Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
12.Mencari Tahu.


__ADS_3

Kediaman Wijaya.


_Kamar Regan.


"Hatcim! aduh hidung saya hatcim!,sepertinya ada yang merutukku hatcim!" gumam Regan tiga kali bersin saat membereskan alat sholat nya.


"Ya Tuhan maafkan saya terlalu souzon" lirih Regan mengusap hidupnya yang gatal sadar mungkin saja ia memang mau bersin.


Regan melangkah mengambil tab memeriksa email yang masuk.


mungkin jika orang melihatnya akan menganggap seorang pengangguran karena sangat jarang stay dikantor lebih mengerjakan dari rumah serta memeriksa langsung kelapangan.


Bahkan Teguh meledeknya kalau ialah CEO tersantai yang pernah ada padahal tidak seperti itu adanya, Regan berkerja lebih kearah dibawa santai tapi tidak melalaikan tugas lebih tepatnya.


Drrtt drtt


πŸ“žMelani calling..


panggilan masuk diponselnya tercantum nama Sekertaris nya disana.


"ya Assalamualaikum, ada apa?" kata Regan langsung ke inti.


πŸ“ž"Waalaikumsalam salam pak, begini nanti akan ada rapat dengan investor jam sepuluh nanti diharap bapak bisa hadir" kata seseorang disambungan berkata selembut mungkin.


"oke itu saja?"


πŸ“ž"iya pak emm" katanya terdengar centil.


"baiklah kalau gitu saya tutup! Assalamualaikum"


πŸ“ž"Tapi pak_ ... tut tutt


Sambungan diputuskan sepihak oleh Regan bukan tak sopan hanya megindari Sekertaris nya yang sangat genit andai bukan teman nya sedari SMA mungkin ia sudah memecat Sekertaris nya itu.


"masih ada waktu beberapa jam sebelum rapat" gumam Regan bangkit keluar kamar ternyata Dena juga membuka pintu.


Dena sadar ada regan hanya diam melangkah ke arah tangga.


"Dena!" panggil Regan menghentikan langkah Dena dan menegok kearah Regan.


"ya kak?" jawab Dena heran karena tumben-tumbenan kakaknya itu memanggilnya.


"apa kamu sibuk?" tanya Regan dengan wajar datarnya.


"kak Regan mau apa sih sebenarnya kok gue jadi tegang" batin Dena.


"gak kok ini aku mau minum dibawah terus lanjut tidur" jawabnya tak berani memakai kata lo-gue pada kakaknya.


"jangan biasakan tidur setelah sholat subuh! dan kamu setelah minum datangi saya dikamar"seru Regan tegas lalu kembali ke kamar.

__ADS_1


" kaya perempuan aja mainnya dikamar"gumam Dena menutup mulutnya agar tak tertawa kalah ketahuan akan bahaya pikirnya.


Dena pun melangkah menuruni tangan mengarah kedapur untuk minum.


πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


_Kamar Regan.


Regan duduk dikursi didekat jendela,


tok' tok' tok'


Regan bangkit karena kamarnya kedap suara mau tak mau ia sendiri yang membuka pintu.


Ceklek!


Regan kembali kekursi dan diikuti Dena duduk dikursi berhadapan dengannya.


Dena diam duduk gelisah Regan belum juga mengeluarkan suara menjelaskan maksud memanggilnya hanya diam memandamg luar jendela.


"kak mau ngomong apa?" tanya Dena tak tahan hanya diam berhadapan dengannya kakaknya rasanya seperti mencekam.


"Huhhh" Regan membuang nafas berat lalu menatap Dena.


"Siapa temanmu?"


"maksudnya teman yang mana?" tanya Dena balik binggung karena setahunnya temannya tak hanya satu.


"Hah gimana? kakak tanya temanku siapa tapi tahu namanya Rere jadi gimana sih aku makin binggung" keluh Dena mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"maksud saya Rere itu siapa? apa dia mempunyai indra ke enam?" jelas Regan semakin datar karena berkata serius.


"indra ke enam? ha ha ha" celetuk Dena sontak tertawa sadar berlebihan Dena berdehem "Ehem! sorry kak bukan apa-apa nih ya, dia itu orang nya penakut jadi mustahil banget indigo bisa bisa pipis dicelana setiap hari" lanjutnya terkekeh menahan tawa agar tak kembali pecah.


