
Akhirnya Dena diam kembali saat mendapat cubitan dipinggangnya dari sang mama.
"kalian belum ada niat punya anak gitu?" tanya Laras ikut menimpali pembicaraan.
Rere terdiam menoleh ke Regan meminta bantuan karena Regan sangat peka maksud Rere ia pun menjawab.
"ada tunggu saja" jawab Regan singkat mengeratkan rangkulan pada bahu Rere, Rere mengaruk kepala canggung tidak enak hati melihat Laras tersenyum canggung.
"laki gue kebiasaan banget dah" batin Rere.
"Rere mulai pergi ngampuskan besok? barangkat sama Dena aja ya" kata Laras.
"iya Re bareng gue aja besok, biar gue ada teman ngobrol pas dijalan" ucap Dena ikut menimpali dengan antusias.
"kalian saya antar" seru Regan.
"gak usah kak aku bisa kok nyetir sendiri" tolak Dena.
"Saya hanya ingin memastikan keamanan istri saya" tegas Regan, Sontak Dena terdiam.
"tapi kak_
Dena menghentikan perkataan nya saat Regan menatapnya tajam.
"udah Dena! kita tetap berangkat bareng kok tapi di antar sama Regan" kata Rere melihat Dena murung.
"iya kan Sayang" lanjut Rere menoleh ke Regan.
"Iya" balas Regan.
"ehem!" dehem Dena sedikit kesal akan dua orang itu selalu pamer kemesraan pikirnya.
"pengen cepet kawin gue jadinya lihat pengantin baru mesra banget" ledek Dena.
"sudah! kalian ini sudah besar tolong jangan kekanakan"tegur Panji saat orang didepan nya tidak bisa berbicara tanpa berdebat.
" maaf pah"kata Rere tak enak hati.
"sudah-sudah tidak ada yang salah, nak kalian sebaiknya sekarang istirahat ini sudah malam besok Rere juga mulai ngampus! jadi Regan bawa istri kamu kekamar nak" seru Laras.
"baiklah mah permisi" kata Regan pamit membawa istri nya, Rere menurut melempar senyum sebelum benar-benar pergi untuk tidur.
📌📌📌
"Sayang" panggil Regan begitu menutup pintu.
"apa?" sahut Rere yang masuk kamar lebih dulu menoleh ke arah Regan.
"kamu masih datang bulan?" tanya Regan kaku.
__ADS_1
"kenapa nanya-nanya" kata Rere balik tanya.
"sudah apa belum?" tanya Regan merapatkan tubuhnya ke arah Rere memeluknya dari belakang.
"belum! paling besok sore baru mandi bersih" balas Rere santai tanpa beban.
Regan diam dengan tangan setia melingkar dibahu Rere.
"kenapa?" tanya Rere.
"kenapa sih?" batin Rere bertanya-tanya Regan juga tidak mengatakan apa-apa dalam pikiran nya membuat Rere tak paham suaminya itu mau apa.
Regan tidak menjawab tapi malah mendorong tubuhnya pelan hingga terduduk di ranjang dan membalikan tubuh Rere menghadapnya.
Rere menatap Regan mengerutkan kening,
Deg! Deg! Deg!
"Ka..kam..u mau ap..a?" kata Rere gugup seperti nya mulai paham keinginan Regan, Glek! Rere menelan ludah.
Tanpa suara Regan merebahkan Rere tiba-tiba ke ranjang dan menindihnya,kedua tangan Rere yang sempat mendorong dada Regan langsung ditangkap dan di angkat ke atas kepala Rere menekan merapat ke ranjang.
"kita main aman" bisik Regan terdengar serak dan itu membuat sesuatu yang ada di dalam dada Rere berdesir.
"ta..tapi aku lagi da..pet" kata Rere benar-benar dilanda gelisah tidak dapat bergerak bebas.
"Tolong diam dan menurut saja!" tegas Regan dengan kepala nya yang terasa sangat pusing.
"argh" keluh Rere tak jelas saat tangan Regan menyusup masuk ke dalam piyamahnya.
Regan mendekat kan wajahnya pada Rere mata keduanya bertatapan,Rere bisa melihat mata sayu Regan.
