Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
29.Teman hidup saya!


__ADS_3

|15:32|


Drtt drtt


Suara panggilan masuk di ponsel Regan terdengar mengusik tidurnya yang nyaman.


"Hallo" kata Regan membisik dengan suara serak khas orang bangun tidur.


📞"Hallo, tuan! semua kebutuhan nona muda sudah lengkap, kami juga sudah ada didepan pintu" kata seseorang didalam sambungan telpon.


"ya! tunggu disana!" seru Regan lalu mematikan ponsel.


Regan melirik ke Rere yang masih terlelap dengan nyaman di dalam pelukannya, perlahan Regan melepaskan pelukan itu tanpa membangunkan Rere.


Begitu pelukan terlepas Regan turun perlahan dan berjalan pelan ke arah pintu.


Ceklek!


Nampak ada dua karyawan hotel pria dan tiga wanita didepan pintu berseragam sama serta satu orang yang sempat menyambut kedatangan Regan tadi dihotel.


"taruh didalam dekat pintu saja dan jangan berisik!" perintah Regan memberi jalan.


Para karyawan hotel itu pun membereskan barang-barang yang baru dibeli dan barang yang ada di mobil.


salah seorang karyawan hotel menghampiri,


"Tuan" panggil karyawan itu, Regan menoleh menarik sebelah alisnya naik.


"saya menemukan bakso di jok kursi belakang, tapi sudah dingin mau ditaruh dimana?" kata karyawan itu hati-hati.


"Buang saja,beli baru!" seru Regan bersedekap menyilangkan kedua tangan didada.


"tapi_


" jangan berisik! Toni beri dia uang!"tegas Regan,pria berjas bernama Toni itu mengeluarkan dompet dari sakunya dan menyodorkan dua lembar uang berwarna merah.


"kenapa lagi?" tanya Regan datar menatap tajam karyawan yang tak beranjak dari hadapannya.


"itu..anu bolehkah baksonya untuk sa..ya saja?" kata karyawan itu tergagap karena gugup.


"Ya!" balas Regan mengibaskan tangan meminta karyawab hotel itu lekas pergi.


Dengan cepat karyawan itu berbalik pergi untuk membeli bakso yang baru.


"Selesai Tuan!" lapor karyawan pria.


"ya pergilah" sahut Regan, semua karyawan yang ada disana pun bergegas pergi.


"kita bicara diluar" seru Regan pada Toni.


Mereka keluar kamar Regan menutup pintu pelan.


"Ada tugas untukmu" kata Regan menatap Toni datar seperti biasa.


Toni mengangkat wajahnya menatap lurus ke arah Regan dengan mimik wajah serius menunggu perintah.


"Cari tahu segala sesuatu yang berkaitan dengan saudari perempuan istri saya secara rinci jangan sampai ada yang tertinggal , nanti malam sudah harus lengkap" Perintah Regan tegas.


"baik tuan!" jawab Toni menunduk.


"kerja bagus"puji Regan tersenyum sinis " lihat saja berani mengingit lagi maka tamatlah riwayatmu"batin Regan.

__ADS_1


"Tuan ini baksonya" kata seorang karyawan menghampiri Regan dengan nafas sedikit tak beraturan.


"Terimakasih" kata Regan menerima bakso itu.


"sama-sama tuan! kalau begitu saya permisi" ujar karyawan itu sedikit membungkuk dan berbalik melangkah pergi.


"Toni!" panggil Regan membelakangi Toni.


"ya Tuan?"


"Kerjakan tugasmu dengan benar,jangan kecewakan saya!, pergilah" ucap Regan.


"baik Tuan!" jawab Toni tegas sedikit menunduk.


Ceklek!


Regan masuk dan menutup pintu perlahan, Regan menaruh bakso diatas meja.


|15:58|


"Terlalu sore untuk kembali tidur" gumam Regan melangkah pergi kekamar mandi dan bersiap menunaikan sholat Ashar.


Regan melaksanakan sholat dengan khusyu hingga tak menyadari Rere yang sudah terbangun menatapnya duduk di tepi ranjang.


"Loh!? kamu sudah bangun?" kata Regan baru saja melipat sajadahnya, Rere mengangguk pelan.


"dari kapan? kenapa saya tidak sadar?" tanya Regan.


"tadi pas kamu qomat" balas Rere santai.


"baiklah, Rere ada bakso di meja makan" ujar Regan.


"Ah benarkah? sungguh suamiku sangat perhatian" kata Rere senang bangkit melangkah ke arah meja makan didekat dapur itu.


"beli baru" sahut Regan menarik kursi yang berhadapan dengan Rere.


"beli baru? terus yang tadi pagi?" tanya Rere duduk menatap Regan penuh tanya "jangan bilang di buang!?" kata Rere menyipitkan matanya menatap Regan curiga.


