Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
23.Malam Pertama.


__ADS_3

|22:05|


Setelah lama berkumpul bercanda tawa di ruang tengah Rere jadi merasa kantuk karena hari semakin malam.


"Ayo kita tidur" ajak Regan menatap Rere yang matanya sudah memerah karena menahan matanya terus terbuka.


"Mau tidur?" tanya Rere menoleh ke Regan,dibalas anggukan pelan Regan.


"Pah! Mah! aku kekamar dulu ya mau istirahat" kata Rere pamit ke orang tuanya lebih dulu.


"iya sudah sana pasti kalian capek kan" kata Dita.


"iya" balas Rere.


"Ehem! semuanya permisi" pamit Regan datar membantu Rere bangkit dan merangkul membawa istrinya ke kamar.


_Kamar Rere.


Ceklek!


"Saya kekamar mandi lebih dulu" kata Regan setelah Rere mendaratkan duduk nya ditepi ranjang.


"iya" balas Rere "kok gue jadi deg-degan ya perasaan tadi biasa aja" batin Rere memegang dadanya menatap punggung Regan menghilang dibalik pintu kamar mandi.


"mikir apasih Re, lo kan lagi dapet" rutuk Rere mengetuk kepalanya pelan berkali-kali.


"aah susah kalau udah fiktor gini" gumam Rere bangkit ke meja Rias bercermin memerhatika wajahnya.


"kamu sedang apa?" tanya Regan di belakangnya.


"ya elah makin kotor aja nih fikiran gue" batin Rere melihat pantulan Regan yang terlihat habis membasuh wajahnya.


Rere memejamkan mata nya sekilas lalu membalikan badan menghadap Regan melemparkan senyum.


"gak ada cuma nungguin kamu" kata Rere mendekat ke Regan.


"oh, ya sudah kamu sekarang bersiaplah untuk tidur" seru Regan mengusap kepala Rere pelan dan duduk ditepi ranjang seraya menunggu Rere yang sedang kekamar mandi.


Setelah cuci muka dan gosok gigi Rere keluar melihat Regan seperti sedang melamun.


"Regan!" panggil Rere berdiri dekat Regan, Regan menoleh terkejut langsung memalingkan wajahnya.


"kenapa harus ada nenek tua ini menganggu saja" batin Regan, Rere mengerutkan dahinya menahan kesal.


"Ehem! gak tidur" tanya Rere tersenyum manis seakan tak mendengar apa-apa sebelumnya.


"belum, menunggu kamu" jawab Regan mengulurkan tangannya menarik tangan Rere agar istrinya itu duduk dekat dengan nya dan merangkul bahu Rere begitu Rere sudah duduk disampingnya.


"mau langsung tidur?" tanya Regan seraya mengerakkan tangannya yang lain untuk merapikan poni Rere.


"terserah kamu, kan kamu yang ngajak kekamar tadi" sahut Rere pelan tunduk melihat tanganya yang ada diatas pangkuannya.


"saya ajak kekamar karena kamu terlihat sudah sangat lelah tadi" jelas Regan.

__ADS_1


"ohh!"kata Rere melirik Regan.


" kalau mau menatap saya ya tatap saja tidak perlu melirik diam-diam"kata Regan mengangkat dagu Rere agar menatap wajahnya dengan jelas.


"iya nih aku lihatin kamu lama-lama biar puas" kata Rere pasrah mengikuti perkataan Regan dengan menatap balik wajah suaminya.


Regan tersenyum tipis,


"kamu terlalu santai untuk seorang penganti wanita" kata Regan.


"ya bagus dong berarti" celetuk Rere belagak santai padahal jantungnya sudah berdetak tak karuan sedari tadi.


"Istri saya memang beda" kata Regan menarik Rere kedalam pelukannya, dan dibalas Rere suka rela "ya beda banget sangkin bedanya pasrah aja tadi di bilang nenek-nenek, dan nenek-nenek nya dipeluk juga dasar sekarang siapa yang memang beda" batin Rere.


Perlahan Regan merenggankan pelukannya lalu menatap Rere.


"Aduh mau ngapain kepalanya pakai dimaju-majuin" batin Rere gugup tapi tak mengerakkan kepalanya sama sekali.


Wajah Regan semakin dekat hingga hembusan nafas Regan terasa hangat diwajah Rere sangkin dekatnya, paham suaminya mau menciumnya Rere memejamkan mata siap untuk menerima.


Tapi menunggu beberapa saat Rere tak merasakan apa-apa kembali membuka matanya.


"Sial, wanita tua ini benar-benar" batin Regan kesal merasa terganggu oleh sosok dibelakang Rere yang terus menatapnya tajam.


