
Rere dan Dena sudah menunaikan Sholat Magrib dan akan segera keluar kamar karena waktu makan malam akan tiba.
di sisi lain Regan juga akan keluar kamar akan kemeja makan,letak kamar Dena dan Regan berhadapan dilantai dua.
Regan membuka pintu bersamaan dengan Rere yang membuka pintu karena Dena memintanya melangkah lebih dulu.
Ceklek!
Dua pintu terbuka bersamaannya, Rere dan Regan terdiam memandang kedepan tiba-tiba Regan mundur satu langkah karna terkejut.
"Nenek tua" batin Regan menatap Rere.
"sial dia nganggap gue nenek nenek?" batin Rere kesal.
"ayo Den lo lama banget" seru Rere menarik tangan Dena melangkah lebih cepat meninggalkan Regan yang masih terbegong dipintu.
"gadis itu memiliki pendamping?" gumam Regan sedikit terkejut melihat bayangan sosok nenek tua serba putih menatapnya tajam dibelakang Rere.
"siapa dia?" gumam Regan entah mengapa ia merasa tertarik.
📌📌📌
dimeja makan sudah ada kedua orang tua Dena.
"Ehh ada teman Dena, Rere bukan sih" kata laras ramah memastikan.
"iya tante saya Rere udah lama gak kesini jadi gak heran tante lupa ingat sama saya" jawab Rere lembut tersenyum.
"Udah mah Rere nya jangan diajak ngomong suruh duduk gih" seru Panji, Rere melempar senyum ke arah papah Dena itu dibalas senyuman pula.
Rere duduk disamping Dena setelah diminta duduk tak lama suara tarikan kursi terdengar didepannya.
Regan bertingkah seakan tak terjadi apa-apa.
"ayo makan yang banyak nak Rere jangan sungkan kalau mau tambah ambil aja ya om tidak akan menawarkan lagi karena saat makan tidak boleh bicara jadi kamu tidak usah malu nambah" jelas Panji.
"iya om terimakasih"
mereka pun makan malam dalam keheningan dan sesekali Regan menatapnya karena ia dan Regan duduk persis berhadapan didepannya.
"Cantik!!" batin Regan tersenyum samar.
"Dasar plin-plan" batin Rere sedikit kesal.
tanpa mereka sadari Dena memerhatikan mereka yang sering saling beradu pandangannya.
📌📌📌
Sesudah makan Rere dan Dena langsung permisi kekamar Dena dengan alasan akan mengerjakan tugas bersama padahal tidak melakukan apa-apa.
sebelum kekamar Rere minum air putih lagi dimeja makan karena tenggorokannya terasa kering sedang kan yang lain sudah pergi lebih dulu.
Saat ingin kembali Rere melihat Regan berdiri di tangga paling atas menatapnya tajam.
"kenapa nih orang" batin Rere tanpa rasa takut Rere tetap melangkah naik tangga.
Namun saat anak tangga terakhir ada tangan yang menahannya Rere pun menoleh dan itu adalah tangan Regan.
"siapa kamu?"
Rere menoleh menarik naik alisnya menatap Regan binggung.
"aku?" tanya Rere menunjuk dirinya sendiri dengan tangan kanannya.
"iya kamu"tekan Regan menatap Rere dan sesekali ekor mata Regan melihat sosok dibelakang Rere.
__ADS_1
" Jodoh kamu"celetuk Rere tanpa beban mengedipkan sebelah matanya tersenyum manis, lalu kembali melangkah saat pegangan tangan Regan ditangan kirinya merenggang.
"Auranya sangat pekat" gumam Regan merasa sedikit sesak didadanya.
"tapi megapa rasa tertarik ini semakin kuat" lirih Regan mengusap dadanya seraya memandang kepergian Rere yang sudah tak terlihat.
📌📌📌
Ceklek!
Rere menutup pintu dan bersadar disana,
"dia tertarik sama gue? atau guenya ke gr an?" gumam Rere kedua tangan saling genggam diatas dadanya.
"Hello Rere lo ngapain disitu" tegur Dena menatap Rere Heran.
"ah gak papa" sahut Rere ikut naik ke atas ranjang duduk disamping Dena.
"oh ya gimana menurut lo kak Regan?" kata Dena duduk bersila menghadap Rere" gue lihatin tadi kalian saling lirik-lirikan iya kan ngaku lo" paksa Dena.
"ternyata bener kata lo dia ganteng banget sekarang" "sama seperti di mimpi" lanjutnya dalam hati.
"tuh kan bener! lo pasti pangling kan tadi sama dia karena gugup makanya lo tarik tangan gue cepat-cepat hehe lucu banget sih lo saltingnya"kata Dena salah paham.
" ya terserah lo lah"balas Rere tak mau ambil pusing.
Suara azan terdengar diponsel Rere menandai masuk waktu isyah.
"lah sejak kapan lo pasang ginian dihp lo" tanya Dena baru pertama kali mendengar suara azan dihp Rere.
