
Kediaman Wijaya
_Wijaya.
Walau sudah berpindah posisi duduk Rere tetap tak melepaskan pelukan dari Regan dengan memeluk dari samping.
"Cepat telepon orang rumahmu minta jemput" Tegas Regan.
"jika lebih lama lagi entah apa yang akan terjadi!" batin Regan dengan hati gelisah.
Dengan sedikit tak ikhlas Rere melepaskan pelukan tapi satu tangannya memegang tangan Regan agar tak kabur pikir nya.
Rere meraih tas yang ada didekatnya dan membongkar dengan satu tangan mulai mengunakan ponselnya.
"hp nya mati" ujar Rere memperlihat layar ponselnya yang mati.
"lalu kau akan terus bertahan disini sampai kapan?" tanya Regan datar.
Mau bagaimana pun dinginya Regan dengan orang lain jika dalam kondisi begini jiwa seorang lelakinya serasa di uji apa lagi ia harus bersama seseorang yang memang cukup menarik perhatiannya.
Dan jika boleh jujur Regan juga sebenarnya tak nyaman akan sosok disisi Rere yang terus menatapnya tajam itu.
"Ini kamu minum dulu pasti haus kan! lihat betapa perhatian nya aku pada mu" kata Rere menyodorkan botol air minum pada Regan.
"kenapa ngelihat aku gitu banget?" Rere sedikit risih dengan tatapan tajam Regan "itu air putih biasa aja kali kan aku selalu bawa bekal air minum suka haus soalnya" lanjut Rere menjelaskan.
Akhirnya karena memang tenggorokannya terasa kering Regan meminum air itu hingga setengah botol.
"oke tinggal tunggu reaksi obatnya" batin Rere.
"kalau masih haus habisin aja airnya" seru Rere, Regan tak menghabiskan air itu jadi memberikannya pada Rere.
Rere hanya mengambil kembali dan menyimpan botol itu didalam tasnya.
Keduanya terdiam Rere tak mengambil insiatif untuk berbicara dan begitupun dengan Regan.
Beberapa saat kemudian Rere melihat wajah Regan mulai menunjukkan efek obat tidur yang dia taruh diair itu.
"saya sangat mengantuk"gumam Regan.
Regan sedikit menguap sesekali,
"ini waktunya" batin Rere.
Tanpa Rasa rasa takut Rere bangkit dan berdiri tepat didepan Regan.
"kau tidak takut?" tanya Regan heran.
"takut sih, tapikan ada kamu" sahut Rere lembut mulai mendekatkan diri kearah Regan mengisih jarak antara mereka.
"mau apa kamu!" Regan sedikit merasa was was.
Rere tak menjawab tapi ia mengangkat kedua tangannya lalu di lingkarkan dileher Regan, Rere mendekatkan wajahnya dengan Regan.
"Kamu tahu Rengan wajah mu itu begitu tampan membuat aku terpesona" kata Rere mengoda dengan membisik sedikit mendes*hkan suara
__ADS_1
Hembusan nafas nan hangat itu terasa ditelinga Regan membuat perut bawahnya terasa panas.
"Jangan sikapmu!" tegur Regan memundurkan kepalanya.
"kenapa? kamu gak suka sama aku?" tanya Rere memperlihatnya wajah sedihnya.
Regan tak menjawab hanya menjauhkan dirinya dari Rere.
"kamu buat aku sedih merasa ditolak" ujar Rere matanya berkaca-kaca.
Regan merasa tak tega tapi tidak mungkin dia meladeni apalagi saat ini ia sedang menekan rasa kantuknya sekarang yang mana matanya sudah melihat dengan pandangan yang buram ia takut Rere benar-benar melakukan hal nekat pada tubuhnya saat ia tidur.
Tanpa aba-aba Rere mendorong Regan dengan cukup kuat hingga terbaring, senyum genit terukir dibibir Rere ia naik ranjang Regan dengan merangkak diatas lelaki itu.
"Jangan gila Rere!" bentak Regan tak bisa sabar lagi.
"kamu bentak aku hiks!" lirih Rere matanya mulai meneteskan air mata.
"bu..bukan begitu" jawab Regan tergagap bersalah dengan matanya berkedip beberapa kali mulai perih karena manahan kantuk.
