
Hari mulai gelap tapi kerabat-kerabat Rere masih berkumpul dikediamannya, namun orang tua Regan,Dena dan kerabatnya yang lain sudah pulang lebih dulu ke mansion keluarga Wijaya.
_Kamar Rere.
Saat ini Rere sedang duduk memperhatikan suaminya yang sedang melaksanakan sholat isya.
"kalau aja gak lagi dapet udah jadi makmum Regan dalam sholat nya" batin Rere.
Beberapa saat Regan mengakhiri sholatnya dan melipat sajadah lalu bangkit mendekat ke Rere.
"Kenapa?" tanya Regan tunduk menatap Rere yang duduk medongah melihat wajahnya.
"kok kamu ganteng banget sih" tanya Rere random terlihat heran.
"ya..ya.karena saya memang begini dari lahir"jawab Regan asal melirik arah lain menutupi rasa gugupnya.
Sudut bibir Rere naik " lucu banget sih kalau salting"batin Rere.
"kamu lihatin apasih" tanya Rere mengoda ikut-ikutan melirik kearah padangan Regan.
"Ah tidak ada! sudah lebih baik kita keluar yang lain pasti sedang berkumpul" kata Regan mengalihkan topik pembicaraan.
"ya..ya tahu, tapi kamu gak ganti baju dulu?" tanya Rere, membuat Regan sadar kalau dirinya sekarang mengenakan baju koko dan sarung.
"oh tunggu sebentar" ujar Regan melangkah ke arah koper mengambil baju santai yang cukup sopan, ia mulai menarik sarungnya.
"Eh..ehh!! mau apa kamu!?" jerit Rere panik, mengurungkan Regan membuka sarung.
"mau ganti baju" kata Regan dengan polosnya.
"kan bisa dikamar mandi" Kata Rere dengan suara yang masih panik.
"kenapa harus dikamar mandi? di sini saja kan bisa"kata Regan datar.
" ya udah deh terserah "kata Rere pasrah memandang arah lain seraya Regan menganti bajunya.
" ayo keluar"ajak Regan sudah berdiri didekatnya.
"iya"
Rere menerima uluran tangan Regan dan mengengamnya lalu mengikuti langkah Regan yang membawanya kerumah tengah.
"Aduh-aduh pengantin baru kaya mau nyebrang aja diganteng terus" ledek seorang pria yang tidak dikenal Regan.
__ADS_1
"iya dong! sirik kan lo" sahut Rere melepaskan gengaman beralih dengan memeluk lengan Regan memamerkan kemesraannya melirik songong ke sepupunya.
"Rere sini bawa suamimu" seru Rian yang duduk di sofa.
Rere pun menarik Regan duduk disofa ikut bergabung dengan keluarganya disana.
"nak Regan kenalkan ini keluarga saya, ini kakek nenek Rere dari ibunya" kata Rian memperkenalkan mertuanya yang ada disamping kanannya.
"salam kenal kakek nenek" sapanya menyalimi Nenek dan kake gempal berusaha sopan walau dengan wajah datarnya.
"iya nak salam kenal juga, kamu bisa panggil kami seperti Rere,kakek dan nenek gempal" sahut Kakek gempal senang dan nenek yang tersenyum disampingnya.
"terus itu yang dipojok adik laki-laki papah namanya Topik disampinya ada istrinya namanya Sari punya anak baru satu namanya Celo itu yang ada digendongan sari"Kata Rian menunjuk sofa sisi lain yang paling pinggir.
Regan tersenyum tipis menyapa dan dibalas senyuman ramah pasangan suami istri itu.
"terus yang disamping kanan mamah mu(Dita) itu kakak perempuanya namanya Deta terus suaminya namanya Nino punya anak dua perempuan namanya Hasna itu yang disamping istrimu sama Farhan yang sempat ngeledekin kamu tadi" ujar Rian Regan hanya melempar kan senyum tipis sebagai tanda perkenalannya.
"yang terakhir itu yang duduk didekat guci Adik mamah mu namanya Yuda disebelahnya itu istrinya namanya Puput terus anaknya yang duduk didekat Hasna namanya Feby"
"oh ya satu lagi kamu tahu kan istri kamu ini ada kakak namanya sebentar, mah mana anak itu" kata Rian tak menyebutkan nama putri sulungnya menoleh ke istrinya bertanya.
