silahkan hubungi saya untuk biaya pengobatan Angga."
" Memangnya kau punya uang sebanyak apa?. Hidup kalian pas-pasan dan memiliki anak yang tidak punya ayah. Aku akan berbaik hati untuk sekarang jadi kita tidak perlu mempermasalahkan kejadian ini dan kau didik saja putrimu dengan baik."
__ADS_1
Sania menatap tajam kedua orang tua Angga. Dan Sandra mundur beberapa langkah setelah mendengar penghinaan orang tua teman putrinya itu.
" Memangnya kenapa kalau Sania tidak memiliki ayah. Saya bisa menjadi ayah dan ibunya sekaligus. Jadi jangan menghina putri saya dengan mengatakan dia tidak punya ayah. Saya yakin sudah mendidiknya dengan baik dan saya percaya kalau dia bilang dia tidak bersalah maka itu artinya anak kalian yang bersalah."
Sandra lalu meraih tangan Sania dan berniat membawanya pulang.
" Tolong ijinkan Sania pulang duluan hari ini, bu."
Setelah mengatakan itu pada guru Sania, Sandra menariknya keluar dari ruang guru.
Sania dan Sandra berjalan dari sekolahan menuju rumahnya dengan terus bergandengan tangan.
" Bu, aku minta maaf karena tidak bisa mengontrol emosiku."
" Tidak apa-apa, tapi lain kali kau harus berpikir sebelum bertindak."
" Iya aku janji. Tapi tadi ibu keren sekali mereka sampai tidak bisa berkata-kata."
Sania mengacungkan jempolnya pada Sandra.
" Tentu saja. Apapun akan ibu lakukan demi putriku yang cantik ini."
" Nak, bisa tolong belanja ke warung Uda?."
" Iya bu."
Sania yang sedang asyik menonton serial kartun hari minggu segera bangun dan menuruti perintah ibunya.
Sepanjang jalan ia mengingat-ingat apa saja yang akan ia beli karena butuh waktu sekitar 5 menit berjalan untuk sampai ke warung yang disebutkan ibunya.
" Telur, kangkung, wortel, cabai, tempe semuanya jadi 35 ribu."
ucap penjual yang biasa dipanggil Uda itu.
" Uangnya 50 ribu, aku mau permennya 2 ya Uda."
" Oke, itu gratis untukmu."
__ADS_1
Sania kembali pulang setelah menyelesaikan tugasnya. Ia juga senang karena mendapatkan bonus permen secara cuma-cuma dari penjual langganannya.
Sania yang sedang berjalan dan menikmati permennya dikejutkan oleh segerombolan anak-anak yang sedang mengganggu temannya.
Meskipun dari kejauhan ia bisa tahu anak yang sedang dibully itu butuh bantuan. Sania lalu menghampiri mereka dengan wajah garangnya.
" Hei.. kalian... jangan ganggu dia. Dasar anak-anak nakal."
" Waaah... ada kakak galak.. ayo cepat kita pergi."
seru seorang anak yang langsung berlari diikuti beberapa temannya yang lain.
" Dik, kau tidak apa-apa?."
Anak kecil itu hanya mengangguk dengan tangis yang ia tahan. Bajunya dipenuhi kotoran dan tanah yang menempel. Bahkan wajahnya pun ada luka goresan akibat perlakuan anak-anak tadi.
" Siapa namamu? kau tinggal dimana?."
" Namaku Ezra. Aku tinggal di rumah diujung sana yang di cat biru."
Oh, itu dekat rumahku. Jangan-jangan dia penghuni baru rumah itu.
" Kau bisa sampai sini apa karena tidak tahu jalan?."
" Iya aku tersesat waktu sedang jalan-jalan."
Ya ampun lucunya. Anak ini laki-laki tapi wajahnya seperti perempuan.
" Ya sudah kalau begitu, ayo pulang dengan kakak. Rumah kakak dekat dengan rumahmu."
Ezra mengangguk ragu tapi ia tidak ada pilihan lain selain menerima bantuan Sania.
" Nah, ini rumahku. Kau boleh main kesini kapan saja kau mau."
" Iya, terimakasih kak. Aku pulang dulu."
" Sebentar.. ini permen untukmu. Lain kali kalau ada yang mengganggumu beritahu aku."
__ADS_1
Ezra lalu berlari ke rumahnya yang hanya terhalang 1 rumah dari Sania. Sebelum masuk ia bahkan melambaikan tangannya pada Sania.
Anak yang manis.