Si Cantik Mengubah Takdir

Si Cantik Mengubah Takdir
18.Pra nikah.


__ADS_3

"Baiklah saya akan memberi izin bila Rere juga ingin pernikahan itu!"


"Kalau begitu biarkan Saya berbicara dengan Rere" kata Regan.


"silahkan"


"kak Aku ikut" seru Dena ikut berdiri saat kakak nya ingin pergi kekamar Rere setelah mendapat persetujuan dari orang tua Rere.


"tidak perlu!" tolak Regan.


"biarkan adikmu ikut" tegas Rian mau tak mau Regan membiarkan Dena mengikuti nya.


_Kamar Rere.


Ceklek!


"Loh kalian ngapain disini?" tanya Rere yang membuka pintu dengan keadaan sudah wangi walau masih berwajah pucat.


"Kita perlu bicara re!" tekan Dena melihat wajah kebingunggan Rere.


"dia juga?" Tanya Rere melirik Regan ragu.


"Ya!" tegas Regan.


"Baiklah! silahkan masuk" kata Rere membuka lebar pintu kamarnya.


"untung gue udah mandi" batin Rere.


Kamar Rere tak seluas kamar Regan dan Dena jadi tak ada kursi atau sofa dikamar nya tempat bersantai kecuali satu kursi rias dan kursi belajar tapi agar lebih praktis Rere mengambil duduk ditepi ranjang disusul Regan dan Dena di sisi kanan kirinya membuatnya duduk ditengah-tengah mereka.


Rere tiba-tiba merasa firasat yang buruk apalagi mengingat kejadian semalam.


"Regan" Lirih Rere menegok Regan takut-takut.


"Kita akan menikah nanti sore selepas Ashar!" Regas Regan.


"Hah?" pekik Rere terkejut.


"Kamu harus bertangung jawab" kata Regan menatap datar Rere.


"gak kebalik kak?" celetuk Dena yang duduk disamping Rere.


"Kamu diam!" Tekan Regan menatap tajam Dena.


"oke" sahut Dena menutup mulutnya dengan tangan sebelum Regan marah.


"Maksudnya apa? tanggung jawab? emang aku ngelakuin apa Regan kan aku cuma cium kamu aja"


Rere merasa kalang kabut dia memang mau menikah dengan Regan tapi tak secepat ini.


"Cuma cium lalu itu darah apa?" batin Regan binggung,Rere mendengar pikiran Regan ikut binggung.

__ADS_1


"What!? lo nyium kak regan?" pekik Dena terkejut.


"Dena!" bentak Regan kesal.


"oke oke maaf!"


"apapun itu kita harus menikah nanti sore!" tegas Regan tak ingin diganggu gugat.


"tapi_


"kalaupun kamu menolak kita tetap akan menikah kelak jadi lebih baik hari ini saja" tekan Regan memotong perkataan Rere.


"Di jodohkan? berarti mimpi itu benar-benar nyata, jika begitu bisa jadi gue bakal diselingkuhin? arghhh tidak akan gue biarin" batin Rere.


Rere terdiam ini memang bukan termasuk rencananya tapi bukan berarti dia akan menyia-yiakan kondisi ini, Dena diam binggung harus apa untuk membantu Rere karena ia berpikir sahabatnya itu tak mau dan Regan tetap setia menatap Rere menunggu jawaban yang diharap sesuai keinginannya.


"Den! bisakah kamu keluar sebentar" seru Rere menegok ke arah Dena,


"gak mau!!" kata Dena menolak.


Regan menatap tajam mau tak mau Dena pun keluar setelah ia mendapat tatapan tajam dari kakaknya seakan seakan ingin menguburnya hidup-hidup jadi lebih baik ia menuruti keinginan Rere.


"jadi?"kata Regan menunggu jawaban Rere menatap pintu yang tertutup dari luar oleh Dena.


"aku mau menikah sama kamu, tapi" kata Rere mengarahkan tatapannya ke Regan "kamu harus tanda tangani surat perjanjian pra nikah yang aku buat!" lanjutnya.


"saya menolak menikah kontrak!" kata Regan datar menaikan nada bicaranya.


"bukan! bukan menikah kontrak Regan!" kata Rere cepat meraih tangan Regan bangkit mengajaknya mendekati meja belajar.


"baca!" seru Rere.


Regan menurut membaca surat Perjanjian pra nikah sesuai keinginan Rere.


Surat itu sudah diketik ulang dan di buat menjadi dua rangkap serta materai yang sudah di taruh agar sah secara hukum.


