
Regan melangkahkan kakinya keluar menyusul Rere yang lari keluar kamar lebih dulu.
_Ruang Tengah
"Disini ternyata kamu ya" kata Regan datar mendekati Rere seperti ingin menerkam.
"ampun bos"kata Rere mengulum bibirnya menahan tawa dengan tangan kedua dirapatkan didepan mukanya meminta maaf.
" Tak akan saya maafkan Aurgm"kata Regan bercanda mengraum ingin menerkam seperti harimau, dan langsung menindih Rere.
"ha ha ha" tawa Rere pecah begitu Regan mengelitiknya kuat.
"ampun.. ha ha kamu. be..rat ha..ha"
Regan mengentikan tangannya mengelitik beralih mencakum wajah Rere dengan.
Cup! Cup! Cup!
kecupan beruntun ditayangkan Regan pada bibir Rere, wajah Rere tercegang.
"kok berhenti" celetuk Rere dengan wajah polosnya.
Regan tersenyum memalingkan wajah menggeleng geli melihat tingkah Rere.
"iya nanti saya cium kamu lagi, sekarang kita pergi" kata Regan beranjak dari atas Rere dan menarik istrinya lembut serta membantu merapikan rambut Rere yang berantakan disebabkan olehnya.
"mau kemana" tanya Rere mendongak menatap Regan yang sibuk dengan rambutnya.
"Ke kantor saya" kata Regan tersenyum tipis.
"mau ngapain?" tanya Rere kembali.
"nanti kamu tahu sendiri! jangan banyak tanya" kata Regan geregetan menyubit pipi Rere.
"argh! sakit" gumam Rere meringis tak jelas.
Cup! Cup!
kecupan ditanyangnya Regan dikedua pipi Rere yang dicubitnya sebelumnya,
"Sudah sembuh ayo kita berangkat" kata Regan menarik tangan Rere keluar, Rere pun menurut seperti anak kecil yang digandeng ayahnya.
📌📌📌
Kurang lebih setengah jam mobil yang dikendarai Reganpun berhenti di pintu utama sebuah gedung yang megah dan menjulang tinggi.
"Wahh!! ini kantor kamu gan?" kata Rere takjub menatap keluar melihat gedung itu, Regan tak menjawab hanya keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Rere.
"Ayo sayang" kata Regan menuntun Rere keluar mobil dan mengandengnya mesra, sebelum masuk Regan melemparkan kunci pada satpam yang bertugas seperti biasanya.
"kok?"kata Rere melihat Regan melempar kunci.
" tidak apa dia yang akan memarkirkan"jawab Regan singkat dibalas Rere membentuk bibirnya kata oh tanpa suara.
kehadiran pasangan itu menarik simpatik karyawan yang berlalu lalang, mereka sebisa mungkin menyapa mereka dengan ramah begitu berpapasan.
"ihh jalannya jangan cepat-cepat!! kaki aku sakit" keluh Rere merengek menarik tangan Regan kualahan dengan langkah Regan yang begitu panjang melangkah.
"Aah Maaf sayang" kata Regan bersalah melepaskan genggaman tanganya beralih dengan merangkul Rere.
"Ayo" seru Regan mereka pun kembali melangkah dengan Regan yang memelankan ritme langkahnya menyesuaikan langkah Rere.
"Selamat pagi pak! ada yang saya bisa bantu? sampai repot-repot datang keperusahaan tanpa mengabari terlebih dulu" kata seorang wanita tersenyum lebar seramah mungkin dengan baju sedikit terbuka memperlihatkan lengkuk tubuhnya.
__ADS_1
"siapa sih so akrab banget" batin Rere sinis mengerutkan keningnya memandang Wanita itu dari kepala sampai ujung kaki merendahkan.
"nih bocah gak sopan banget" batin wanita itu risih diperhatikan Rere.
"siapa?" Tanya Rere menatap Wanita didepannya tak suka.
"Sayang kenalkan ini sekertaris saya namanya melani" kata Regan sedikit engan memperkenalkan namun tak ingin jika Rere salah paham padanya.
"Aduh!! ini adiknya ya pak wah!! udah gede aja! Dena bukansih namanya" kata Melani berusaha mengakrapkan diri.
"ehh situ tuli kah? gak denger Regan manggil gue sayang?" kata Rere tak terima dianggap adik Regan.
"kan bisa sayang adik" balas Melani tak mau kalah.
"Dia istri saya!" Tegas Regan melunturkan senyum Melani tapi bukannya sadar diri melani kembali memasang senyumnya mendekati Regan.
"mari pak saya antar keruangan" kata Melani tersenyum genit, Plak! Melani meringis.
"Hubby sekertaris kamu genit!" jerit Rere kesal setelah menepis tangan Melani yang akan menyentuh lengan Regan.
"menyingkir! kerjakan tugasmu!" kata Regan kesal.
Dengan tak terima Melani akhirnya terpaksa bergeser sebelum atasnya itu marah.
"hubby nanti jangan lupa suruh ob nyemprot obat serangga, takutnya ada yang digigit terus jadi gatel! " kata Rere sebelum masuk dan menekan kata diakhir kalimatnya seraya melirik sinis ke Melani.