Rere menutup matanya tak tahan ditatap begitu dalam oleh Regan.
sesuatu kenyal,hangat dan sedikit basah menyentuh bibir Rere awalnya hanya saling menyentuh tapi lama kelamaan benda itu mulai bergerak dan seperti mengis*p bibir Rere.
"auwwrgh" Rere meringis pelan saat bibir nya digigit Regan, kesempatan itu tak disia-siakan oleh Regan untuk memainkan lidahnya.
"emgrh" gumam Rere membuka matanya wajah Regan bergitu dekat hingga titik hitam kecoklatan diujung alis kanan Regan itu terlihat.
tangan Regan yang aktif mencari sesuatu penggait disana dan mata Rere terbelalak saat tangan Regan menyentuh bukit sensitifnya secara langsung.
Regan membuka baju Rere tanpa kesusahan seperti seorang ahli.
"saya sangat ingin jadi jangan heran!" lirih Regan saat Rere melepaskan ******n bibir Regan paksa karena cukup terkejut.
"maaf Sayang saya tak tahan" ucap Regan mengebuh bangkit dan dengan cepat membuka seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya
"argh!" pekik Rere menutup matanya dengan kedua tangan ia benar-benar merasa gugup gelisah takut bercampur aduk.
__ADS_1
"Regan!!" jerit Rere kualahan dengan Regan sudah membuka celana miliknya tanpa aba-aba.
"Diam!" tegas Regan, Rere baru sadar busana bagian atas tubuhnya juga sudah hilang.
"Sayang aku halangan" teriak Rere benar-benar takut harus di gagahi saat ini.
"diamlah Rere" seru Regan datar dimata Rere seperti bukan suaminya yang dikenal, tubuh Rere benar-benar hampir polos jika saja celana dal*mnya dibuka.
"tenang Sayang! saya tidak akan melewati batas" lirih Regan sadar telah menakuti Rere, Rere mengangguk pelan mulai pasrah ia percaya suaminya itu yang dirapal Rere dalam pikirnya.
Regan mengeser tubuh Rere ketengah ranjang, Regan mengubah posisi nya dirapatkanya kedua paha Rere dengan sedikit menjepit miliknya diatas milik Rere yang tertutup kain tipis dan pembal*t disana.
"tahan sayang" pinta Regan memposisikan kaki Rere dipundak kirinya.
Rere menurut satu tangan Regan menahan kaki Rere dipundah dan satu menyentuh bukit milik istrinya sedikit meremas.
"aarhhg!" desis Rere tertahan menikmati sentuhan tangan Regan, perlahan-lahan Regan mengerakan pinggulnya.
"Sayang!" lirih Regan merasa hangat jepitan pelan paha Rere.
Regan memejamkan matanya sekilas dan menatap wajah Rere memerah entah karena malu atau apa Regan tak tahu yang penting sekarang ia ingin menuntaskan keinginanya.
"Arrghh! Re"
"ehrgh"
Rere yang ada di hadapan Regan sangat malu saat ini wajahnya terasa benar-benar merah apa lagi sesuatu yang keras terasa nyata dibahwanya.
"Regan!" batin Rere.
Ada sensasi geli sebenarnya tapi masih bisa Rere tahan perutnya terasa hangat terus-terusan melihat Regan melakukan sesuatu di sana.
"Arghhh!" des*ah Regan saat sesuatu yang hangat keluar dari miliknya.
"sekali saja cukup" batin Regan menahan diri dan bergerak membaringkan diri disamping Rere.
"maaf sayang saya tadi menakutimu" bisik Regan memeluk Rere dari samping memenamkan wajahnya ditengkuk Rere.
Rere hanya diam seperti patung bingung harus merespon seperti apa.
"kamu marah?" tanya Regan saat Rere tak menjawab.
"gak!" balas Rere pelan.
"baiklah saya tahu kamu malu, sekali lagi maaf dan terimakasih kamu sangat nikmat walau tidak benar-benar masuk tapi tak apa saya puas!" kata Regan frontal "tidur lah" seru Regan mendekap Rere.
Hanya mengikuti perkataan Regan dan tak berapa lama benar-benar tertidur.
"Saya cinta kamu" gumam Regan lalu menyusul Rere ke alam mimpi.
__ADS_1
Bersambung ...