"tidak"jawab Regan singkat.


" tidak apa? terus kamu apain?"tanya Rere kembali.


"jangan banyak bertanya makan saja nanti dingin" tegur Regan mulai mengaduk bakso miliknya.


"oke oke!" kata Rere mengangguk pelan dengan pasrah mulai menaruh perlengkap seperti sambal dan jeruk nipis.


"kecap?" tanya Regan menyodorkan kecap yang tidak disentuh Rere.


"Gak suka taruh kecap kalau makanan berkuah" kata Rere menolak halus.


"kenapa?" kata Regan penuh tanya menatap Rere yang asik memeras jeruk cukup banyak ke mangkok membuatnya sedikit meringis.


"gak enak aja rasa asam sama pedesnya jadi hilang" jelas Rere mulai mengaduk bakso nya.


"tidak takut sakit perut?" tanya Regan menatap air dimangkuk Rere yang merah karena sambal.


"gak bakal udah kebal" sahut Rere percaya diri.


"baiklah kalau begitu jangan lupa berdoa" ujar Regan menghentikan perkataan nya tidak ingin terlalu mengatur dan mulai berdoa lalu menyantap makanan didepannya.


Tidak ada suara selain handukan sendok dan mangkok bukan karena Regan yang melarang Rere berbicara saat makan hanya saja Rere sedikit sungkan untuk mengeluarkan suara apalagi sudah tahu kebiasa makan dimeja makan dikediaman wijaya.

__ADS_1


"hehhh huhh pedes" gumam Rere mengipas mulutnya selesai makan.


Regan tidak mengatakan apa-apa hanya mengunci mulut seraya membereskan bekas makan mereka.


"biar aku yang cuci" ucap Rere mengambil alih bekas kotor menuju wastafel, Regan mengalah dan duduk kembali dikursi seraya sambil menunggu Rere.


Sesudah cuci mangkok Rere masih merasa kepedasan dengan wajah yang nampak merah dan berkeringat yang bercucuran deras. Regan menghela nafas bangkit dari duduknya mengambil sesuatu dikulkas.


"ini minum! lain kali jangan berlebihan" seru Regan menyodorkan susu kotak pada Rere dan diterima dengan senyum senang.


"ya kalau gak hilaf" celetuk Rere pelan.


"apa?" kata Regan menatap Rere tajam.


"gak aku bilang makasih kamu peka banget sayang" kata Rere meralat perkataanya dengan cepat.


"oh ya tadi kalau gak salah aku lihat banyak barang dekat pintu pas mau kedapur" ucap Rere santai karena rasa pedas mulai menghilang di mulutnya.


"iya, itu barang kita" balas Regan singkat.


"ohh! nanti aja ya beresinya masih begah" kata Rere duduk dikursi disamping Regan mengusap perutnya kekenyangan.


"iya" sahut Regan tak banyak bicara.


"Regan" panggil Rere menatap Regan.


"apa?" jawab Regan yang dari tadi tak memalingkan wajah kearah lain sama sekali.


"itu..anu..apa namanya" ujar Rere bingung sendiri sedikit tunduk mengaruk kepala tidak gatal.


"kenapa?" tanya Regan mengulur tangannya meraih sebelah tangan Rere untuk digenggam.


"kamu.. mau dipanggil apa sama aku?" tanya Rere menatap Regan canggung.


"apa saja tapi, yang penting harus terdengar setara" jawab Regan.


"maksudnya?" tanya Rere tidak mengerti.


"panggilan yang tidak membuat saya merasa tua" jelas Regan memalingkan wajah sedikit malu.


"Oohhh.. aku gerti sekarang kenapa kamu gak mau dipanggil kakak, abang atau apa itu karena gak mau merasa lebih tua dari aku kan" ujar Rere menatap Regan menyipitkan mata menujuk wajah Regan.


melihat jari Rere menujuk wajahnya tanpa sungkan Regan mengigitnya.


"issh argh! sakit!" jerit Rere meringis langsung menarik tangannya begitu terlepas dari gigitan Regan Rere mengusapnya.


"tidak sopan!" tegur Regan datar.


"maaf jangan marah" kata Rere memelas.


"iya" sahut Regan meraih tangan Rere ikut mengusap jari telunjuk itu dengan pelan.


"terus kenapa Dena manggil kamu kakak?" tanya Rere kembali cukup penasaran.


"karena saya kakaknya" balas Regan.


"terus kenapa aku gak boleh?" tanya Rere lagi lagi.


"dia adik saya sedangkan kamu, teman hidup saya!" tekan Regan dengan tegas.


Blush! pipi Rere memanas dengan perasaan senang menarik Regan kepelukannya.

__ADS_1


"sumpah nih suami gue kebanyakan makan gula" batin Rere tersenyum.


Bersambung ...


__ADS_2