Brak!
"Shittt bocah edan" umpat Melani terkejut aksn bantingan pintu.
didalam ruangan Regan hanya diam melihay tingkah Rere dan membawa istrinya duduk disofa dengan tenang.
"sebentar ya" kata Regan meraih ponsel disakunya menghubungi seseorang,Rere hanya diam memperhatikan.
📞" saya masih dimeja pak"jawab seseorang didalam telpon.
"Bawa masuk berkas yang saya minta kemarin" perintah Regan.
📞"tapi pak bukanya_
"saya tidak minta kau beralasan cepat bawa kemari _tutt"tekan Regan memotong perkataan dan langsung mematikan sambungan secara sepihak.
" nelpon siapa? "tanya Rere penasaran.
" Melani"jawab Regan hati-hati melirik Rere yang dia duga pasti akan semakin kesal.
"ngapain kamu nelpon dia orangnya aja dibalik pintu itu! kurang kerjaan banget" dumel Rere tak senang.
"ada sesuatu penting yang harus dia bawa" jelas Regan.
"tau ah gelap" ketus Rere memalingkan wajah kesal.
tok' tok' tok'
"masuk!" perintah Regan, yang masih memerhatikan istrinya yang sedang merajuk.
Ceklek!
Melani masuk melangkah dengan lengkak lengkok bak seorang model mendekati Regan,
"ini pak berkasnya" kata Melani menaruh berkas diatas meja sedikit membungkuk memperlihatkan belahan dadanya dengan jelas.
Sontak Rere melotot terkejut, tanpa tahu apa-apa Regan tersenyum tipis memeperhatikan segala tingkah Rere.
__ADS_1
"ini pak berkasnya" ucap Melani kembali masih setia dengan posisinya, baru saja Regan ingin menoleh tapi, gelap! Rere menutup kedua matanya.
"ngapain lo bungkuk-bungkuk mau jadi nenek-nenek lo"bentak Rere," kamu juga ngapain pakai noleh-noleh segala"dumel Rere melepaskan tangannya yang menutup mata Regan sebelumnya setelah memastikan bahwa Regan tak akan kembali menoleh.
"terus saya harus bagaimana?" tanya Regan menatap Rere.
"begini!" tanpa aba-aba Rere bangkit berpindah duduk kepaha Regan berhadapan dengannya.
Mata Melani langsung terbelalak,
"eh bocah lo yang sopan sama yang lebih tua" kata Melani mendekat menarik lengan Rere.
"apasih lo siluman ular ganggu aja!" kata Rere memeluk leher Regan tak mau kalah.
"turun gak lo dasar kecil-kecil udah jadi jalan!" rutuk Melani menarik-narik tangan Rere kuat.
"CUKUP MELANI LEPASKAN ISTRI SAYA" bentak Regan tajam merasa marah.
"Tapi pak_
" KAU TULI? CEPAT PERGI ATAU ANGKAT KAKI DARI PERUSAHAAN INI"bentak Regan kembali tak mau tahu.
"ba..baik pak" kata Melani cepat-cepat melangkah pergi dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
Rere yang melihat Regan ikut merasa takut pelan-pelan akan bergeser ingin berpindah duduk.
"diam jangan bergerak" tegur Regan memeluk pinggang Rere yang ingin bergeser.
"ta..ta.pi" balas Rere gugup.
"diam sayang" kata Regan dengan suara melunak "maaf ya saya malah marah-marah didepan kamu" lanjutnya memeluk Rere erat.
"iya gak papa" sahut Rere hati-hati.
"sebenarnya tujuan kemari adalah ingin mengalihkan sebagian saham saya kepadamu" jelas Regan.
"maksudnya?" tanya Rere tak paham.
"sudah jangan banyak bertanya tanda tanganilah ini sekarang" tegas Regan memberi berkas setelah Rere berpindah duduk disampingnya sebelumnya.
terlalu malas tanpa membaca isi berkas itu Rere langsung menanda tanganinya.
"baiklah, dengan ini saham yang sebelumnya saya miliki 75% saya alihkan padamu 35% jadi saham milik saya sekarang tinggal 40%." kata Regan.
Rere tercegang "ini maksudnya gimana?" batin Rere lingkung.
"maka kamu sudah secara sah menjadi salah satu pemilih saham terbesar diperusahaan ini setelah saya" jelas Regan kembali melanjutnya perkataanya.
"ka..ka.mu serius?" tanya Rere tak percaya.
"tentu saja serius, saya hanya ingin menepati janji saya sebelumnya menikah dengan mu" kata Regan tersenyum tipis.
"rekor ini Regan ngomong banyak banget hari ini sama gue" batin Rere nyeleneh.
"hey! kamu dengar yang saya katakan?"
"ah iya, terima kasih sayang" kata Rere memeluk Regan senang.
"sama-sama sayang" balas Regan menerima pelukan Rere suka rela.
"satu misi tercapai" batin Rere tersenyum samar.
Bersambung ...
__ADS_1