"Saya merasa surat ini merugikan saya secara sepihak" kata Regan setelah membaca surat itu apa lagi ada poin dimana ia harus membagi hartanya untuk Rere baiklah itu tak masalah pikirnya dan paling parah ia tidak boleh mengugat cerai apa-apaan ini pikirnya bagaimana kalau Rere yang berselingkuh? tapi sudahlah ia juga tak ada niat untuk bercerai.


"sebenarnya untuk berjaga-jaga jadi aku buat itu semua ketika ingin menikah suatu hari nanti dan ternyata hari itu datang dan hari itu adalah sekarang" jelas Rere santai melangkah ke ranjang dan duduk ditepi seperti tadi.


"baik saya turuti keinginan kamu!" kata Regan tanpa berpikir panjang menyetujui langsung menanda tangani surat itu.


"bagus!" batin Rere senang.


Cup! "Terimakasih sayang!" kata Rere memberi kecupan dipipi Regan tanpa malu.


"gadis ini benar-benar" batin Regan.


Rere hanya tersenyum, Regan tak tahan untuk tidak mengusap rambut Rere dengan sayang.


"tapi saya minta satu hal sama kamu" kata Regan serius.

__ADS_1


"apa?"


"kamu harus jadi istri yang baik untuk saya" kata Regan menatap Rere.


"iya tentu saja"sahut Rere antusias memeluk Regan tanpa sungkan.


" Saya cinta kamu Re"kata Regan membalas pelukan Regan.


"Aku juga cinta kamu" balas Rere manja.


Regan sadar bahwa ia mencintai Rere setelah beberapa hari merenung diam-diam memikirkan Rere setiap malam menjelang tidurnya,selalu merasa nyaman serta kejadian semalam ia benar-benar sadar ia sangat ingin memiliki Rere dan sebagai pria dewasa ia tak mungkin bodoh dalam memahami akan cinta tapi bukan berarti dia pernah mencintai ini pertama baginya dan semoga juga yang terakhir pikirnya.


"He he he"


Rere terkekeh memikirkan kejadian semalam ia pikir Regan menjawab hanya melantur ternyata memang sungguh-sungguh.


"kenapa?" tanya Regan tunduk mengintip wajah Rere yang terbenam didadanya.


"gak papa kok, aku ketawa cuma karena ingat kejadian semalam" kata Rere jujur mendongah menatap wajah Regan.


"kejadian semalam? apa yang kamu lakukan sebenarnya?" Regan menatap Rere penuh selidik.


"Aduhh!! kok gue salah ngomong sih" batin Rere salah tingkah melepaskan pelukannya.


"anu..itu aku cuma cium sama pelukan kamu tahu itu" kata Rere tergagap kaku.


"benarkah itu?" tanya Regan menatap Rere curiga.


"iya beneran" kata Rere memelas menatap Regan.


"lalu, kenapa baju saya terlepas? dan kenapa ada noda darah diseprai ranjang?ayo jawab!" tekan Regan menuntur jawaban.


"ihh kamu jangan natap aku kaya gitu dong akunya kan jadi takut!" kata Rere merengek menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Regan tersenyum tipis meraih pergelangan tangan Rere agar bisa melihat wajah cantik gadis itu.


"iya maaf, jangan ditutup wajahnya" kata Regan melunak kembali menarik pelan pergelangan tangan Rere, dan Rere menurutin.


"sekarang coba jelaskan kenapa?"


"tapi kamu janji jangan marah!" cicit Rere menatap Regan ragu-ragu.


"iya tidak marah" kata Regan tersenyum meyakinkan.


"sebenarnya" Rere menatap Regan "aku sama Dena memang merencanakan semua kejadian semalam orang tua kamu juga bolehin kok, terus pas udah mau keluar kamar kamu ada suara suara didekat tangan mana gelap lagi jadi kan aku takut karena gak berani keluar aku masuk lagi deh kekamar kamu terus tidur disamping kamu" kata Rere mengigit bibirnya pelan.


"Lalu baju dan noda darah juga termasuk dalam idenya?" tanya Regan mengangkat sebelah alisnya.


"kalau baju memang aku yang buka tapi kalau darah itu karena aku halangan, maaf ya aku gak maksud ngotorin ranjang kamu" lirih Rere tunduk tak berani melihat Regan.


"Huhh" Regan menghembuskan nafas panjang entah ia harus marah atau apa.

__ADS_1


"Ya sudah"kata Regan tak ingin memperpanjang masalah.


Bersambung...


__ADS_2