
Karena Rere tak bisa menentukan pilihan jadi Regan mengambil insiatif sendiri.
Cittt!
Mobil terhenti tepat disebuah hotel bintang lima,
"Wahh!! apa kita akan berbulan madu?" tanya Rere mengukir senyum manis dibibirnya.
"Tidak!" jawab Regan lalu keluar mobil lebih dulu meninggalkan Rere dimobil dan berbicara pada seseorang yang seperti nya cukup penting kalau dilihat dari pakaiannya pikir Rere.
Kurang dari lima menit Regan kembali ke mobil dan membuka pintu tepat didekat kursi Rere.
"Ayo sayang kita masuk" kata Regan membantu Rere keluar dari mobil dan mengajaknya masuk ke hotel.
"Loh! barang kita gak keluarin dulu kah?" tanya Rere menoleh kebelakang.
"tidak perlu khawatir ada seseorang yang mengurusnya untuk ku" ucap Regan santai, walau sedikit ragu Rere tetap menuruti Regan melangkah masuk ke hotel.
Regan bersama Rere dengan santai masuk ke hotel saat melalui lobi Rere menghentikan langkahnya.
"kita gak kesana dulu kah?" tanya Rere menunjuk meja resepsionis.
"Tidak perlu sayang! ayo" kata Regan.
"beneran?" tanya Rere kembali ragu-ragu.
"apa kau tidak mempercayaiku?"ucap Regan menatap Rere.
" bukan begitu! baiklah kita masuk saja sekarang "seru Rere, Rere hanya melangkah mengikuti langkah Regan yang menuntunya.
Ting!
" loh! kamu tekan tombol 20 gak salah kah?"tanya Rere "ini serius bukanya semakin tinggi itu semakin mahal ya? tapi sudahlah istri yang baik itu cukul menurut saya" batinnya.
"sudah sayang jangan banyak bertanya" ujar Regan kembali berjalan menyusuri ruang begitu keluar dari lift.
Rere sedikit heran saat di lantai dua puluh itu tidak banyak kamar yang ada hanya lima kamar saja dan Regan menuntunnya jalan kekamar tepat disisi lain seperti sangat spesial ditengah-tengah. bernomor dua ratus sembilan belas.
Yang membuat Rere semakin cengong bukan pin pintu atau kartu akses yang digunakan Regan melainkan sensor matanya.
"Woww!!" Rere merasa sangat takjub karena menatap Regan tak percaya.
"sini sayang kamu juga harus punya akses" seru Regan dan tak tahu apa dilakukannya Rere hanya menurut semua yang diperintahkan Regan.
Rere diminta Regan untuk menatap suatu sensor disamping pintu tak butuh lama pintu benar-benar terbuka.
"ha ha ha! ini keren" kata Rere takjub.
"ini kamar hotel atau apartemen?" tanya Rere cengong melihat isi ruangan sangat luas,nyaman dan pasti sangat menyenangkan mata.
walau ruangan itu tak memiliki ruangan memakai pintu lain disana tapi Rere cukup takjub oleh seluk beluknya yang sangat dirancang khusus dipisah akan sekat-sekat.
__ADS_1
"ini hotel punya kamu ya" celetuk Rere asal tebak.
"ya kamu benar sayang!" kata Regan tersenyum menarik Rere duduk disofa.
"Hah!? yang bener kamu! aku cuma asal tebak loh tadi" pekik Rere tak percaya.
"dan hebatnya tebakkanmu benar" ucap Regan tersenyum mengusap kepala Rere.
"Oh Tuhan! seberapa kaya suamiku" gumam Rere linglung.
"tidak usah kamu pikirkan itu hanya membuat kamu pusing saja lebih baik kamu pesan sesuatu untuk kita makan atau kamu ingin memasak disana ada dapur mini" kata Regan menunjuk sisi ruangan lain.
"sampai dapurpun ada?" gumam Rere.
"sudah jangan banyak melamun, lakukan saja sesukamu, saya mau sholat dzuhur dulu Cup!" kata Regan memberi kecupan dikening Rere dan meninggalkannya disofa.
Dari pada memesan makanan Rere lebih memilih untuk memasak, mengunakan sesuatu sebagaimana mestinya.
