
_Di kantin.
selepas kelas berakhir Rere dan Dena pergi ke kantin setelah mendapatkan pesanan mereka duduk di kantin paling pojok.
"Re!"panggil Dena menatap Rere yang mengunyah pelan makanan nya.
"eemm"gumam Rere tak jelas.
"Lo gak ngabarin laki Lo kalau kita udah kelar?"tanya Dena.
"udah santai aja dia juga gak bakal marah kok"balas Rere tanpa beban sibuk fokus pada makanan nya.
"ya deh terserah kalau dia sampai marah itu resiko Lo gue gak ikut-ikutan"ketus Dena sedikit kesal melihat Rere yang masa bodo.
Drttt drttt
suara panggilan di ponsel Rere memecahkan keheningan, Rere dengan sigap meraih ponselnya.
"ya Assalamualaikum"kata Rere mulai terbiasa mengucap salam, Dena tidak bersuara tetap makan dengan pelan seraya tetap memerhatikan temannya itu.
📞"waalaikumsalam sayang! bagaimana apa kelas mu sudah berakhir?"tanya Regan.
"sudah emm ini aku lagi makan di kantin bareng Dena"jawab Rere sedikit kaku takut Regan tidak dikabari olehnya.
📞"oh lagi makan ya, ya sudah lanjutkan saja jangan buru-buru sekarang saya akan berangkat ke sana dan saya akan pastikan saat nanti kamu selesai makan dan langsung ke gerbang saya sudah ada menunggu kamu disana"kata Regan disambungkan, perkataan Regan terdengar manis ditelinga Rere dan itu membuatnya tak kuasa untuk menahan senyum.
"iya makasih! kamu pengertian banget"balas Rere tersenyum.
📞"tentu untukmu"sahut Regan lembut.
"dasar alay"cibir Dena pelan tapi masih bisa didengar oleh Rere.
"sirik aja"celetuk Rere.
"apa sayang?"tanya Regan mendengar perkataan Rere.
"gak bukan apa-apa kok! tadi aku ngomong sama Dena" jelas Rere cepat, Dena didepan Rere memutar matanya.
"baiklah kalau begitu lanjutkan makan mu sayang assalamualaikum saya tutup"ujar Regan.
"ya waalaikumsalam"balas Rere mengakhiri panggilan.
"udah ngeliatin gue nya sekarang cepat habisin makanan Lo"seru Rere tidak ingin suami nya lama menunggu.
"udah makan gue dari tadi ini sisa dikit yang ada tuh piring Lo masih banyak isinya"cibir Dena tidak terima.
"ah oke-oke ayo makan"ujar Rere tidak memperpanjang masalah lagi.
beberapa menit kemudian Rere selesai makannya mereka pun langsung ke gerbang kampus seperti arahan dari Regan.
dari kejauhan Rere sudah bisa melihat mobil Regan terparkir ditempat tadi pagi saat suaminya itu mengantar.
tuk' tuk'tuk'
Rere mengetuk kaca mobil Regan yang ada didalam mobil menoleh tersenyum tipis, Rere Mundur beberapa langkah dan Regan membuka pintu mobil.
"Sayang!"kata Regan mendekati Rere dan memeluknya sekilas.
Rere senang hati meladeni Regan walau sedikit malu diperhatikan oleh para mahasiswa mahasiswi yang berlalu lalang.
__ADS_1
Regan menuntun Rere ke pintu mobil sebelah kanan membukakan pintu mobil untuknya dan tak lupa melindungi kepala Rere arah tidak terhantup pintu setelah itu Regan kembali memutar ke sisi kiri mobil dan masuk ke bagian tempat menyetir.
"ngerepotin diri sendiri!"batin Dena melihat tingkah laku Regan yang berlebihan.
"jomblo mana ngerti!"celetuk Rere random.
"sabuk pengaman nya dipasang"tegur Regan pada Dena yang begong dikursi belakang Rere ikut-ikutan melirik ke Dena.
"ah iya!"ujar Dena segera memasang sabuk pengaman.
"kamu juga kenapa melamun dipasang sabuknya emm baiklah saya paham manjanya pasti mau dipasangi kan"kata Regan bergerak membantu Rere memakai sabuk pengaman, Dena yang dibelakang merasa geli melihat tingkah laku Regan yang datar tapi sok romantis.
"terimakasih!"ucap Rere pelan.
"sama-sama sayang"balas Regan tersenyum tipis mengusap kepala Rere lembut.
"Hoek!!"Dena dibelakang berlagak seperti muntah.
Rere melirik sinis ke Dena sedangkan Regan hanya cuek tak ambil pusing dengan tingkah Dena menghidupkan mesin mobil lalu mulai menjalankannya.
Butuh kurang lebih setengah jam mobil Regan sampai ke halaman mansion utama Wijaya.
"dari pada gak dianggap mending gue cepat pergi"batin Dena, ia bergegas keluar mobil begitu berhenti karena ia jamin bertahan sedikit lebih lama mungkin perutnya akan mulas.
di dalam mobil Rere yang mau keluar malah ditahan tangannya oleh Regan.
"kenapa?"tanya Rere menoleh.
"Cium saya!"perintah Regan menatap ke depan kemudi yang sudah berhenti.