"sejak gue tobat sambal!" ketus Rere bangkit turun ranjang.
"tapi kok pas magrib gak ada suaranya?" tanya Dena binggung.
"gue silent, udah ah cerewet banget lo ayo sholat" kata Rere masuk kamar mandi mengambil wuduh lebih dulu.
📌📌📌
|21:02|
"mah" Regan menghampiri Orang tuanya yang bersantai di ruang Keluarga menonton tv, Laras dan Panji menoleh.
"iya nak kenapa? sini duduk"panggil Laras menepuk sisi sofa disampingnya yang kosong.
Regan menurut duduk disamping Mamahnya.
"saya mau tanya" kata Regan dengan canggung takut orang tuanya berpikir yang tidak-tidak.
"kamu mau ngomong apa nak?" tanya Panji berbicara karena penasaran akan putranya yang tumben sekali mengajak mereka mengobrol.
"Teman Dena itu siapa? seperti nya aku tidak asing dengannya" tanya Regan datar karena merasa pernah bertemu dengan gadis itu, Laras dan Panji tersenyum.
"Kenapa kamu suka sama dia" tanya Laras tersenyum mengoda.
"tidak saya hanya merasa tidak asing dengannya"sahut Regan datar tak ambil pusing dengan senyum mengoda dari Laras.
" Oh si Rere itu memang sering kesini dulu malah nih ya nak kamu juga akrab loh sama dia pas dia masih Sma dan kamu belum kuliah keluar negeri cuma sekarang aja udah jarang kesini jadi mamah sempat lupa tadinya sama dia"jelas Laras.
"Akrab dengan gadis itu? benarkah?" batin Regan mencoba mengingat-ngingat kembali.
"nak!" panggil Laras.
"terimakasih mah infonya saya kembali ke kamar" seru Regan meninggalkan orang tuanya.
Panji melihat anaknya menjauh,
__ADS_1
"anak kamu itu kenapa mah tumben nanya-nanya gitu" kata Panji heran.
"mamah juga gak tahu pah! mungkin dia tertarik sama Rere" kata Laras dengan kening berkerut,
"bisa jadi!"kata Panji.
"modahan beneran tertarik supaya mamah cepat dapat menantu" kata Laras antusias membayangkan.
"udahlah mah urusan anak muda itu! kita gak perlu ikut campur"
"ih papa gak asik"kata Laras kembali fokus menonton dengan perasaan kesal pada suaminya.
📌📌📌
|00:21|
semua orang di mansion Wijaya sudah tertidur begitu pula dengan Rere dan Dena.
ting tong ting tong
hanya suara jam antik diruang tengah yang bersuara.
_Kamar Dena
Rere bangkit turun dari ranjang perlahan berjalan keluar tanpa mengunakan alas kakinya.
Ceklek!
Rere berjalan lurus dengan wajah tertunduk matapun masih terpejam.
Ceklek!
Pintu kamar Regan terbuka dengan mudah.
Regan terbangun karena ia baru beberapa menit terpejam dan saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka perasaannya was-was menyadarkan dirinya yang dilanda rasa kantuk.
" Rere?"Gumam Regan saat pandangannya jelas ia melihat Rere berdiri di tepi ranjang dekat kakinya.
"kamu ngapain kekamar saya?" tanya Regan datar ditegoknya pintu yang terbuka lebar.
"pintu itu sudah ku kunci dari dalam, mengapa bisa di buka olehnya?" batin Regan Heran lalu kembali fokus pada Rere.
"mau apa kamu!?" tanya Regan tak sabaran saat Rere lancang masuk kamarnya.
Deg!
Rere mengangkat wajahnya memandang ke depan matanya terbuka dengan tatapan kosong.
"bukannya kau tertarik denganku? jadi aku menghampirimu!" kata Rere terdengar serak membuat tengkuk Regan terasa merinding.
dengan pelan Regan turun dari ranjangnya mendekati Rere.
"saya memang tertarik denganmu tapi kau tak perlu masuk kekamar ku! kau tak sopan" tekan Regan tak ingin memperlihatkan kalau dirinya sebenarnya sedikit gugup karna aura yang dikeluarkan dari tubuh Rere.
"ku pikir kau juga tertarik pada gadis ini! jika ia ku harap kau tak mempermainkannya" tegas sosok itu samar-samar bayangan bentuk aslinya terlihat oleh Regan.
"saya bukan pemain wanita!" tegas Regan, "kembali kekamar Dena sebelum ada yang menyadari Rere ada dikamar saya" lanjutnya.
"kau memerintahku?" bentak Rere menatap Regan marah.
"tidak bukan seperti itu, ini juga demi kebaikan Rere! apa kata orang kalau tahu seorang gadis masuk kamar lelaki dewasa"
"baiklah kali ini aku mengalah tapi lain kali tidak akan" seru Rere kembali kekamar Dena.
Brak!
__ADS_1
pintu Regan tertutup dengan kuat, Regan hanya diam lalu kembali naik ke ranjang melanjutkan tidurnya.
Bersambung...