"apa kamu suka aku?" tanya Reee membisik dari atas tubuh Regan dengan tangan yang menompang tubuhnya agar tak menindih Regan.
"ya mungkin suka" sahut Regan mulai melantur.
"ah benarkah?" tanya Rere antusias.
"emm" dehem Regan dengan mata sesekali terpejam.
Cup! kecup Rere dipipi Regan dengan bibir yang sengaja dibasahi dengan Lud*ah nya " aku sayang kamu! kamu sayang aku tidak?"tanya Rere.
"ya" lirih Regan pelan tapi masih didengar Rere.
"Kalau cinta iya juga tidak?" Rere kembali melontarkan pertanyaan nya.
bukanya jawaban yang Rere dapat tapi malah hembusan nafas teratur dari Regan, Rere pun menatal wajah Regan.
"Sudah tidur?" tanya Rere pada dirinya sendiri lalu menyingkir dari atas Regan duduk bersila diatas ranjang.
puk puk!
Rere menepuk-nepuk pipi Regan pelan memastikan.
"ahh sudah tidur!!! akhirnya selesai juga"pekik Rere senang.
Sebelum keluar hal terakhir harus dilakukan.
Rere mulai menarik Regan agar bisa berbaring diatas ranjang dengan benar.
" gue beneran harus buka bajunya juga?"gumam Rere ragu-ragu.
"udah ah kepala tanggung!"
Dengan tangan dingin karena gugup Rere benar benar membuka baju Regan dan melemparnya sembarangan ke lantai.
"gue jadi penasaran reaksinya pas bangun! ah udahlah gak waktunya balik kekamar Dena" seru Rere turun dari ranjang lalu meraih tas dan melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
Ceklek!
Ketebrukkk!!!
"siapa disana?" teriak Rere sepontan diambang pintu menegok kiri kana.
Tidak ada apa-apa hanya kegelapan yang ditangkap mata Rere, tanda disadari tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
"Hello ada orang?" teriak Rere sekali lagi.
Ketebrakk!!
Brak!
karena takut Rere kembali menutup pintu cepat masuk kedalam kamar dan naik keranjang berbaring di sisi Regan dengan posisinya yang merapatkan diri.
"itu tadi apa?Oh Tuhan jangan jangan penunggu rumah ini lagi!! arghhh!"pekik Rere ketakutan memeluk Regan.
entah berapa lama memeluk Regan tanpa Rere sadari iapun ikut tertidur.
📌📌📌
|04:54|
" Arghh perut gue!"lirih Rere merintih terbangun karena sakit perut yang sangat menyiksa.
Rere bangkit duduk, ditengoknya kesamping Regan masih tertidur pulas mungkin efek obat pikirnya.
"sial kok dapet sekarang sih!!" umpat Rere turun perlahan dari ranjang dan melihat noda darah di tempat tidur yang tak sedikit.
Listrik sudah menyala jadi rasa takut Rere juga sudah hilang.
"gimana ngebersihinnya?" gumam Rere binggung melihat seprai berwarna krim itu kotor karena darahnya.
"Argh! perut gue!!" rintih Rere tak tahan keluar kamar Regan menuju Kamar Dena dan ternyata pemilik kamar belum ada lalu mengecek orang rumah yang biasa sudah beraktivitas lagi lagi ternyata belum pulang keadaan rumah masih sepi.
"Bodo amat pokoknya gue pulang sekarang!" seru Rere kembali ke kamar Regan mengambik tas dan pergi mengunakan mobik yang diparkir di luar jalanan dekat mansion Wijaya semalam.
"Untung gak terkunci" gumam Rere keluar dan pergi mengendari mobilnya pulang tanpa tahu apa yang akan terjadi karena sikapnya itu.
📌📌📌
Kediaman Gunawan
Sampai dikediamannya Rere menekan kalakson meminta satpam membuka gerbang tak butuh lama gerbang terbuka mobilnya masuk kehalaman dan diparkirnya sembarangan.
Pintu utama tak terkunci karena sudah subuh pelayan sudah bangun untuk berberes.
dengan langkah cepat Rere melangkah kamarnya dan sesegera mungkin membersihkan diri.
Setelah mandi Rere membaringkan diri ke atas ranjang memeluk perutnya yang sakit karena haid.
"shiitttt" desis Rere menahan sakit memejamkan matanya dan kembali tertidur.
Bersambung...
__ADS_1