
"Kediaman Gunawan
_Kamar Rere.
|06:12|
Perlahan Rere terbangun,dan melirik pintu was was.
"masih aman" gumamnya.
Dengan sedikit lemas Rere bangun mempersiapkan diri karena akan ada kelas pagi jam sembilan nanti walau masih pagi Rere tak ingin berlama-lama agar tak buru-bu nanti nya.
Brak brak brak
Rere terkejut gedoran bak orang kesetanan dipintu Kamar nya.
"keluar kamu bocah edan pasti karna kamu kan ini!! hei buka"
tok' tok' brak
"bener kan untung terkunci" gumam Rere mengusap dadanya.
"Buka re tanggung jawab beliin gue obat! cepet beg* gue mau kerja" teriak Dara dari balik pintu.
"Aargh!" pekik Dara dari luar,
"kenapa ya?" gumam Rere sedikit khawatir mendengar suara Dara.
Ceklek!
perlahan Rere membuka pintunya dan tak ada siapa-siapa disana.
"lah mana orangnya?" gumam Rere menegok kanan kiri mencari, Rere terbengong memikirkan "gue gak berlebihankan?" batin Rere agak takut sebenarnya mau bagaimana pun Dara tetap kakaknya.
"akhirnya keluar juga kau bocah" tekan Dara didepan pintu mengejutkan Rere dengan cepat Rere kembali menutup pintu.
tapi pintu ditahan oleh Dara membuat tak bisa tertutup dengan benar,
"GUE GAK AKAN MARAH KALAU LO BELIKAN GUE OBAT SEKARANG CEPAT!!" teriak Dara meraya menahan sakit perut, "CEPAT BEG* GUE ADA RAPAT"
"Oh Tuhan perut gue"
"oke-oke aku buka tapi berhenti dorong-dorong pintunya" jerit Rere sedikit kualahan karna postur tubuhnya kalah dengan Dara yang tinggi sedikit berisi.
"aku belikan mana uangnya?" kata Rere mengalah merasa kasihan menadakan tangannya meminta uang,
"pakai uang mu! tanda permintaan maaf, Argh!" tekan Dara lalu berlari pelan pergi kembali kekamar mandi.
"Isss dasar nenek lampir!" jerit Rere kesal.
📌📌📌
"Nih obatnya gue taruh diatas meja dekat ranjang" teriak Rere cepat sebelum Dara keluar kamar mandi.
"Awas lo bocah!!" jerit Dara dari kamar mandi menahan mulas.
📌📌📌
|08:15|
__ADS_1
"Sumpah kocak banget! walau rada kasihan sih tapi biarlah" Rere tertawa mengingat wajah Dara yang menahan mulas, Rere memasuki mobil dan mulai menghidupan mesin.
mobilnya sudah tiba tadi malam kata pak salpam yang sedang berjaga jadi hari ini ia bisa mengunakannya.
dengan kecepatan sedang Rere mengendarai mobil menuju kampus, Sesampai dikampus Rere memangkirkan ditempat biasanya.
"Hei!!! Rere jelek kaya monyet tungguin gue!!" teriak seorang wanita yang suaranya sangat dikenal oleh Rere.
"Nih anak malu-maluin banget" gumam Rere menutup mukanya dengan buku yang ada ditangan tetap berjalan pura-pura tak mendengar teriakan namanya.
"Aauwrgh sakit Dena!" pekik Rere mengusap lengannya yang dipukul oleh dena tanpa perasaan.
"rasain! Huh siapa suruh diteriakin belaga tuli sumpah lu ngeselin" kata Dena dengan nafas sedikit berantakan.
"Sorry, habis lo malu-maluin sih"
"iss! oke bakal gue maafin kalau lo traktir gue dikantin habis mapel oke! oke dong deal" seru Dena meraih tangan Rere paksa menyalaminya.
Rere menarik tangannya, "pemerasan itu namanya!" kata Rere tak terima.
"Bodo!"
"Rasain hi hi hi!" batin Dena
Dena melangkah meninggalkan Rere, dengan perasaan kesal Rere mensejajarkan diri disamping Dena.
"Lo sama nenek lampir itu sama aja tukang meras" dumel Rere,
"lah ngapain lo sama-samain gue sama dia ogah banget! eh tapi meras gimana maksudnya?" kata Dena sedikit heran.
"Gini semalam itu.." Rere menceritakan apa yang terjadi.