"Lalu agamanya seperti apa? apa sangat baik?" tanya Regan kembali tanpa mengiraukan Dena yang menahan tawa sedari tadi.


tawa Dena mereda dan sekarang malah bulu-bulunya merasa meremang karena berindinh ia seperti diindrogasi oleh Regan ditatap tanpa berkedip.


"a..anu itu kak" " aduh apa sih !? kok malam jadi tercekam gini suasananya dia marah kah gue ketawa tadi"batin Dena takut-takut.


Regan diam sabar menunggu jawaban Dena.


"kalau itu aku gak tahu kak tapi belakangan ini dia rajin sholat" jelas Dena menghindar pandangan mata mereka agar tak bertemu "kan serem" batinnya.


"kau yakin?" tanya Regan sekali lagi.


"iya kak katanya lagi tobat sambal" celetuk Dena tak sadar mulutnya mulai ceplas ceplos.


"lalu keluarga nya dahulu apa ada yang baik punya ilmu kebatinan,indra ke enam atau agamanya yang kental seperti kiyai apa ada?"tanya Regan beruntun dengan tajam menatapnya mencari tahu.

__ADS_1


Dena menelan ludah kasar " kak regan mau apasih sebenarnya? " batin Dena sangat tak nyaman.


"maaf kak maksud kakak nanya gini apa ya? kakak suka sama Rere atau gimana kok nanyanya sampai kakek moyangnya pun ditanya. aku gak tahu apa-apa tentang itu kak maaf" kata Dena tertunduk.


"ehem! baik kalau begitu keluarlah" seru Regan semakin datar membuang nafas kasar karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


tanpa berlama-lama Dena bangkit lalu berpamit keluar.


"kalau bukan salah satu dari alasan itu semua lalu dari mana gadis itu mempunyai pendamping?" gumam Regan mengusap rambutnya ke belakang.


"Arghh! Kenapa saya semakin ingin mencari tahu" Regan bangkit dari duduknya berdiri didepan jendela.


"cepat lambat saya pasti mengetahuinya" lirih Regan menatap kosong kedepan.


πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


_Di kampus.


|11:02|


Hari ini hanya ada satu mapel dan itu pun Dosennya tak masuk jadi Rere dan Dena hanya bersantai di kantin.


"Lo kenapa sih dari tadi gue perhatiin kaya ada masalah aja sama gue ngelirik dikit-dikit ngelirik mulu kerjaanya mana gak santai lagi lirikkannya atau gue punya utang sama lo makanya kaya gitu" tegur Rere tak nyaman.


"gak! gue gak ada masalah apa-apa, gue ngelirik juga kaya biasa nya kan lagi ngobrol sama lo" elak Dena melihat kearah lain,Rere menarik naik alisnya tak percaya.


"Serius gak ada? bukan karna ada apa-apanya nih?" tanya Rere lagi.


"nih anak kok jadi kaya kak Regan sih! mana lebih parah lagi, gue ngerasa jadi pelaku kejahatan aja" batin Dena.


Kening Rere mengerut "apa-apaan Dena pakai sama-samain gue sama Regan" batin Rere.


"kok lo gak percayaan banget sih sama gue! udah ah lo gak asik natapnya kaya kak Regan aja" keluh Dena mendorong bahu Rere menjauh karena dari sampingnya.


"jodoh kali!" celetuk Rere mengangkat bahunya masa bodo.


"ya gue aminin modahan jodoh beneran"balas Dena dramatis mengerakan tanganya mengaminkan.


" ck, kalau gue kakak ipar lo bakal kaya gue"kata Rere tersenyum licik mengingat syarat yang akan diajukannya kelak pada Regan.


"belagak lo ngomong gitu emang lo melarat sekarang?"


"ya gak sih" Sahu Rere tersenyum kaku "jangan sampai dena sadar rencana gue" batin Rere.


"ck, gak cocok tahu muka lo senyum licik kaya tadi pas ngomong kalau gue kakak ipar lo bakal kaya gue, yang ada geli gue lihat nya" ledek Dena terkekeh.


"belum tahu aja dia apa yang gue pikirin" batin Rere.


"Ya ya terserah lo aja deh" kata Rere mengalah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2