Melihat Regan memalingkan wajah dan mengumpatnya Rere merasa sangat marah sontak mendorong tubuh Regan kuat lalu bangkit kesisi lain ranjang berbaring dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


"kalau gak suka kenapa nikahin gue" batin Rere menangis kesal "mana pakai ngatain gue nenek" batinnya merutuk kesal.


"Re" panggil Regan hati-hati naik keranjang mencoba membuka selimut.


Tapi ditahan kuat oleh Rere bahkan suara isakan tangis Rere langsung pecah karna kesal.


Regan pun gelagapan merasa bersalah,


"Re maaf saya tidak bermaksud" kata Regan mencoba membujuk.


"Re saya mohon maafkan saya" kata Regan kembali sangat merasa bersalah.


"sial! ini semua karena sosok tua dibelakang Rere itu kenapa harus menatap saya terus-terusan membuat Rere salah paham saja" batin Regan mengumpat kesal.


"sosok tua? dibelakang ku?" batin Rere menghentikan tangisnya mencoba memahami maksud pikiran Regan,dan kemudian.


"Aarghhh!" jerik Rere menyimbak selimutnya bangun terduduk dan langsung memeluk Regan takut.


"Eh..eh Kenapa?" tanya Regan terkejut kebingungan.


"Kenapa?" tanya Regan binggung tapi tetap membalas pelukan Rere.


"Takut!" rengek Rere memenamkan wajahnya didada Regan.


"Takut apa? tidak ada apa-apa disini" kata Regan menenangkan dan menatap balik sosok tua itu tajam yang dari tadi tak mengalihkan mata.


"Bohong!!! ada sesuatu kan dibelakang aku.. arghh Regan aku takut" jerit Rere ketakutan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"ya..iya memang ada" kata Regan pelan tapi masih didengar Rere.


"Aarghh!! tuh kan bener ihh aku takut!!" jerit Rere semakin menjadi.


"tidak papa sayang dia tidak menganggu" kata Regan menenangkan dibalas gelenggan kepala Rere cepat.


"bohong" gumam Rere tak jelas didadanya.


"baik! baiklah saya mau jujur tapi kamu tenang dulu ya" kata Regan mengusap kepala Rere lembut.


"Sayang ayolah dengarkan saya dulu" bujuk Regan kembali.


Rere perlahan-lahan tenang merenggangkan pelukannya tapi tak melepaskan mendongahkan kepalanya menatap Regan memelas.


"kamu jangan takut sosok itu adalah kodam yang selalu ada disisi mu menjaga kamu dari marabahaya" jelas Regan hati-hati.


"kodam?" lirih Rere tertarik ketakutan nyaoun sedikit berkurang.


"iya sayang jin pendamping yang baik penjagamu" kata Regan kembali.


"kok kamu tahu?"


"ya karena aku bisa melihat dan berkomunikasih dengan mereka makhluk kasar mata" kata Regan jujur tak mau menyembunyikan lagi dan malah membuat Rere salah Paham denganya.


"sejak kapan?" tanya Rere antusias melupakan rasa takutnya.


"sejak lama, entahlah saya lupa kapan lebih tepatnya" ujar Regan.


"tapi sosok itu beneran gak ganggu kan" kata Rere sedikit takut membayangkan.


"tidak buktinya dikamarmu tidak ada sosok lain selain dia karena yang lain tidak ada yang berani mendekati kamu karena dia terus mendampingimu" jelas Regan.


"terus nanti kalau malam pertama kita dia terus didekat aku masa ngiliatin juga" celetuk Rere tanpa malu bertanya.


"ya dia bisa menghilang untuk sementara sayang! karena dia tidak mungkin menganggu kesenangan kita" kata Regan tersenyum tipis.


"ihh apasih aku tanya aja ya kamu jangan mikir macam-macam aku lagi dapet loh ini" ketus Rere sadar Regan menatapnya.


"iya tahu" sahut Regan santai terkekeh pelan merasa geli melihat tingkah Rere malu-malu tapi mau.


"terus tadi pas kamu gak jadi nyium karena sosok itu ya?" tanya Rere pelan tunduk merasa bersalah sudah berprasangka buruk pada suaminya.


"iya karena itu, maaf ya buat kamu tersinggung" kata Regan mengeratkan pelukannya dan mengecup kepala Rere lembut.


"iya aku maafin" sahut Rere pelan.


"sekarang kita tidur ya" ajak Regan melonggarkan pelukannya,dibalas anggukan pelan Rere mereka pun mengubah posisi jadi berbaring saling berhadapan dan Regan menarik Rere kedalam dekapannya.


"Selamat malam sayang jangan lupa berdoa" kata Regan lalu memberikan kecupan dikening Rere.


"iya selamat malam juga" kata Rere, beberapa menit kemudian mereka pun tidur dengan saling menghangatkan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2