Karena cukup lelah Rere akhirnya memutusnya hanya memasak makanan simple seperti tumis siput dan mengoreng ayam yang sudah dipotong tersedia dikulkas.
"Kamu pintar masak ternyata"kata Regan tiba-tiba.
"Astagah!!" pekik Rere terkejut memegang dada.
"dari kapan kamu di situ" kata Rere menatap Regan tajam.
"emm mungkin lima atau sepeluh menit yang lalu" sahut Regan santai meraih makanan yang sudah dipindahkan pada wadah oleh Rere dan dibawanya ke meja makan mini yang cukup memuat hingga emoat orang.
Rere membantu Regan menaru nasi dan lauk dipiring Regan.
"Silahkan makan!" kata Rere duduk di kursi berhadapan dengan Regan.
Dengan lambat Rere mengunyah makanannya seraya memerhatikan Regan yang menyuap masakan kemulut.
"Sayang berhenti menatapku seperti itu! bagaimana pun masakanmu pasti akan saya makan dan kamu harus berpuas diri ini cukup menyenangkan lidah saya"kata Regan menghentikan makannya.
" he he he maaf! silahkan lanjut makannya"kata Rere, Mereka pun akhirnya makan dengan hening.
"sudah biar saya yang cuci" kata Regan menghentikan tangan Rere yang membereskan piring kotor.
"tapi_
" jangan suka membantah"
"emm baiklah" kata Rere pasrah melangkah ke arah sofa duduk seraya menunggu Regan mencuci piring.
Sambil menunggu Rere mencoba meraih ponsel ternyata ada tiga pesan masuk dari Dara.
....
*Nenek Lampir_
__ADS_1
|Enak ya tinggal di rumah suami ha ha ha! pasti dong ya, semoga kau tak menjadi beban!"
|rumah terasa tentram tanpa ada kau disini!
|Gue senang akhirnya parasit sadar diri!"
...
Rere merasa geram membanting ponseknya ke sofa,
"Awas lo nenek lampir!!! bakal gue balas lo" gumam Rere mengertakan giginya, Rere terdiam menenangkan diri nya.
"kamu kenapa Sayang?" tegur Regan yang datang baru selesai mencuci piring.
"ah? gak papa kok" jawab Rere menutupi rasa kesalnya.
"emm baiklah" kata Regan mendudukan diri rapat disamping Rere dan merangkulnya.
"apa kamu senang disini?" tanya Regan menoleh seraya satu tanganya memainkan rambut Rere.
"Iya seneng banget! walau gak luas tapi disini lengkap kaya rumah sungguhan tahu" kata Rere antusias melupakan rasa kesal sebelumnya.
"Syukurlah kalau begitu! setidaknya selama masa pembangunan mansion kita akan tinggal disini, kamu tidak keberatan kan sayang" kata Regan menatap wajah Rere memastikan.
"serius kita tinggal disini?" tanya Rere melotot menoleh ke Regan.
"ya, jika kamu tidak keberatan" balas Regan.
"argh! aku gak bakal keberatan kok" kata Rere tersenyum lebar.
"baiklah! kalau kamu bosan katakan saja pada saya dan jika kamu mau menginap di mansion Keluarga besar wijaya katakan saja jangan sungkan ya" kata Regan menarik Rere masuk kedalam dekapannya.
"iya, Sayang terima kasih! kamu suami yang sangat baik" ucap Rere membalas pelukan Regan.
"tentu, hanya untukmu" kata Regan.
Rere dan Regan betah duduk disofa saling berpelukan merasakan rasa hangat dan nyaman dari tubuh satu sama lain.
"Sayang, apa kamu masih datang bulan?" tanya Regan hati-hati.
".."
Hening Regan dan mendapat jawaban dari Rere, dengan perlahan Regan mengitip wajah Rere yang terbenam didadanya.
"tidur?hem" gumam Regan tersenyum tipis terlalu nyaman sampai tak sadar akan deru nafas teratur dari Rere pikir nya.
Pelan-pelan Regan mengangkat tubuh Rere dan memindahkannya ke ranjang yang berada tak jauh dari sofa hanya terpisah akan sekat.
Setelah memperbaiki posisi tidur Rere, Regan pun ikut membaringkan diri dan menyusul Rere untuk tidur siang.
Bersambung ...
__ADS_1