"Sumpah? asli kocak banget gue ngebayangin wajah itu nenek lampir pasti muram banget pas mulas" Dena tertawa terbahak-bahak.
"suara lo kondisikan" tekan Rere merasa malu menjadi pusat perhatian.
"ya iya sorry! ayo masuk kelas mapel gak lama di mulai" seru Dena menarik tangan Rere.
📌📌📌
Seperti kesepakatana sepihak dari Dena akhirnya mereka pun saat ini berada dikanti setelah mapel berakhir.
"lo mau makan apa? cepet pesen" ketus Rere menopang dagu seraya cemberut bosan menunggu Dena yang lama memikirkan.
"gue mau makan bakso, ketobrak, mie goreng dan emm sedikit naget?"
"lo beneran mau meras gue???" pekik Rere melotot,
"ha ha ha gak bercanda ya kali bisa-bisa perut mengembang seperti orang hamil, aku cuma pesan bakso gak apa kan?" tertawa pelan,
"emm baiklah pesankan aku juga" seru Rere mengibaskan tangannya.
"baik tuan putri" goda Dena bangkit memesan makanan,
"ehh minum apa?" tanya Dena kembali saat ingin melangkah.
"es jeruk!"
"oke!"
__ADS_1
Dena pun akhirnya benar-benar pergi memesan,Tak lama dena kembali membawa nampan cukup besar berisi bakso mereka.
"Tumben bawa sendiri gak minta dianterin"
"iya lagi ramai banget tadi yang ngantri sebagai waniga yang penuh simpati jadi aku meringankan dengan membawa pesanan sendiri" kata Dena dengan bangganya.
"ya deh yang rajin"cetus Rere meraih bakso yang mengugah selera itu.
"seperti biasa enaknya memuskan"cetus Rere random memakan bakso.
" emm ya pasti, ehh Btw kakak gue udah pulang loh tadi malam dari luar negeri"Kata Dena membuka topik pembicaraan.
"kakak? emang lo punya kakak sejak kapan?" tanya Rere binggung.
"Ya elah masa lo lupa sama kak Regan" kata Dena mengingatkan "ck, ituloh yang suka lo ledekin kutilang kurus tinggi tinggal tulang" lanjut nya saat melihat Rere makin binggung.
"siapa?" gumam Rere lalu berdiam mengingat-nginggat.
"Aaa ingat ! ingat gue yang irit ngomong itu kan yang ngeluarin suara kalau ditanya aja ya kan untung ganteng kalau gak? entah apa jadinya" seru Rere antusias akhirnya mengingat kakak yang dimaksud Dena barusan.
"Huhh akhirnya lo ingat, tahu gak sekarang dia gak kurus loh badannya, tapi behh kekar abis untung kakak sendiri kalau bukan udah gue pacari "
"yang bener lo" tanya Rere ikut penasarab sosok Regan saat ini.
"iyalah beneran tapi sikapnya tetap aja gitu datar"
"udah jangan banyak ngomong makan tuh bakso lo udah mulai dingin" seru melirik mangkuk Dena.
"ha ha iya" Dena pun melanjutkan makannya.
Beberapa menit kemudian,
"ah kenyangnya" kata Rere mengusap perutnya.
didepannya Dena sudah lebih dulu menghabiskan baksonya sedang mencari-cari sesuatu.
"kenapa lo?" tanya Rere memperhatikan Dena kebinggungan.
"Dompet gue ketinggalan kayanya, aduh gimana ini" kata Dena kalang kabut.
"lebay ah, kan baksonya gue juga yang bayar" cetus Rere,
"bukan tentang bakso Rere tapi bensin mobil gue minta minum tahu gak ih" kesal Dena cemberut.
"ya terus gimana?"
"pinjam uang lo ya! lo kan teman yang baik hati dan cantik pintar menabung" puji-puji Dena agar Rere meminjamkannya.
"ni nih" kata Rere menyodorkan uang seperti tak ikhlas.
"ikhlas gak nih?" kata Dena menaikan alisnya sebelah mengoda Rere.
"ya ikhlas" sahut Rere.
"oke kalau ikhlas gak perlu dikembalikan berarti" celetuk Dena santai.
"ye itu mah maunya lo dasar tukang meras" ketus.
"halah gitu aja ngambek canda kali! udah ah ayo kita kekelas gak lama masuk lagi ini "
__ADS_1
"emm iya ayo" balas Rere terpaksa bangkit.
Bersambung....