"itu pah anaknya" seru Dita menunjuk Dara yang melangkah mendekat ke mereka.
"iya" balas Regan tanpa membalas uluran tangan itu.
Karna malu tak sambut Dara menurunkan kembali tanganya "Sombong" batin Dara kesal menahan wajahnya agar tetap memasang wajah ramah.
Rere kurang suka Dara memperhatikan Regan terus-terusan iapun memeluk lengan Regan lebih erat membuat sang suami menoleh kepadanya.
"kenapa?"
"gak papa" jawab Rere santai tersenyum.
"Nak Regan, saya mau bilang Terimakasih ya sudah repot-repot mau jemput kakek sama nenek dari kalimantan jauh-jauh pakai pesawat pribadi kamu" Kata kakek gempal berterima kasih.
"iya kek aku juga mau terimakasih sama bang Regan udah mau repot-repot jemput orang serumah pakai mobil travel tadi siang sempat kaget sebenarnya, jadinya kirain siapa padalah baru manasin mobil mau kesini" kata Farhan ikut menimpali pembicaraan memanggil Regan abang karena lebih mudah dari Rere.
"Loh Mba Deta dijemput juga? aku pikir cuma aku yang dijemput karena cukup jauh dari sini" kata Topik sedikit terkejut.
"jangankan Farhan om kami aja yang dekat masih sekota juga dijemput pakai mobil travel" celetuk Feby ikut-ikutan menyahuti.
"Waduh keluar uang banyak berarti kamu ya" kata Yuda yang dari tadi mendengar kan.
__ADS_1
"tidak masalah" jawab Regan singat.
"percuma ganteng kalau sombong! apaan baru segitu dibanggain" batin Dara mencibir tak senang melihat suami dari adiknya itu.
"gak papa sombong yang penting mampu" batin Rere ingin sekali menyahuti Dara seperti itu secara langsung tapi karena sedang berkumpul jadi Rere harus menahan diri.
"hahaha itu udah jadi resiko Regan om mau nikahin orang buru-buru" kata Rere tertawa ringan sedikit bercanda.
"hussst tidak baik bicara begitu pada suamimu" tegur Nenek gempal.
"gak papa kali nek! iyakan suamiku" kata Rere sedikit manja pada Regan.
"iya" jawab Regan lempem tidak merasa Rere salah.
"laki lo kok nurut banget sih Re dapat dimana kaya giniyan udah ganteng,tajir, sayang istri lagi" celetuk Feby memperhatikan Regan.
"ihh Feby jangan genit sama suami gue" jerit Rere memeluk Regan tanpa malu didepan keluarga nya,diam-diam Regan tersenyum samar merasa senang.
"sorry beb mata gue suka hilaf"kata Feby terkekeh pelan berhasil mengoda sepupunya itu.
"Feby!" tegur Puput.
"maaf mah cuma bercanda" kata Feby tersenyum lebar tak merasa bersalah.
"kak Rere" panggil Hasna.
"Ya?" jawab Rere menatap Hasna.
"Bang Renganya jangan kekepin lama-lama" kata Hasna.
"Kenapa emang?" tanya Rere heran.
"mukanya udah merah kehabisan nafas"ucap Hasna, sontak Rere menoleh ke Regan dengan mata terbelalak terkejut.
" Astagah maaf gak segaja"pekik Rere melepaskan pelukan dan mengangkat kedua tanganya dengan badan sedikit menjauh.
"iya tidak masalah" sahut Regan menarik kembali Rere mendekat dan merangkulnya.
Membuat yang melihat ikut senang, para sepupu jadi iri karena jomblo dan Dara menjadi semakin kesal mengepalkan diatas pangkuanya kesal.
"silahkan lo bermesraan sama Regan tapi kita lihat pas nikahan gue masih sanggup gak ko tersenyum dinikahan mantan" batin Dara tersenyum sinis saat matanya menangkap lirikan Rere.
Bersambung ...
__ADS_1