"Hah!?"pekik Rere cengong.
Cup! kecup Rere pada pipi Regan.
"tidak terasa!"protes Regan mendekati Rere, merasa terancam Rere menodong wajah Regan cukup kuat dan cepat-cepat berlari keluar, sadar lengah Regan menghela nafasnya menatap punggung Rere menjauh.
"awas kamu!"gumam Regan.
📌📌📌
"eh eh kenapa nak kok lari-lari"tegur Laras sedikit terkejut saat dirinya yang ada diruang tengah melihat Rere berlari masuk mansion.
Rere menghentikan langkahnya mendekati mamah mertuanya dan duduk disampingnya Laras.
"itu mah Regan isengin aku"adu Rere memelas meminta perlindungan,kening Laras mengerut.
"memang nya dia ngapain kamu?"tanya Laras mencari tahu tidak mungkin kan anaknya berlaku kasar pikirnya.
"gak di apa-apain sih cuma emm udah gak jadi mah aku masuk kamar aja assalamualaikum!"kata Rere cepat saat Regan mulai nampak diambang pintu ingin mengejar.
"sayang!! jangan lari nanti jatuh"teriak Regan menegur seraya mengejar Rere menaiki tangga.
"dasar anak muda"gumam Laras menggeleng pelan melihat kelakuan anak menantunya.
Rere yang dikejar oleh Regan merasa terancam mempercepat langkah kakinya.
Dubrak!!
"aauww"jerit Rere terduduk kakinya tersandung anak tangga terakhirnya
__ADS_1
"sayang!"teriak Regan terkejut dan khawatir mendekati Rere.
"Astaghfirullah sayang kan saya sudah bilang jangan lari lihat sekarang jatuhkan ini pasti sakit!"kata Regan kesal wajahnya terlihat sangat datar, Rere tidak berani menatap suaminya hingga ia hanya menunduk.
"mana yang luka?"tanya Regan jongkok di sisi Rere memegang bahu istri nya itu.
Rere membisu Regan menghela nafasnya Hap!! tanpa aba-aba Regan mengendong Rere seperti ala pengantin.
Brak!
pintu yang memang tidak dikunci itu terbuka setelah ditendang oleh Regan kuat.
"aduh kok gue deg-degan kaya mau disidang aja"batin Rere gugup.
"ergh!"pekik Rere terkejut tubuhnya dihempaskan Regan ke ranjang, Rere menoleh takut-takut ke arah suaminya yang berdiri disamping ranjang menatap nya datar.
"siapa yang suruh lari?"tanya Regan, bukan menjawab Rere malah menutup wajahnya menyembunyikan dari Regan.
"kamu dengar tidak yang saya katakan!?"suara Regan terdengar sangat marah.
"Rere!"ucap Regan meninggikan suaranya.
Rere terkejut dadanya merasa perih dan matanya memanas memaksakan nya untuk mengeluarkan air mata.
"Kamu itu kok seperti tidak ada sopan-sopannya sama suami? apa saya terlalu lunak selama ini membuat kamu jadi membangkang?"kata Regan emosi di diamkan oleh Rere ia belum sadar yang ia ajak bicara sedang menangis.
"hei dengar tidak? apa yang sakit?"tanya Regan dingin menahan diri agar tak kelepasan membentak Rere.
"sayang!"ujar Regan memegang bahu istri nya sontak ia terkejut saat tubuh Rere terasa sedikit bergetar.
"sa..yang! kenapa?"tanya Regan tergagap semakin khawatir mendekati Rere dan menarik pelan tangan istrinya agar ia bisa menatap wajah Rere.
"hiks!"Isak Rere tak tertahan saat ditanya bukan ia tak sengaja tapi seperti ada dorongan. dalam hatinya untuk semakin menangis saat ditanya oleh Regan.
"sayang!"kata Regan melunak khawatir menarik kembali pergelangan tangan Rere agar tak menghalangi, Rere akhirnya menurut menyingkirkan tangan dari wajahnya.
terlihat wajah penuh air mata dan sedikit isakan pelan keluar dari mulut Rere.
"apa yang sakit?"tanya Regan memeriksa tubuh Rere tapi tidak menemukan apa-apa " sayang ayo katakan dimana yang sakit"seru Regan lembut sedikit memaksa.
"kamu marah sama aku!hiks ak...akuu takut hiks"jawab Rere terisak.
Regan memalingkan wajahnya dan membuang nafas kasar merasa bersalah.
"bodoh Regan kau telah menyakiti istrimu!"batin Regan mengrutuk dirinya.
perlahan Regan mendekati ranjang duduk ditepi ranjang.
"sayang maaf"ucap Regan pelan memegang lengan Rere.
"saya salah terlalu khawatir hingga membuat kamu takut"kata Regan mengerakkan tangannya mengarah ke kepala Rere mengelus pelan.
"kamu nyeremin"gumam Rere tertunduk mulai berhenti menangis.
"maaf ya saya tidak segaja"kata Regan lembut menarik Rere kedalam dekapannya.
"iya"sahut Rere pelan memenamkan wajahnya di dada Regan.
"maaf sayang! Cup!"kata Regan sekali lagi dan meninggalkan kecupan di kepala Rere.
__ADS_1
Bersambung ...